TULISAN 19. PENYAKIT ASTHMA KAMBUH SAAT HAMIL

Penyakit asma selama kehamilan adalah kondisi gangguan pernafasan paling umum yang dapat mempengaruhi fungsi paru-paru selama masa kehamilan. Dari hasil studi epidemiologi penyakit telah diketahui bahwa sebanyak 8 persen wanita hamil di seluruh dunia menderita asma. Banyak wanita hamil yang khawatir tentang apakah kehamilan akan memperparah penyakit asma mereka dan apakah penyakit asma dapat membahayakan janin dalam kandungan. Dengan terapi asma yang tepat dan teratur, kebanyakan wanita hamil dapat bernapas dengan mudah, menjalani kehamilan yang normal, dan melahirkan bayi yang sehat. Secara keseluruhan, resiko penyakit asma yang tidak terkontrol jauh lebih besar daripada resiko mengonsumsi obat-obatan untuk mengendalikan penyakit asma dalam kehamilan.

 

Terapi asma selama kehamilan yang paling memberikan hasil terbaik adalah ketika seorang wanita hamil menerima perawatan medis rutin untuk mengobati asmanya di dokter penyakit dalam dan kontrol kehamilan secara teratur ke dokter kandungan. Ada baiknya sebelum hamil, wanita yang menderita asma mendiskusikan kondisi penyakit asma mereka pada dokter penyakit dalam/ dokter kandungan. Perlu diingat bahwa semua wanita hamil harus melanjutkan pengobatan penyakit asma mereka. Penghentian obat asma pada wanita yang sering kambuh asmanya maka dapat menimbulkan bahaya bagi wanita hamil dan janin dalam kandungannya.

 

Tingkat keparahan asma selama kehamilan bervariasi dari satu wanita ke wanita lain. Selama kehamilan, penyakit asma dapat memburuk/ memberat pada 30% wanita hamil, membaik pada 30% wanita hamil, dan tetap stabil alias sama saja pada 30% wanita hamil. Bahasa gampangnya ya belum jelas apakah asma dapat makin parah atau makin sembuh saat wanita sedang hamil. Terdapat beberapa kondisi yang terjadi pada wanita hamil dengan asthma yaitu:

  1. Di antara wanita yang penyakit asmanya memburuk/ memberat selama kehamilan, ternyata terdapat perbaikan gejala asma antara minggu ke-29 dan ke-36 kehamilan.
  2. Asma umumnya membaik pada bulan terakhir kehamilan, jadi semakin dekat melahirkan maka asmanya biasanya makin jarang kambuh.
  3. Proses persalinan pada wanita hamil yang telah kontrol penyakit asma secara teratur ke dokter penyakit dalam maka penyakit asmanya jarang kambuh selama proses bersalin dan mengejan.
  4. Tingkat keparahan gejala asma selama kehamilan akan terjadi berulang pada kehamilan berikutnya. Artinya bila saat hamil yang sekarang penyakit asmanya sering kambuh maka pada kehamilan berikutnya dapat serupa dengan keparahan pada kehamilan yang sekarang.

 

Faktor-faktor yang meningkatkan atau mengurangi risiko serangan asma selama kehamilan tidak sepenuhnya jelas. Kemungkinan serangan ini tidak konstan/ tidak terjadi terus menerus sepanjang kehamilan; serangan asma tampaknya paling sering antara minggu 17 hingga 24 kehamilan. Penyebab untuk pola ini tidak diketahui, diduga karena beberapa wanita hamil berhenti menggunakan obat pengontrol asma disebabkan oleh rasa takut mereka menggunakan obat-obatan selama hamil. Padahal penghentian obat asma pada wanita yang sering kambuh asmanya dapat menimbulkan bahaya bagi wanita hamil dan janin dalam kandungannya.

 

Wanita yang menderita asma memiliki sedikit peningkatan resiko untuk terjadinya komplikasi kehamilan meskipun sebab-sebabnya belum  diketahui sampai saat ini. Wanita hamil dengan penyakit asma sedikit lebih mungkin untuk memiliki satu atau lebih komplikasi kehamilan sebagai berikut:

  1. Darah tinggi pada kehamilan/ pre-eclampsia.
  2. Kelahiran prematur/ kurang bulan.
  3. Lebih sering terpaksa dilakukan operasi sesar untuk menyelamatkan ibu/ janin dalam kandungannya.
  4. Berat badan bayi yang baru lahir lebih kecil daripada bayi wanita yang tidak asma.

 

Namun, sebagian besar wanita dengan asma dan bayi mereka TIDAK memiliki komplikasi selama kehamilan. Kontrol teratur untuk pengobatan penyakit asma yang baik selama kehamilan dapat mengurangi risiko untuk terjadinya komplikasi selama kehamilan dan persalinan.

 

Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengendalikan faktor lingkungan yang dapat memperburuk penyakit asma dan memicu serangan asma, antara lain:

  1. Hindari paparan alergen tertentu yang diketahui menyebabkan gejala asma wanita hamil, terutama bulu hewan peliharaan (seperti bulu atau bulu), debu rumah, dan iritasi nonspesifik, seperti asap rokok, parfum yang wanginya kuat bingits, dan berbagai zat polutan.
  2. Tutup kasur dan bantal dengan penutup plastik atau pakai seprei anti tungau untuk mengurangi paparan tungau dan debu.
  3. Wanita hamil tidak boleh merokok dan jangan mengizinkan siapapun termasuk suami untuk merokok di lingkungan sekitar rumah. Suami kalo mau merokok maka perginya ke terminal atau lapangan bola saja.
  4. Wanita yang akan hamil selama musim hujan/ musim pancaroba sebaiknya mendapatkan suntikan flu di dokter penyakit dalam; vaksinasi flu tidak berbahaya bagi kehamilan. Vaksinasi flu diberikan 1 tahun sekali.