TULISAN 162. DETEKSI KELAINAN JANIN – NIPT (BAGIAN KE 3, TAMAT)

NON INVASIVE PRENATAL TESTING. Dewasa ini sedang popular suatu bentuk screening (skrinning) terhadap kelainan bawaan janin berupa skrinning trisomy 21 (down syndrome) yang dikenal dengan sebutan test NIPT. Test NIPT ini merupakan bentuk skrinning terhadap kelainan janin dengan cara mengambil sampel darah ibu hamil. Dasar pemikiran dari test ini adalah bahwa dalam peredaran darah ibu hamil mengandung pecahan-pecahan dari DNA janin yang dikenal dengan cfDNA atau cell free DNA, yaitu pecahan DNA yang tidak berada di dalam inti sel, tetapi berada di dalam aliran darah ibu hamil. Jadi secara ilmiah NIPT adalah metode penentuan risiko bahwa janin akan dilahirkan dengan kelainan genetik tertentu. Pengujian ini menganalisis fragmen-fragmen kecil DNA (pecahan-pecahan DNA) yang bersirkulasi dalam darah wanita hamil. Fragmen-fragmen kecil dari DNA ini biasanya mengandung kurang dari 200 pasangan basa/ base pairs pembentuk DNA dan baru muncul ketika sel-sel yang mengandung DNA tersebut mati dan hancur. Kemudian isinya, termasuk DNA, dilepaskan ke dalam aliran darah.

Pada pemeriksaan NIPT yang merupakan skrining prenatal (sebelum janin lahir), akan melihat DNA dari plasenta janin dalam sampel darah ibu hamil untuk mengidentifikasi apakah ibu hamil tersebut berisiko tinggi melahirkan janin dengan kelainan genetik. Namun, skrining seperti NIPT tidak dapat menentukan dengan pasti apakah janin benar-benar bakalan memiliki kelainan kromosom, NIPT hanya menyatakan adanya kemungkinan janin akan memiliki kondisi kelainan bawaan tertentu (trisomy). Tetapi meskipun tidak dapat memastikan apakah janin dalam kandungan bakalan memiliki kelainan genetic trisomi, pemeriksaan NIPT ini sangat akurat dengan tingkat akurasi 97-99% untuk 3 kelainan kromosom (trisomy) yaitu trisomy 21 (down syndrome), trisome 18 (edward syndrome) dan trisomy 13 (patau syndrome). Menurut penelitian dari dokter Karoline Freeman pada tahun 2016, NIPT memiliki akurasi yang sangat tinggi pada down syndrome, Edward syndrome, dan patau syndrome, tetapi tetap tidak bisa mencapai akurasi 100% sehingga tak bisa dijadikan patokan diagnosis, hanya bisa digunakan untuk kepentingan skrinning saja. Sensitifitas NIPT terhadap deteksi down syndrome adalah sebesar 99.3%. test dikatakan sensitive bila dapat mendeteksi penyakit pada seseorang sebanyak-banyaknya. Artinya dalam pemeriksaan 100 orang ibu hamil maka yang ternyata benar-benar memiliki janin down syndrome adalah sebanyak 99 orang.

Hasil skrining NIPT dapat membantu wanita hamil dan dokter kandungan dalam menentukan langkah selanjutnya, termasuk apakah akan melakukan chorionic villus sampling (CVS) atau amniocentesis. Kedua tes genetic yang sifatnya invasive ini akan menganalisis bahan genetik janin sendiri secara langsung dalam rahim, yang dikumpulkan dari cairan ketuban atau plasenta, untuk mengetahui dengan pasti 100 persen apakah janin memiliki kelainan kromosom. Namun karena test tersebut sifatnya invasive maka dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran akibat test tersebut.

Semua skrinning dengan cara NIPT lebih ditujukan utamanya untuk deteksi ada tidaknya gangguan kromosom pada janin yang paling sering, yaitu antara lain:

  1. Trisomi 21 (sindrom Down)
  2. Trisomi 18 (sindrom Edwards)
  3. Trisomi 13 (sindrom Patau)

Namu NIPT juga dapat mendeteksi golongan darah rhesus dan jenis kelamin janin dalam rahim. Bahkan saat ini sedang dikembangkan pemeriksaan NIPT untuk mendeteksi adanya kanker pada ibu hamil.

Skrinning NIPT dapat dilakukan kapan saja setelah usia 9 minggu kehamilan. Dan ini menunjukkan bahwa NIPT dapat diperiksa lebih awal daripada pemeriksaan prenatal atau tes diagnostik lainnya. Sebagai perbandingan berikut test-test diagnostic lainnya:

  1. USG nuchal translucency dilakukan antara usia kehamilan 11-14 minggu
  2. CVS dilakukan pada usia kehamilan 10-13 minggu
  3. pemeriksaan quadruple test (AFP, free beta HCG, estriol dan inhibin A) dilakukan pada umur kehamilan 14-22 minggu
  4. amniosentesis biasanya seringkali dilakukan pada umur kehamilan 15-20 minggu.

Seiring dengan berkembangnya dunia kedokteran maka pemeriksaan skrinning deteksi kelainan janin dulunya hanya dilakukan pada wanita hamil berusia 35 tahun atau lebih, tapi saat ini berdasarkan rekomendasi dari persatuan dokter kandungan Amerika Serikat maka dianjurkan dilakukan pada semua wanita hamil. Tapi ya itu tadi, mesti siap biaya mahal.

=TAMAT=

TULISAN 161. DETEKSI KELAINAN BAWAAN JANIN (DOWN SYNDROME, BAGIAN 2)

Di Indonesia sering kali saya temui wanita hamil dengan usia lebih dari 35 tahun. Padahal sebetulnya ini sih resikonya lebih besar daripada wanita hamil yang berusia <35 tahun. Resiko apa sih yang dimaksud ? resiko mengalami kehamilan dengan kondisi janin down syndrome atau trisomy lainnya. Dari seorang dokter pakar luar negeri yang bernama Dr. Hook EB, pernah dibuat semacam table dan dia menyatakan bahwa wanita usia lebih dari 35 tahun bila hamil maka terdapat resiko janinnya mengalami down syndrome sekitar 1:250. Artinya dari 250 wanita hamil maka ada 1 wanita hamil yang janinnya terkena down syndrome. Down syndrome itu apa sih ? down syndrome itu adalah suatu kelainan/ gangguan kecerdasan yang berat. Di Amerika Serikat pada wanita hamil usia 35 tahun atas, dokter kandungannya selalu menawarkan untuk dilakukan amniocentesis. Setelah itu dilakukan pemeriksaan karyotyping. Sudah tau kan apa itu amniocentesis ? coba lihat di tulisan bagian ke 1. Ini linknya https://www.cucuk-spog.com/?p=1215

Jadi ringkasnya kalo wanita hamil resiko rendah maka di Amerika serikat ditawarkan untuk periksa kadar hormone alfa feto protein (AFP). Gak ngerti juga AFP ? ya udah lihat lagi di link ini https://www.cucuk-spog.com/?p=1215. Sedangkan wanita hamil resiko tinggi ditawarkan amniocentesis. Pada wanita hamil dengan kemungkinan janinnya akan mengalami down syndrome maka akan dilakukan namanya quadruple tes (test 4 hormon) diantaranya hormone AFP, hormone free beta HCG, hormone estriol, dan hormone inhibin. Bila didapatkan kadar hormone AFP rendah, lalu hormone free beta HCG rendah, hormone estriol rendah serta inhibin tinggi maka kemungkinan janin akan mengalami down syndrome (trisomy 21) atau trisomy lainnya sebesar 60%. Bila wanita hamil tersebut berusia lebih dari 35 tahun maka angka prediksinya meningkat menjadi 75%. Masih ada kemungkinan janinnya normal sebesar 25-40%. Tapi bila parameter hormone sudah menunjukkan positif, maka wanita hamil tersebut akan ditawarkan untuk menjalani prosedur amniocentesis dan lanjut ke karyotyping (periksa kromosom).

Skrinning down syndrome dilakukan sejak hamil trimester 1 yaitu antara 11-14 minggu. Adapun yang biasa dilakukan oleh dokter kandungan Indonesia dan seluruh dunia antara lain menggabung pemeriksaan USG nuchal translucency dengan pemeriksaan hormonal free beta HCG dan PAPP-A. kalo di amerika serikat, pemeriksaan nuchal translucency dilakukan dengan catatan bahwa pasien bersedia untuk melanjutkan ke pemeriksaan hormonal dan pemeriksaan yang lebih invasive yaitu amniocentesis (lanjut karyotyping). Sebetulnya ada pemeriksaan yang lebih akurat lagi daripada pemeriksaan hormonal untuk deteksi kelainan trisomy janin yaitu pemeriksaan NIPT (non invasive prenatal testing). Biayanya lumayan mahal yaitu antara Rp 7-15 juta.

TULISAN 159. DETEKSI DINI KELAINAN BAWAAN JANIN (NEURAL TUBE DEFECT, BAGIAN 1)

NEURAL TUBE DEFECT (CACAT SELUBUNG SYARAF JANIN)

Dalam postingan kali ini dokter cucuk kiuttt hello kitty ingin memberikan edukasi kepada para bumil Indonesia seputar kelainan bawaan janin yaitu neural tube defect dan down syndrome (keterbelakangan kecerdasan). Ini postingan yang sangat penting bagi ibu hamil, tetapi memang butuh biaya yang lumayan mahal.

Banyak pasien hamil yang bertanya pada saya apakah janinnya baik-baik saja pada saat control hamil. Sebetulnya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang super duper bagus banget dan sangat challenging (istilah keren bagi penggemar drama korea). Perlu diketahui bahwa kelainan janin khususnya neural tube defect (cacat selubung syaraf) dan down syndrome justru sebagian besar terjadi pada ibu hamil yang justru tidak memiliki factor resiko apa-apa yaitu belum pernah mengalami janin cacat bawaan. Sehingga dokter kandungan Indonesia secara rutin dan otomatis selalu melakukan deteksi dini terhadap 2 kelainan ini. Tapi harus dimaklumi bahwa hal tersebut tidak selalu bisa berhasil dengan baik karena janin itu punya sifat suka main-main di dalam Rahim ibunya sehingga sulit sekali memperoleh gambaran yang ideal untuk deteksi. Tapi jangan kuatir, bagi ibu hamil yang gagal terdeteksi, angka kelainan tersebut hanya berkisar 3% saja dari total jumlah seluruh ibu hamil di dunia. Banyak-banyak berdoa sebelum dan selama hamil, jangan lupa jangan pernah berperasangka buruk terhadap tenaga kesehatan dan rumah sakit karena dengki justru bawa penyakit dan musibah, biar gak kualat.

Deteksi dini terhadap neural tube defect (NTD) dan down syndrome (DS) tidak dapat menentukan secara pasti diagnosis bahwa janin terkena penyakit tersebut tetapi lumayan memberikan pertimbangan dan kewaspadaan bagi wanita hamil yang memang memiliki factor resiko janinnya terkena kelainan tersebut. Maksudnya, bagi wanita hamil yang sudah pernah mengalami janin dengan kelainan tersebut sebaiknya meminta untuk skrinning atau deteksi dini terhadap kelainan tersebut bila hamil lagi.

Di Amerika Serikat, kelainan NTD merupakan kelainan terbanyak nomor 2 dari semua kelainan bawaan janin, dan kelainan ini sifatnya fatal bagi janin. 95% kelainan NTD ini justru terjadi pada wanita hamil yang tidak ada riwayat keluarganya mengalami penyakit ini sebelumnya (tidak ada factor resiko). Dokter kandungan akan melakukan pemeriksaan baik berupa pemeriksaan hormone alpha feto-protein (AFP) juga pemeriksaan USG. Lebih invasive lagi akan melakukan tindakan amniocentesis. Amniocentesis itu adalah tindakan melubangi Rahim dengan jarum untuk mengambil cairan ketuban untuk diperiksa di laboratorium.

APA SIH PEMERIKSAAN ALFA FETO PROTEIN ITU ?

Pemeriksaan AFP dilakukan pada umur kehamilan 14-22 minggu dengan cara mengambil darah ibu hamil. Pemeriksaan ini nantinya akan memberikan prediksi prosentase kemungkinan janin akan mengalami kelainan NTD. Pemeriksaan AFP ini seringkali dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan USG kehamilan untuk deteksi kelainan janin. Bila kadarnya meningkat maka kemungkinan janin akan mengalami NTD dalam kehamilan ini. Sensitivitas pemeriksaan ini lumayan bagus yaitu mencapai 90% artinya bila saat diperiksa hasilnya kadar AFP dalam batas normal maka janin akan betul-betul normal (tidak akan terkena NTD) sebesar 90%, masih ada kemungkinan janin terkena NTD sebesar 3-6%. Hal-hal yang dapat bikin pemeriksaan AFP ini tidak akurat antara lain misalnya umur kehamilan tak pasti (sering pada ibu hamil yang tak cek USG ke dokter kandungan pada saat test hamil positif garis dua), janin kembar, dan janin mati. 1 diantara 33 wanita hamil yang saat ditest kadar hormone AFP nya meninggi maka akan terkena NTD pada janinnya.  Dari persatuan dokter kandungan amerika serikat ACOG menganjurkan pemeriksaan hormone ini pada usia kehamilan yang memasuki trimester 2 yaitu antara 15-28 minggu.

PEMERIKSAAN NTD DENGAN MENGGUNAKAN USG

Pemeriksaan USG pada skrinniing NTD seringkali dilakukan bila didapatkan kadar AFP yang tinggi pada kehamilan. Bila dokter kandungan curiga terdapat ada NTD pada janin pada saat USG  maka kadang-kadang dokter kandungan akan melakukan rujukan USG ke rumah sakit pusat pendidikan untuk konfirmasi terhadap temuan tersebut dan juga akan dilakukan pemeriksaan dengan jauh lebih mendetail terhadap janin dalam Rahim oleh departemen kandungan rumah sakit pendidikan. Bila ada kelainan yang nyata dan berat seperti anencephaly (tempurung kepala tak ada) atau kelainan tulang belakang maka biasanya muga disertai dengan berbagai kelainan yang lain misalnya bentuk tulang kepala tak normal (lemon shape), ventrikulomegali di otak janin (ada cairan diotak janin), ukuran kepala yang kecil, otak kecil/ cerebellum yang melebar dan cisterna magna yang buntu (banana sign). Bingung ? makanya kalo USG itu pergilah ke dokter kandungan sehingga akan makin pinter. Dokter kandungan itu yang begini begini memang dipelajari di sekolahnya. Ditangan dokter kandungan maka alat USG itu akan sangat bermanfaat bagi pasien, setidaknya 35% kelainan bawaan bisa terdeteksi oleh dokter kandungan. Looo dokter kandungan kan mahal. Siapa bilang ? justru murah karena pasien bayar USG dan dapat manfaatnya karena USG dilakukan oleh dokter kandungan. Coba bandingkan bila para ibu hamil USG sana sini bolak balik tapi gak dapat manfaatnya karena USG bayar tapi yang ngerjakan USG bukan oleh ahlinya (dokter kandungan), maka itu namanya buang-buang duit.

KRITERIA WANITA HAMIL YANG BERESIKO JANINNYA KENA NTD

Terdapat beberapa factor resiko dimana ada kemungkinan wanita hamil mengalami janin dengan NTD, diantaranya:

  1. Riwayat keluarga dengan penyakit NTD.
  2. Penyakit sistemik seperti diabetes (DM).
  3. Penyakit cacat genetic lainnya dalam keluarga.
  4. Ras suku bangsa tertentu.
  5. Adanya kelainan imunologis dalam tubuh wanita hamil berupa adanya peningkatan produksi anti-folat receptor antibodies. Tapi ini sepertinya gak bisa dideteksi di Indonesia.

BILA HORMON AFP MENINGKAT, TAPI USG BILANG NORMAL, MAKA APA YANG HARUS DILAKUKAN ?

Dokter kandungan akan menawarkan pemeriksaan yang lebih invasive yaitu pemeriksaan amniocentesis terutama bila hasil USG menunjukkan normal-normal saja. Nanti akan diperiksa ulang kadar hormone AFP dalam cairan ketuban janin, bila kadarnya meningkat maka kemungkinan besar janin akan terkena NTD dan mungkin sudah ada NTD yang belum terlihat dengan USG. Kemudian akan dilanjutkan dengan pemeriksaan karyotyping bila pasien mau. Sekian.

Bersambung keĀ  bagian 2 tentang DOWN SYNDROME. Nantikan postingan saya berikutnya.