TULISAN 151. UPAYA IBU HAMIL MENGHADAPI PANDEMIK COVID 19

Saat ini banyak orang-orang panic menghadapi serangan virus corona. Kita juga lihat di berbagai media social dimana banyak orang memborong hand sanitizer, masker, tissue antiseptic, dll. Tetapi Nampak pula fenomena yang sangat jarang terjadi akibat serbuan virus corona yaitu sayuran hijau seperti brokoli yang kita ketahui tak banyak orang suka malahan sekarang pada habis semua di supermarket maupun pasar tradisional. Wah wah wah… kenapa kok sayuran hijau pada habis semua ya ? Para ahli menyebutkan bahwa sayuran hijau dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sebagaimana juga tentunya seperti olah raga ataupun jus buah-buahan. Walopun demikian, seorang ilmuwan terkenal bernama Marc Pellegrini, seorang dokter ahli penyakit menular dari Walter & Eliza Hall Institute, mengungkapkan bahwa satu-satunya hal yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh adalah vaksin. Vaksin akan meningkatkan kekebalan tubuh untuk mencegah timbulnya infeksi ketika tubuh terpapar dengan zat pathogen seperti virus karena vaksin menimbulkan memori di sel-sel pertahanan tubuh.

 

Sayuran hijau, bersama dengan suplemen, olahraga dan jus, sering disebut-sebut sebagai penguat sistem kekebalan tubuh; tetapi sejauh menyangkut ilmuwan seperti Marc Pellegrini, vaksin adalah satu-satunya hal yang akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda untuk mencegah infeksi. Jangan galau ! Meskipun saat ini tidak ada vaksin untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia untuk mencegah COVID-19, anda dapat membangkitkan atau meningkatkan sistem kekebalan tubuh anda untuk melawan infeksi dengan cara diet seimbang, olahraga teratur, dan tidur.

 

MENGAPA ADA ORANG YANG MEMILIKI SISTEM KEKEBALAN YANG LEBIH BAIK DARIPADA YANG LAIN ?

 

Apa sih yang bakalan terjadi ketika sistem kekebalan anda bertemu virus? Sistem kekebalan tubuh manusia terdiri dari berbagai jenis sel dan molekul, seperti antibodi.

  1. Garis pertahanan pertama adalah apa yang dikenal sebagai sistem kekebalan tubuh bawaan sejak lahir atau antibody alamiah. Setiap sel dalam tubuh manusia telah dipersiapkan untuk membuat interferon – suatu molekul antivirus – yang dapat mendeteksi adanya penyusup dalam tubuh manusia. Sel-sel interferon ini akan mulai beraktivitas sebagai molekul antivirus dengan sistem bawaannya untuk menghentikan replikasi virus yang masuk ke dalam tubuh manusia. Replikasi itu adalah proses menggandakan virus/ memperbanyak virus. Nah… masih ingat omongan Professor Nidhom dari Universitas Airlangga tentang badai sitokin ? Respons bawaan oleh interferon ini, yang langsung muncul begitu ada virus yang masuk dalam tubuh, akan menghasilkan zat yang disebut sitokin, yang menyebabkan demam dan peradangan jaringan ketika sel-sel tubuh mulai mati akibat serangan virus. Hal tersebut merupakan mekanisme alami bagi sel-sel tubuh untuk melakukan mekanisme bunuh diri sehingga sel tersebut akan mati jika sel-sel tersebut tahu bahwa sudah terinfeksi oleh virus. Ada juga sel darah putih, yang dikenal sebagai sel pembunuh alami, yang akan mendeteksi sel-sel mana saja yang terinfeksi dan sel darah putih akan langsung membunuh sel-sel yang terinfeksi tersebut.
  2. Garis pertahanan ke dua terjadi dalam spektrum sel darah putih lainnya seperti monosit, makrofag dan neutrofil yang akan mensurvei lingkungan dan mencoba mengenali adanya suatu infeksi, dan melepaskan hormon kekebalan untuk mencoba menghadapi dan menyiapkan sel-sel lain untuk kemungkinan skenario bahwa sel-sel tubuh yang dicurigai mungkin benar telah terinfeksi.
  3. Garis pertahanan ketiga adalah sistem adaptif, yang membutuhkan beberapa hari untuk menendang para virus jahat itu. Pada sistem pertahanan ketiga ini, sel darah putih seperti sel-T yang mencoba membunuh sel yang terinfeksi, dan sel-B yang menghasilkan antibodi yang dapat menetralisir virus jahat atau melapisi virus jahat dengan zat-zat tertentu sehingga mereka dapat dikenali oleh sel-T yang pada gilirannya akan dimampusin oleh sistem pertahanan tubuh manusia.

 

Masalah dengan virus SARS-Cov-2 yang baru adalah bahwa tubuh manusia tidak memiliki antibodi atau sistem kekebalan adaptif terhadap virus corona model baru ini. Jika sistem kekebalan tubuh manusia tidak dapat menghentikan replikasi virus maka akan menjadi overdrive dan bahkan meningkatkan peradangan, terutama di paru-paru. Inilah yang menyebabkan pneumonia virus. Di sinilah penting bagi sistem pertahanan tubuh manusia untuk gesit dan cermat serta efisien. Dan sifat gesit cermat dan efisien merupakan bagian terintegrasi dari sistem kekebalan bawaan tubuh manusia.

 

APAKAH ADA MANUSIA YANG MEMILIKI SISTEM KEKEBALAN TUBUH YANG LEBIH LEMAH DARIPADA MANUSIA YANG LAIN ?

 

Ada ! Secara teori, sistem kekebalan tubuh pada manusia yang sangat tua (usia >70 thn) dan manusia yang sangat muda (batita + bayi) lebih lemah daripada kebanyakan orang lain. Seiring bertambahnya usia, beberapa sel juga menua dan menjadi sedikit kurang gesit dalam kapasitas mereka untuk merespons infeksi. Biasanya bayi dan anak-anak yang sangat muda juga memiliki risiko lebih besar karena sistem kekebalan bawaan mereka belum matang, tetapi itu tampaknya tidak terjadi pada COVID-19. Orang yang immunocompromised juga kurang gesit. Ini termasuk orang-orang yang memiliki penyakit atau menggunakan obat yang menekan sistem kekebalan tubuh mereka seperti orang-orang dengan kondisi autoimun seperti rheumatoid arthritis, kanker yang sedang menjalani kemoterapi dan orang-orang yang memiliki transplantasi organ.

 

APA YANG BISA MEMBUAT SISTEM KEKEBALAN TUBUH MANUSIA MENGALAMI STRES ATAU MENURUN ?

 

Jika tubuh manusia sudah berjuang melawan infeksi, kondisi-kondisi seperti penyakit jantung, penyakit paru-paru dan diabetes juga dapat memberi beban tambahan berlebihan yang akan menurunkan kemampuan tubuh untuk menjalani fungsi pertahanan melawan infeksi virus. Menurut Professor Pellegrini tidak bisa juga dihantam kromo bahwa semua penderita COVID-19 adalah mereka yang immune incompetence. Buktinya banyak juga pasien-pasien COVID-19 yg immunocompetence tetapi karena memiliki penyakit pemberat seperti penyakit jantung, diabetes, dll yang sistem pertahanan tubuhnya tidak mempunyai kemampuan lebih dalam menghadapi virus corona. Artinya walopun sehat tetapi sebetulnya daya tahan tubuh tidak bisa dibilang kuat dan tahan lama menghadapi gempuran virus corona. Misalnya, jika jantung tidak memiliki kapasitas untuk mengirimkan oksigen ke tubuh, jantung harus berdetak lebih keras, yang pada gilirannya dapat menyebabkan serangan jantung. Atau jika bagian dari paru-paru rusak maka cuma punya sedikit kemampuan untuk mendapatkan oksigen ke dalam darah. Dan itu pengaruh banget ke sistem pertahanan tubuhnya. Virus corona buka virus kelas teri, sedangkan sistem pertahanan tubuh mereka yang memiliki penyakit berat hanya mampu melawan serangan virus ecek-ecek saja akibatnya begitu diserang oleh virus corona…. Ambyarrrr.  Atau misalnya manusia sedang mengalami infeksi bersamaan, seperti flu, maka juga dapat mempersulit sistem kekebalan tubuh untuk mengatasinya serbuan virus corona. Itulah sebabnya ada dokter yang menyarankan pasiennya untuk mendapat suntikan flu supaya bila ada serbuan virus corona sedikit banyak tubuhnya gak kerepotan mempertahankan diri di musim hujan seperti di Indonesia saat ini. Musim hujan banyak orang sakit flu, demam berdarah, dll. Bahkan pikiran stress juga bisa bikin sistem pertahanan tubuh menurun karena produksi hormone kortisol dan adrenalin menjadi makin tinggi. Kita semua berharap Presiden Jokowi mau memerintahkan OJK dan lembaga keuangan untuk menunda pembayaran cicilan… semoga saja issue tersebut benarrr… karena mesti banyak yang stress karena ekonomi makin morat marit kena serbuan virus corona sehingga pada sulit bayar cicilan.

 

ADAKAH MAKANAN TERBAIK UNTUK MENINGKATKAN SISTEM KEKEBALAN TUBUH KITA ?

 

“Apa pun yang membuat jantung sehat, paru-paru sehat, dan ginjal sehat, akan membuat sistem kekebalan tubuh Anda sehat,” begitu kata Profesor Pellegrini. Tidak ada diet khusus. Jika supermarket/ pasar tradisional sudah kehabisan brokoli maka tak perlu takut  karena tidak ada satu makanan pun yang secara ajaib dapat membanjiri sistem kekebalan Anda,” kata Profesor Clare Collins, seorang ahli gizi dari Amerika Serikat. Nutrisi dari berbagai makanan sehat diperlukan dalam jalur biokimia yang dipicu ketika tubuh kita melawan infeksi sehingga dianjurkan makan berbagai makanan yang mengandung vitamin A, B, C, D dan E dan mineral besi, seng dan selenium.

Sumber-sumber vitamin tersebut bisa didapatkan secara alami dari bahan makanan berikut dibawah ini:

  1. Vitamin A. Ikan, kuning telur, keju, tahu, dan kacang-kacangan
  1. Vitamin B6 (riboflavin). Sereal, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau, buah, ikan, ayam, dan daging
  1. Vitamin B9 (folat). Sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, dan tepung gandum
  1. B12. Semua produk hewani, termasuk telur, daging dan susu, dan bahkan juga susu kedelai.
  1. Vitamin C. Jeruk, lemon, jeruk limau/ purut, berry, buah kiwi, brokoli, dan tomat
  1. Vitamin D. Terutama sinar matahari, tetapi juga ditemukan dalam beberapa makanan seperti telur, ikan, susu dan margarin yang diperkaya dengan kalsium.
  1. Vitamin E. Kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau dan minyak sayur.
  1. Zat besi. Daging, ayam, dan ikan. Sumber-sumber vegetarian termasuk kacang-kacangan dan sereal yang diperkaya zat besi.
  1. Zinc dan selenium. Tiram dan makanan laut lainnya, daging, ayam, kacang kering dan kacang-kacangan (terutama kacang Brazil) dan jamur

 

Zat gizi mikro di atas memainkan peran penting dalam sistem imun bawaan dan adaptif dalam produksi berbagai jenis sel. Selain itu, vitamin A dan Zinc membantu menjaga integritas kulit dan lapisan organ vital dan sistem pernapasan (yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh bawaan). Vitamin B12 dan zat besi juga penting untuk produksi hemoglobin yang membawa oksigen dalam darah. Vitamin C, E, dan selenium membantu mengendalikan peradangan dengan menghilangkan dampak stres oksidatif yang dihasilkan oleh radikal bebas yang menembus dinding sel yang menyebabkan isinya bocor. Bingung ? rumit ? ya udah gak usah dihapalin. Pokoknya makan aja makanan 4 sehat 5 sempurna.

 

BAGAIMANA DENGAN MENGONSUMSI VITAMIN TAMBAHAN ?

Mengambil vitamin tambahan tidak diperlukan kecuali anda telah didiagnosis oleh dokter mengalami kekurangan nutrisi tertentu seperti vitamin D, atau anda memiliki kebutuhan diet khusus seperti misalnya wanita hamil atau telah didiagnosis dengan kondisi yang dapat mempengaruhi penyerapan nutrisi seperti fibrosis kistik atau gangguan usus. Tidak ada bukti konklusif bahwa suplemen vitamin C dapat menunda timbulnya infeksi atau mengobati infeksi pernapasan.

 

APAKAH BEROLAHRAGA DAPAT MEMPENGARUHI SISTEM KEKEBALAN TUBUH ?

Banyak penelitian menunjukkan bahwa olahraga dalam jangka panjang bermanfaat tidak hanya untuk sistem kekebalan tubuh tetapi juga menjaga kesehatan jantung dan paru-paru. Bagi yang malas atau jarang olah raga sebaiknya tetap tenang karena tidak mungkin olah raga dadakan dapat langsung membuat tubuh menjadi bugar dan ulet, bahkan anda akan lebih rentan terhadap infeksi karena dengan anda memaksa untuk berolah raga maka anda mengalihkan sejumlah besar energi ke dalam otot padahal energi tersebut berguna untuk sistem kekebalan tubuh.”

 

TULISAN 150. WANITA HAMIL VS COVID 19

Beberapa bulan terakhir, dunia digemparkan oleh penyakit baru yang berasal dari china komunis yaitu corona virus. Lalu apakah yang mesti diketahui oleh wanita hamil terkait dengan serangan corona virus ini ?

GEJALA KLINIS INFEKSI CORONA VIRUS

Gejala-gejala yang mungkin timbul pada penyakit infeksi corona virus:
1. Batuk
2. Demam tinggi
3. Nafas pendek dan cepat
Perlu diingat bahwa gejala di atas tidak selalu merupakan gejala pasti infeksi corona virus karena gejala di atas merupakan gejala pada penyakit flu.

APA DAMPAK CORONAVIRUS PADA WANITA HAMIL ?

Wanita hamil tampaknya tidak lebih rentan terhadap coronavirus daripada populasi manusia pada umum. Karena ini adalah virus baru, bagaimana pengaruhnya terhadap wanita hamil masih belum jelas. Diharapkan sebagian besar wanita hamil hanya akan mengalami gejala pilek / flu ringan atau sedang saja ditengah merebaknya corona virus di Indonesia dan dunia international. Gejala yang lebih parah akibat penularan corona virus seperti pneumonia (batuk dan sesak nafas yang parah) tampaknya lebih sering ditemukan pada:
1. orang tua (lansia)
2. mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah misalnya HIV
3. mereka yang memiliki penyakit kronis yang berat misalnya TBC paru.
Sampai hari ini belum ada kematian pada wanita hamil yang dilaporkan akibat penularan corona virus. Tapi perlu diingat bahwa wanita hamil lebih rentan terkena infeksi daripada wanita yang tidak hamil. Jika wanita hamil memiliki penyakit jantung atau paru yang mendasarinya, seperti asma, maka bila wanita hamil itu sampai tertular corona virus kemungkinan akan lebih berat dampaknya.

APA DAMPAK CORONAVIRUS PADA BAYI DALAM KANDUNGAN JIKA WANITA HAMIL TERINFEKSI CORONA VIRUS ?

Karena ini adalah virus yang sangat baru, maka belum banyak yang bisa dipelajari dari virus corona tersebut. Tetapi sejauh ini tidak ada bukti yang menunjukkan peningkatan risiko keguguran pada wanita hamil yang tertular corona virus. Juga tidak ada bukti bahwa virus dapat menular ke bayi dalam kandungan (transmisi vertikal). Karena itu saat ini dianggap tidak mungkin corona virus akan menyebabkan kelainan pada bayi dalam kandungan.

Beberapa bayi yang dilahirkan oleh wanita dengan gejala corona virus di Cina telah lahir prematur. Tetapi tidak jelas apakah corona virus menyebabkan kelahiran premature atau dokter kandungan china komunis sengaja membuat keputusan untuk membuat bayi dilahirkan lebih awal (mungkin dengan induksi persalinan) karena wanita hamil tersebut dalam keadaan tidak sehat akibat tertular corona virus. Bagi ibu hamil kiuters yang pengen tahu tentang induksi persalinan maka dapat klik link berikut ini http://www.cucuk-spog.com/?p=562 .

APA YANG BISA IBU HAMIL LAKUKAN UNTUK MENGURANGI RISIKO TERKENA CORONA VIRUS ?

1. sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air – lakukan ini setidaknya selama 20 detik.
2. selalu cuci tangan saat pulang atau bekerja.
3. gunakan gel pembersih tangan jika sabun dan air tidak tersedia.
4. tutup mulut dan hidung Anda dengan tisu atau lengan baju Anda (bukan telapak tangan Anda) ketika Anda batuk atau bersin.
5. letakkan tisu bekas di tong sampah dan cuci tangan sesudahnya.
6. cobalah untuk menghindari kontak dekat dengan orang yang tidak sehat.
7. jangan menyentuh mata, hidung, atau mulut Anda jika tangan Anda tidak bersih

APA SARAN PERJALANAN JIKA SAYA HAMIL INGIN BEPERGIAN KE LUAR NEGERI ?

Semua individu, termasuk wanita hamil, harus memastikan mereka memiliki pengaturan asuransi yang memadai sebelum bepergian terutama bagi wanita hamil yang bepergian ke luar negeri. Anda juga harus memeriksa bahwa asuransi perjalanan Anda akan memberikan perlindungan untuk kelahiran dan perawatan bayi Anda yang baru lahir jika Anda melahirkan di luar negeri. Dan yang terpenting adalah ikuti semua saran dari petugas-petugas kedutaan ataupun petugas ataupun petugas kesehatan ataupun petugas kepolisian di negara tujuan.

BAGAIMANA CARA WANITA HAMIL AKAN DIUJI UNTUK MENGETAHUI TERINFEKSI CORONA VIRUS ATAU TIDAK ?

Proses untuk mendiagnosis infeksi coronavirus berubah dengan cepat. Pada saat ini, jika wanita hamil memerlukan tes untuk coronavirus maka akan disarankan untuk melakukan isolasi diri sendiri dan akan diajari cara mengambil sediaan swab diagnostic dari mukosa (selaput lendir) hidung dan rongga mulut untuk mengetahui apakah tertular corona virus atau tidak. Bahkan bisa juga dari ludah dan dahak (bila batuk) atau ingus (bila pilek). Mungkin saja setelah di test wanita hamil akan diminta untuk segera ke rumah sakit yang tentunya telah mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan wanita hamil yang tertular corona virus.

APA YANG AKAN DIALAMI OLEH IBU HAMIL BILA TERNYATA POSITIF TERKENA CORONA VIRUS ?

Jawabannya adalah segera berobat ke rumah sakit. Wnaita hamil akan diisolasi dan akan diberikan pengobatan sesuai gejala klinis yang muncul. Tunda pemeriksaan kehamilan ke klinik/ dokter kandungan supaya tidak menulari pasien hamil lainnya. Bila ada emergensi kehamilan maka rumah sakit rujukan untuk pasien hamil yang terinfeksi corona virus insya Allah akan siap mengantisipasinya… tapi… kalo di Indonesia saya sih kagak tau ya… yang saya baca sih luar negeri sangat serius menghadapi corona virus dengan melarang turis asing masuk ke dalam negaranya sedangkan di Indonesia ? tanyakan deh pada rumput yang bergoyang…
Bila wanita hamil telah dinyatakan sembuh dari corona virus maka kira-kira 14 hari setelah masa isolasi berakhir dan ibu hamil sudah keluar dari rumah sakit maka dokter kandungan langganan sudah boleh untuk memeriksa kehamilan wanita tersebut. Selama dalam masa isolasi maka pengawasan kehamilan dilakukan oleh team dokter tentunya dokter kandungan di rumah sakit khusus tersebut.

BAGAIMANA BILA WANITA HAMIL POSITIF CORONA VIRUS TIBA-TIBA MAU MELAHIRKAN ?

Tenang saja. Team dokter dari rumah sakit yang menangani corona virus akan dengan sigap melakukan pertolongan bagi wanita hamil tersebut. Nahhh setelah bayinya lahir maka bayi mungil tersebut akan menjalani serangkaian pemeriksaan pula untuk mengantisipasi penularan corona virus ke bayi. Sampai saat ini belum ada laporan bahwa bayi baru lahir terkena corona virus. Bagaimana dengan menyusui bayi ? bila wanita ingin menyusui bayinya maka wanita tersebut harus menggunakan masker dan mencuci tangannya. Tentu saja tetap harus dipahami bahwa tetap terdapat kemungkinan bayinya tertular corona virus.

SARAN DOKTER CUCUK KIUTTT HELLO KITTY KHSUSUS BAGI WANITA HAMIL KIUTERS DALAM RANGKA MENCEGAH TERTULAR CORONA VIRUS

1. tinggal di rumah saja tetapi dengan sangat terpaksa tetap harus pergi bekerja bagi wanita hamil yang bekerja. Mestinya ada kebijakan khusus dari pemerintah untuk mencegah penularan corona virus.
2. boleh ke sekolah atau tempat umum keramaian sampai ada pengumuman larangan dari pemerintah atau sekolah
3. Kalo bisa dan kondisinya memungkinkan maka sedapat mungkin kurangi menggunakan transportasi umum massal, ya mungkin akhirnya dengan sangat terpaksa mungkin naik taksi atau grab atau gojek atau ojek. Nah ini yg sangat sulit untuk dilakukan karena itu sebaiknya di rumah saja.
4. Gak usah ngobrol ke tetangga bila gak perlu-perlu amat.
5. Gak usah nonton bioskop kalo gak ngebet-ngebet banget.
6. Gak usah nongkrong di mall/ café/ restoran.
7. Menghindari kumpulan orang banyak seperti seminar, acara live concert music, dll.
8. Cuci tangan sering-sering dengan sabun.
9. Jangan salaman dengan siapapun.

10. kalo batuk mesti pake masker/ niqab/ sapi tangan.

11. Vitamin hamil wajib diminum.
12. ibadah ditingkatkan, ngaji dan sholat. Rajin wudhu walopun belum masuk waktu sholat.

PENGOBATAN UNTUK CORONAVIRUS

Saat ini tidak ada pengobatan khusus untuk coronavirus.
Antibiotik tidak membantu, karena mereka tidak bekerja melawan virus. Perawatan di rumah sakit bertujuan untuk meringankan gejala saat tubuh Anda melawan penyakit corona virus. Anda harus tetap terisolasi dari orang lain sampai Anda pulih.

TULISAN 141. MANFAAT MAKAN SAYURAN PADA KEHAMILAN

Wanita hamil boleh-boleh saja untuk memilih makan sayuran mentah selama kehamilan karena sayuran termasuk dalam jenis makanan aman dan bergizi bagi wanita hamil dan janin dalam kandungannya. Namun, sanagt penting bagi wanita hamil untuk mengetahui masalah keamanan pangan dan berbagai risiko yang bisa muncul akibat mengonsumsi sayuran mentah, dan tentu saja wanita hamil mesti memahami cara-cara menjaga keamanan/ kesehatan dirinya dan janinnya. Sebetulnya apa sih manfaat dari sayuran bagi kehamilan ?

NUTRISI YANG TERKANDUNG DALAM SAYURAN MENTAH

Selama kehamilan, kebutuhan wanita akan vitamin, mineral, dan nutrisi penting meningkat karena tuntutan yang terkait dengan pertumbuhan janin. Sayuran, terutama ketika dimakan mentah, ternyata memberikan manfaat nutrisi tidak saja bagi wanita hamil tetapi juga bermanfaat bagi pertumbuhan janin dalam kandungan. Contohnya asam Folat ditemukan dalam brokoli, asparagus, dan kacang polong, dan asam folat bermanfaat untuk membantu mencegah malformasi tulang belakang dan otak. Kalsium sangat penting untuk kesehatan tulang dan mineralisasi tulang, dan berlimpah dalam sayuran berdaun hijau seperti bayam dan kangkung. Sayuran termasuk kubis, kembang kol dan labu adalah sumber asam lemak omega-3, yang membantu perkembangan neurologis (susunan syaraf) dan visual bayi (penglihatan).

SAYURAN MENTAH YANG HARUS DIHINDARI SELAMA HAMIL

Walopun sebagian besar sayuran mentah bisa aman dan sehat untuk wanita hamil dan janin dalam kandungan, tetapi terdapat beberapa sayuran mentah harus dihindari sama sekali selama hamil. Kecambah/ tauge mentah, lobak, semanggi, dan varietas kacang hijau harus dihindari saat hamil bila tidak dimasak secara matang. Lembaga Foodsafety di Amerika Serikat mencatat bahwa kecambah membutuhkan kondisi hangat dan lembab untuk tumbuh dan kodisi lembab tersebut merupakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan bakteri seperti E. coli, salmonella, dan listeria. Jika Anda mengonsumsi kecambah/ tauge, masaklah sampai matang untuk membunuh bakteri-bakteri jahat tersebut.

INFEKSI TOXOPLASMA BISA DISEBABKAN OLEH KONSUMSI SAYURAN MENTAH ! KAGET TOOOO ?!?!

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC AMERIKA SERIKAT) menemukan bahwa toksoplasmosis menginfeksi antara 400 dan 4.000 janin di AS setiap tahun. Toxoplasma adalah parasit yang dapat ditemukan pada daging mentah dan kurang matang, kotoran kucing, dan permukaan buah-buahan dan sayuran. Menurut CDC, wanita hamil yang terinfeksi Toxoplasma dapat menularkan infeksi ke janin, menyebabkan penyakit pada sistem saraf dan mata. Wanita hamil dapat mencegah penyakit dalam makanan ini dengan mencuci sayuran mentah secara baik sebelum makan.

REKOMENDASI DARI FDA AMERIKA UNTUK WANITA HAMIL TERKAIT DENGAN KONSUMSI SAYURAN DAN BUAH.

Sayuran mentah bisa menjadi tambahan makanan yang bagus untuk diet kehamilan dengan mengikuti beberapa pedoman keamanan konsumsi makanan. FDA merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. mencuci sayuran mentah sebelum makan atau sebelum di kupas kulitnya. Hal ini terutama berlaku untuk sayuran yang membutuhkan pengupasan karena bakteri dapat ditemukan di kulit luar.
  2. Buang bagian sayuran yang memar atau rusak karena kemungkinan besar akan ditemukan bakteri di tempat-tempat ini.
  3. Jangan lupa juga mencuci talenan sebelum dan sesudah dipakai. cucinya mesti pakai sabun ya.

oke deh sekian dulu.

TULISAN 131. KUCING, KEHAMILAN, DAN TOXOPLASMA

Infeksi toxoplasma merupakan salah satu jenis infeksi yang berbahaya bagi kehamilan. Toxoplasmosis atau infeksi toxopalsma dapat menyebabkan gangguan otak dan mata pada janin bahkan kadang-kadang menimbulkan gangguan pada jantung dan sistem syaraf pusat di kepala janin. Walopun demikian, sampai saat ini belum ada rekomendasi untuk pemeriksaan rutin terhadap infeksi toxo pada kehamilan kecuali atas permintaan pasien atau pada pasien-pasien yang memang nyata banget kehidupan kesehariannya rentan terkontaminasi penyakit toxoplasmosis. Di negara semodern Kanada sekalipun pemeriksaan TORCH secara rutin pada tiap kehamilan untuk mengetahui apakah ibu hamil menderita toxoplasmosis tidak dianjurkan karena alasan sebagai berikut:

  1. pemeriksaan TORCH biayanya sangat mahal
  2. prevalensi terjadinya infeksi toxoplasma rendah
  3. sensitivitas pemeriksaan lab yang rendah
  4. adanya kemungkinan false positif dalam hasil pemeriksaan lab toxo
  5. efektivitas terapi yang terbatas
  6. hanya dilakukan di daerah yang prevalensi infeksi toxoplasmanya tinggi seperti di Quebec (salah satu propinsi/ kota di Kanada)

Kagak percaya ? nih baca sendiri di Can Fam Physician. 2014 Apr; 60(4): 334-336.

Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasite dari protozoa toxoplasma gondii yang menginfeksi sel-sel jaringan. Sebagian besar individu yang daya tahan tubuhnya baik kemudian tertular parasit tidak akan mengalami gejala, atau mungkin mengalami gejala seperti flu yang tidak spesifik seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan limfadenopati. Sepertiga populasi penduduk dunia (2 milyard manusia) telah terinfeksi parasit toxoplasma, tetapi gejalanya sering tidak diketahui. Hal ini disebabkan karena sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala. Ketika infeksi T gondii didapatkan pada saat kehamilan maka parasit dapat ditransmisikan melintasi plasenta keudian masuk ke tubuh janin, dan kelak akan menyebabkan timbulnya congenital toxoplasmosis, yang dapat memiliki dampak cukup serius pada janin.

Toxoplasma gondii memiliki 2 siklus hidup:

  1. siklus seksual yang terjadi secara eksklusif di usus kecil kucing.
  2. siklus aseksual terjadi pada hewan dan manusia yang terinfeksi.

Pada manusia, infeksi biasanya diperoleh melalui:

  1. konsumsi dan pengolahan daging mentah atau kurang matang.
  2. makan sayuran dan buah yang tidak dicuci.
  3. air minum yang terkontaminasi dengan kotoran kucing.
  4. kontak dengan kotoran (tai) kucing.
  5. kontak dengan tanah bekas kotoran kucing.

Pada wanita, infeksi toxoplasma sebelum hamil hampir tidak menimbulkan masalah ketika wanita tersebut pada akhirnya hamil. Tetapi infeksi toxoplasma yang terjadi sekitar 3 bulan sebelum wanita tersebut hamil dapat bikin pucing pala barbie karena kemungkinan bakalan bikin masalah pada wanita hamil tersebut.

Apa sih manifestasi atau dampak yang dapat dilihat yang disebabkan oleh infeksi toxoplasma pada kehamilan terutama efek ke janinnya ?

  1. hidrocephalus (kepala janin membesar)
  2. mikrocephali (kepala janin kecil daripada ukuran normalnya)
  3. ada pengapuran di otak janin
  4. kelainan mata berupa retino-choroiditis. Udah gak usah tanya ini kelainan bagaimana karena saya bukan dokter mata. Kalo kepo ya kontrol saja ke dokter mata Dr. Ayu Ratnawati, SpM di RS Bayukarta Karawang. Dokter ayu tersebut adalah sayanknya saya tuh… he he he
  5. strabismus sejak lahir (juling bawaan)
  6. katarak sejak lahir
  7. lahir buta
  8. epilepsi sejak lahir
  9. keterbelakangan mental dan kecerdasan
  10. gangguan kulit
  11. anemia dan trombositopenia

kok banyak banget ? udahhh… gak usah kuatir… siapin celengan 1 buah di rumah saat hamil kemudian tiap hari diisi pake duit Rp 5000,-/ hari dan dipasang niat bahwa tiap hari ngisi ke celengan tersebut adalah bertujuan mohon pertolongan Allah SWT supaya kehamilannya sehat, lancar, dan selamat baik bagi ibu hamilnya maupun janin dalam kandungannya. Jangan ditambahin ngatur-ngatur Allah yaaaa… misalnya saya pengen lahiran normal… sudahhh… serahkan saja yang terbaik pada keputusan Allah SWT. Ntar placenta previa pengen lahiran normal akhirnya diturutin jadi perdarahan hebat, akhirnya game over kemudian suami kawin lagi… mau…??? gak mau kannn…

Infeksi toxoplasma pada awal kehamilan memiliki tingkat resiko terinfeksi sangat rendah yaitu sekitar 6% saja sedangkan pada trimester 3 bila wanita hamil terinfeksi maka resiko terjadinya penularan ke janin sekitar 60-81%. Walopun resiko tertular infeksi toxoplasma sangat kecil kemungkinannya pada janin bila usia kehamilan masih trimester 1, tetapi bila sampai tertular dampaknya sangat dahsyat yaitu keguguran atau lethal. Sedangkan infeksi toxoplasma ke janin dalam kandungan pada saat kehamilan ibunya menginjak trimester 3 seringkali tidak menimbulkan gejala apapun walopun mungkin janinnya sudah mengalami infeksi toxoplasma. Namun bila tidak diobati sejak dalam kandungan maka kelak bayi baru lahir yang terinfeksi toxoplasma dapat menderita kelainan pada mata atau kelainan sistem syaraf pusat.

Boleh gak ibu nifas menyusui bayinya bila sang ibu terindikasi menderita infeksi toxoplasma ? sampai saat ini belum pernah terdeteksi adanya infeksi toxoplasma dalam ASI ibu sehingga menyusui pun aman bagi bayinya. Dan ini adalah kabar baik yang ditunggu-tunggu para suami bahwa buat suami pun payudara isterinya masih aman karena tidak ada infeksi di lokasi favorite para suami tersebut he he he. Hubungan sex pun tidak menyebabkan suami/ isteri saling menularkan infeksi toxoplasma.

Bagaimana cara mendiagnosis penyakit infeksi toxoplasma ?

  1. test serologis seperti TORCH
  2. USG bila janin ada kelainan
  3. amniocentesis yaitu proses pengambilan sampel air ketuban yang dilakukan untuk prenatal testing.

Tulisan yang ini gak usah dibaca karena mesti gak ngerti sehingga saya tulis dalam bahasa aslinya:

The greatest challenge in diagnosing toxoplasmosis is to establish the acute (primary) infection and distinguish it from past (chronic) infection. Toxoplasma gondii infection can be diagnosed using serologic tests, ultrasound scans, and amniocentesis. Results of serologic tests measuring immunoglobulin (Ig) M and IgG are often difficult to interpret when differentiating between acute and chronic infections. Following acute infection, IgM antibody titres rise starting on day 5 and reach the maximum level at 1 to 2 months. At this point, IgM antibodies decline more rapidly than IgG antibodies. However, in many cases the IgM antibodies persist for years following acute infection. In contrast, IgG antibodies are usually detectable within 1 to 2 weeks after acute infection, peak within 12 weeks to 6 months, and usually remain detectable throughout life.

The absence of IgG and IgM antibodies before or early in pregnancy indicates no previous infection and identifies women at risk of acquiring the infection during pregnancy. The detection of IgG antibodies and absence of IgM antibodies indicates an old infection. However, if test results are positive for both IgG and IgM, interpretation is difficult, as the positive results might be owing to either a recent infection or low levels of IgM antibodies from a previous infection. If acute infection is suspected, repeat testing is recommended within 2 to 3 weeks. A 4-fold rise in IgG antibody titre between tests indicates a recent infection. 

Confirming primary infection is of utmost importance in evaluating the risk of fetal transmission, initiating antibiotics, and providing appropriate counseling. To more accurately determine the likelihood of a recently acquired infection, more specific tests, such as IgG antibody avidity testing, are helpful. The IgG avidity assay measures the strength of IgG binding to T gondii. In most cases IgG avidity shifts from a low to a high index about 5 months after the infection. Thus, patients with acute infection exhibit a low avidity index, suggesting that infection occurred within 5 months of testing, whereas those with previous infection have a high IgG avidity index.

Karena infeksi toxoplasma pada  ibu hamil tidak selalu mengakibatkan infeksi toxoplasma pada janin, tetap saja masih sangat penting untuk menentukan apakah infeksi toxoplasma pada janin telah terjadi atau tidak. Diagnosis toksoplasmosis kongenital pada janin saat ini dilakukan dengan analisis PCR cairan ketuban. Pengambilan sampel cairan ketuban (Amniosentesis) ditawarkan hanya jika:

  1. infeksi primer ibu penyakit toxoplasma telah dikonfirmasi secara laboratorium
  2. hasil tes serologis TORCH  ibu hamil tidak jelas apakah ini suatu infeksi akut toxoplasma atau infekeksi kronis toxoplasma
  3. fitur ultrasonografi konsisten dengan toksoplasmosis bawaan misalnya hidrocephalus, mikrocephali, dll.

Amniocentesis akan ditawarkan setelah usia kehamilan 18 minggu dan setidaknya 4 minggu setelah infeksi toxoplasma akut pada ibu hamil dengan tujuan untuk mengurangi risiko hasil negatif palsu. Negatif palsu itu maksudnya adalah hasil labnya negatif tetapi aslinya positif terinfeksi toxoplasma. Kok bisa gitu ? yaelahhh… ya jelas bisa donk… namanya juga alat lab buatan manusia yang sumbernya dosa dan khilaf, kalo mau sempurna ya buatan Tuhan donkkk…

Bila ibu hamil terkena infeksi toxoplasma  maka apakah bisa diobati ? insya Allah bisa. Tujuan pengobatan terhadap ibu hamil yang terinfeksi toxoplasma adalah:

  1. mencegah berlanjutnya infeksi vertikal dari ibu ke janin dalam kandungannya.
  2. mencegah dampak yang sudah terjadi menjadi makin rusak. Maksudnya adalah bila janin sudah kena dampak infeksinya maka pengobatan memberikan harapan supaya efeknya gak parah-parah amat gitu looohh.

Pengobatan terhadap infeksi toxoplasma pada janin dilakukan sejak dalam kandungan s/d bayi lahir karena sudah terbukti bahwa pengobatan tersebut dapat mencegah timbulnya efek lanjutan dikemudian hari. Tetapi perlu diingat bahwa bayi yang sudah lahir itu pun walopun sudah diobati sejak masoh dalam kandungan, tetap harus difollow up ke dokter anak dan dokter mata untuk mengetahui secara dini efek lanjutan infeksi toxoplasmanya. Hal ini disebabkan oleh karena dampak dari infeksi toxoplasma congenital dapat terjadi setelah beberapa tahun kemudian walopun tidak ada gejala apapun selama kehamilan ataupun saat melahirkan, bahkan hasil lab normal dan USG pun normal. sehingga memang hal inilah yang menjadi kesulitan para ahli untuk mengetahui ada tidaknya infeksi toxoplasma pada janin (toxoplasma congenital). Beberapa negara maju pun tidak merekomendasikan pemeriksaan  laboratorium TORCH sebagai bagian penge-check-an lab rutin selama kehamilan antara lain Inggris, USA, Kanada, dan Uni Eropa. Tapi kalo pasien meminta check lab TORCH maka dokter kandungan pun akan dengan senang hati untuk membuatkan rekomendasi pemeriksaan TORCH tersebut.

Bagian yang bawah ini juga gak perlu dibaca karena saya tulis dalam bahasa aslinya:

While there is insufficient evidence to prove that treating mothers with seroconversion during pregnancy prevents fetal infection, treatment might reduce the severity of congenital toxoplasmosis. If primary T gondii infection is confirmed during pregnancy, treatment is used for fetal prophylaxis or to decrease the disease severity. In case of maternal infection without fetal infection, spiramycin is the drug of choice to prevent vertical transmission.28 Spiramycin is a macrolide antibiotic that cannot cross the placenta but remains concentrated in it. According to the Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada guidelines, it is prescribed at a dosage of 1 g orally every 8 hours for the duration of pregnancy if amniotic fluid polymerase chain reaction analysis results are negative for T gondii.

Pyrimethamine and sulfadiazine are administered in cases of confirmed fetal infection, but not in cases of suspected infection, especially in the first trimester, owing to potential teratogenicity and bone marrow toxicity to both mother and fetus. Both prenatal and postnatal treatment have shown evidence of reducing the risk and severity of long-term symptoms. However, even after treatment has been discontinued, clinical and ophthalmologic examinations should be performed regularly for several years to screen for any sequelae that might arise.

Pencegahan toksoplasmosis kongenital selama hamil tergantung pada penghindaran infeksi yang efektif selama kehamilan. Caranya adalah:

  1. hindaran kontak dengan kotak pasir kotoran kucing
  2. jangan suka main tanah terutama kemungkinan tanah tersebut telah terkontaminasi dengan kuman toxoplasma gondii yang berasal dari kotoran beol kucing.
  3. kucing peliharaan tidak boleh dibiarkan main diluar rumah karena kucing peliharaan kecil kemungkinannya menjadi sumber infeksi toxoplasma jika kucing itu dipelihara di dalam ruangan (tidak dibiarkan main di luar rumah) dan hanya diberi makanan yang dimasak, diawetkan, atau kering yang kemasannya banyak dijual di PET SHOP. Jadi jangan kuatir bagi ibu hamil yang punya binatang peliharaan seperti kucing, anjing ataupun burung.
  4. makan daging yang dimasak dengan baik.
  5. sayuran lalapan sebaiknya dicuci bersih terlebih dahulu, hindari beli sayuran lalapan dari luar rumah, lebih aman diolah sendiri di rumah karena dijamin kebersihannya.
  6. makan buah harus dicuci dulu kulitnya yang bersih pake sabun buah dan sayur.
  7. rajin cuci tangan tiap kali selesai pegang hewan peliharaan. Memang susah banget menghindari pegang hewan peliharaan karena mesti mereka itu manja dan lengket pada tuannya sehingga sebaiknya rajin-rajin saja merawat dan bawa ke dokter hewan serta jangan malas cuci tangan. Sahabat nabi bernama Abu Hurairoh terkenal dengan julukan Bapaknya Kucing saja aman-aman saja punya kucing puluhan, jadi semoga para ibu-ibu yang memelihara makhluk Allah yang lucu tersebut juga memperoleh rahmat sebagaimana Abu Hurairoh dan semoga menjadi peringan bahkan pembebas dari siksa neraka akibat banyaknya dosa kita.

sumber bacaan:

  1. Stray-Pedersen B. Toxoplasmosis in pregnancy. Baillieres Clin Obstet Gynaecol. 1993;7(1):107–37. [PubMed] [Google Scholar]
  2. Liesenfeld O, Press C, Montoya JG, Gill R, Isaac-Renton JL, Hedman K, et al. False-positive results in immunoglobulin M (IgM) toxoplasma antibody tests and importance of confirmatory testing: the Platelia Toxo IgM test. J Clin Microbiol. 1997;35(1):174–8. [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
  3. Hedman K, Lappalainen M, Seppäiä I, Mäkelä O. Recent primary toxoplasma infection indicated by a low avidity of specific IgG. J Infect Dis. 1989;159(4):736–40. [PubMed] [Google Scholar]
  4. Iqbal J, Khalid N. Detection of acute Toxoplasma gondii infection in early pregnancy by IgG avidity and PCR analysis. J Med Microbiol. 2007;56(Pt 11):1495–9. doi: 10.1099/jmm.0.47260-0. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]
  5. Montoya JG. Laboratory diagnosis of Toxoplasma gondii infection and toxoplasmosis. J Infect Dis. 2002;185(Suppl 1):S73–82. doi: 10.1086/338827. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]
  6. Petersen E, Borobio MV, Guy E, Liesenfeld O, Meroni V, Naessens A, et al. European multicenter study of the LIAISON automated diagnostic system for determination of Toxoplasma gondii-specific immunoglobulin G (IgG) and IgM and the IgG avidity index. J Clin Microbiol. 2005;43(4):1570–4. doi: 10.1128/JCM.43.4.1570-1574.2005. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]
  7. Pour Abolghasem S, Bonyadi MR, Babaloo Z, Porhasan A, Nagili B, Gardashkhani OA, et al. IgG avidity test for the diagnosis of acute Toxoplasma gondii infection in early pregnancy. Iran J Immunol. 2011;8(4):251–5.IJIv8i4A8 [PubMed] [Google Scholar]
  8. Merz E. Ultrasound in obstetrics and gynecology. Vol. 1: obstetrics. 2nd ed. New York, NY: Thieme; 2004. [Google Scholar]
  9. Paquet C, Yudin MH. Toxoplasmosis in pregnancy: prevention, screening, and treatment. J Obstet Gynaecol Can. 2013;35(1):78–9. [PubMed] [Google Scholar]
  10. Wallon M, Liou C, Garner P, Peyron F. Congenital toxoplasmosis: systematic review of evidence of efficacy of treatment in pregnancy. BMJ. 1999;318(7197):1511–4. [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
  11. Peyron F, Wallon M, Liou C, Garner P. Treatments for toxoplasmosis in pregnancy. Cochrane Database Syst Rev. 2000;(2):CD001684. doi: 10.1002/14651858. CD001684. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]
  12. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4046541/

oke deh… udah cape nih…

 

Dr. Cucuk Santoso, SpOG

dokter spesialis kandungan

group facebook:

  1. untuk umum: IBU HAMIL KIUTTT HELLO KITTY
  2. untuk pasien pribadi saya: PASIEN DOKTER CUCUK
  3. untuk bidan: BIDAN KIUTTT HELLO KITTY

fanpage: dr. cucuk santoso, spog

alamat praktek:

apotek kimia farma green village

perumnas teluk jambe – karawang barat

PAGI:

senin rabu  jam 08.00-10.00

selasa kamis sabtu jam 10.00-12.00

SORE/ MALAM

senin rabu jumat jam 16.00-20.00

selasa kamis jam 18.00-21.00

sabtu jam 16.00-17.00

 

 

TULISAN 130. WANITA HAMIL DENGAN HEPATITIS B (HBsAg positif)

Dokter kandungan pada setiap kesempatan akan menawarkan pada wanita hamil untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dalam hal ini pemeriksaan lab hepatitis B yang bertujuan u ntuk mendeteksi adanya kondisi yang sangat menular akibat penyakit hepatitis B sehingga akan mengurangi risiko penularan virus hepatitis B dari ibu ke bayi. Wanita ditemukan mengidap hepatitis B selama kehamilan akan ditangani oleh tim dokter antara lain dokter penyakit dalam dan dokter kandungan. Bila dari hasil laboratorium didapatkan tingkat virus yang tinggi maka bila pasien mampu dan bila dicover oleh asuransi BPJS atau asuransi swasta atau perusahaan maka dokter akan memberikan obat antivirus untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya penularan dari ibu hamil ke janin dalam kandungan. Tidak hanya itu, bayi yang baru lahir dari wanita yang menderita hepatitis B juga akan diberikan imunisasi aktif segera setelah lahir dalam 24 jam pertama. Saat ini alhamdulillah program pemerintah sudah memandatkan bahwa setiap bayi lahir akan diberikan imunisasi aktif (vaksinasi hepatitis B).

Di Australia, diperkirakan prevalensi infeksi hepatitis B kronis adalah 0,97 persen dengan kurang lebih 209.000 orang yang hidup dengan infeksi hepatitis B pada tahun 2011. Mayoritas penderita hepatitis B kronis tersebut berasal dari wilayah Asia-Pasifik, Mediterania, Eropa Timur, Afrika dan Amerika Latin. Angka kesakitan yang tinggi tersebut juga merupakan sumbangan dari orang-orang beresiko tinggi yaitu penganut sex bebas dan pengguna obat-obatan terlarang seperti narkotika dan morfin. Data ini diperoleh dari European Association for the Study of the Liver. EASL Clinical Practice Guidelines: Management of chronic hepatitis B virus infection. Journal of Hepatology. 2012;57:167-85. Untuk data penduduk Indonesia saya masih belum nemu tuh… gak tau mau cari dimana.

Infeksi hepatitis B kronis didefinisikan sebagai deteksi adanya antigen permukaan Hepatitis B (HBsAg) yang persisten untuk lebih dari 6 bulan setelah paparan awal virus. Risiko infeksi kronis lebih tinggi pada mereka yang terkena infeksi hepatitis B sejak usia muda. kira-kira 90% bayi yang terinfeksi hepatitis B akan mengalami infeksi hepatitis B kronis atau seumur hidup, dibandingkan dengan mereka yang terkena infeksi hepatitis B pada usia dewasa yaitu hanya sekitar 5% saja yang berkembang menjadi hepatitis B kronis.
Penularan perinatal (penularan dari ibu hamil ke janin dalam kandungan) ditengarai sebagai penyebab utama penularan hepatitis B di negara endemis hepatitis B. 40% penderita infeksi hepatitis B kronis dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang parah akibat dari perkembangan penyakit tersebut menjadi sirosis hati (hati mengkerut alias hati mengecil alias hati remuk) yang selanjutnya karsinoma hepatoseluler (kanker hati).

Model penularan penyakit hepatitis B sebagai berikut:

  1. dari ibu hamil ke janin dalam kandungannya.
  2. hubungan sex terutama sex bebas.
  3. pemakaian obat terlarang terutama jenis suntikan.
  4. transfusi darah atau cairan kimia lainnya. Saat ini pihak PMI (palag merah Indonesia) sudah memberlakukan proses skrinning yang superketat terhadap produk darah donor dengan melakukan pemantauan super ketat untuk penyakit virus dalam darah donor misalnya hepatitis B, hepatitis C, syphillis, malaria, HIV, dll. Itulah sebabnya kenapa kok kalo ada pasien yang butuh darah mesti bayar ke PMI, bukan bayar darahnya (karena darah itu gratis) tetapi bayar alat dan bahan untuk mendeteksi itu semua. Istilah dalam medis disebut dengan crossmatching darah. Dalam kondisi super emergensi kadang-kadang dokter tidak dapat meminta kesiapan darah crossmatching karena dihadapkan pada situasi dimana butuh darah super cepat akibat kondisi pasien perdarahan hebat dan gak mungkin menunggu 2 jam untuk proses crossmatching. Tertular penyakit masih lama matinya, tapi kalo kehabisan darah maka matinya saat itu juga. Pasien mau pilih mana ? Sulit ya menjadi dokter karena dokter bedah dan dokter kandungan seringkali tak punya waktu untuk berpikir bila dihadapkan pada situasi perdarahan hebat dan tak terkendali. Hal ini diperbolehkan dengan alasan keselamatan pasien adalah nomor 1 dan tak mungkin menunggu darah lebih lama lagi misalnya suasana perang atau situasi perdarahan yang sulit dikendalikan. Tidak semua dokter bisa menjadi dokter kandungan, tidak semua dokter bisa menjadi dokter bedah.

Nah karena saya seorang dokter kandungan maka sekarang saya bahas yang kaitannya dengan kehamilan saja. Ada beberapa pertanyaan yang muncul diantaranya:

  1. bolehkah wanita hamil dengan HBsAg (+) menjalani prosedur invasive untuk deteksi kelainan kromosom pada janin (deteksi down syndrome) ? Pada wanita hamil yang membutuhkan prosedur diagnostik invasive seperti halnya amniocentesis (melobangi perut ibu hamil dengan jarum tembus ke rahim s/d ketuban untuk mengambil cairan ketuban) atau CVS (chorionic villus sampling) maka bila ternyata ibu hamil tersebut menderita hepatitis B atau HBsAg (+) maka sebaiknya dicarikan model diagnostik lain seperti NIPT (non invasive prenatal testing). Seekedar informasi bahwa NIPT ini harganya supermahal yaitu sekitar 9-15 juta dan berguna untuk deteksi kelainan kromosom pada janin misalnya deteksi janin IQ rendah atau tidak, deteksi cacat otak janin, dll. Bila kadar virus/ viral load hepatitis sangat tinggi maka ada resiko terjadinya penularan ke janin saat melakukan prosedur amniocentesis atau CVS.
  2. bagaimana dokter kandungan/ dokter penyakit dalam bisa tahu bahwa ada kemungkinan terjadinya penularan dari ibu hamil ke janin dalam kandungan ? Hmm karena para dokter tersebut sudah mempelajari ilmu debus sebelumnya ha ha ha… ya gak lah… para dokter tersebut tahu setelah melakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan. Perlu disadari oleh semua wanita hamil yang menderita HBsAg (+) bahwa resiko penularan tertinggi pada janin adalah saat lahir normal (tertular dari cairan vagina ibu) dan saat sesar (dari darah ibu). Nahhh bingung toooo… mau lahir normal atau operasi sesar nih ??? pada wanita hamil dengan HBsAg (+) maka dokter akan menganjurkan (bila pasien mampu secara ekonomi) untuk melanjutkan pemeriksaan HBeAg. Bila HBeAg (+) maka 70-90% janin mesti akan tertular infeksi hepatitis B dari ibunya. Bila HBeAg (-) maka insya Allah resiko penularannya lebih kecil yaitu hanya sekitar 10-40% saja. Setelah HBeAg (+) maka dokter akan meminta untuk periksa lab lanjutan… lagi-lagi hanya bila kondisi ekonomi pasien gak morat-marit ya… sebab mehong bingitsss booookkk… yaitu periksa HBV Viral Load dimana bila hasilnya > 108 IU/ml maka kemungkinan besar janin sudah tertular oleh ibunya, dan pada kondisi ini biasanya pemberian imunisasi profilaksis sepertinya 10% akan mengalami kegagalan. Pemeriksaan panel hepatitis B yang lengkap di atas bertujuan untuk memberikan kesempatan wanita hamil memperoleh terapi antivirus bila dibutuhkan sebelum melahirkan sehingga dapat menurunkan kadar viral load sehingga diharapkan angka kegagalan imunisasi profilaksis pasca melahirkan dapat lebih ditekan lagi. Tak hanya itu, dokter juga akan periksa kadar enzym liver wanita hamil untuk melihat tingkat keparahan kerusakan liver akibat penyakit hepatitis B.
  3. memangnya boleh ya ibu hamil dengan hepatitis B diberikan obat antivirus ? dari hasil penelitian didapatkan bahwa ibu hamil yang memperoleh antivirus selama hamil ternyata dapat menekan akan penularan ke janin s/d 5%. Tentu saja gak bisa 100% tak terkena infeksi hepatitis B tetapi dari hasil studi pre-protocol yang dilakukan terdapat kelompok ibu hamil yang kasus penularannya 0% setelah diberikan obat antivirus tenovovir. Penelitian ini dilakukan oleh  Calvin Q. Pan MD, Zhongping Duan, M.D., Erhei Dai, M.D., Shuqin Zhang, M.D., Guorong Han, M.D., Yuming Wang, M.D., Huaihong Zhang, M.D., Huaibin Zou, M.D., Baoshen Zhu, M.D.,Wenjing Zhao, M.D., and Hongxiu Jiang, M.D., for the China Study Group for the Mother-to-Child Transmission of Hepatitis B. Tenofovir to Prevent Hepatitis B Transmission in Mothers with High Viral Load. The New England journal of medicine. 2016(374):2324-34. Orang luar negeri itu memang hebat karena mereka niat banget untuk menyehatkan warga negaranya, bandingkan dengan kita… asuransi BPJS saja paket murah minta selamet, paket murah tapi kualitas rendah… pengen Indonesia seperti luar negeri ? mimpiiii… 1000 tahun lagi belum tentu bisa… dah keburu kiamat. kalo BBPJS rugi maka dokter langsung dituduh fraud, rumah sakit dituduh fraud… padahal yang bobrok itu BPJS, masyarakat yang dirugikan… minta rujukan saja… sulitnya ampun-ampun.
  4. apakah saya boleh lahiran normal ataukah saya harus operasi sesar ? dari hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa apapun model persalinannya tidak mencegah atau menurunkan tingkat penularan dari ibu hamil ke janinnya. Oleh sebab itu maka cara melahirkan janinnya mengikuti indikasi obstetric misalnya kalo macet ya sesar, kalo sungsang ya sesar, kalo kepala dibawah maka boleh dicoba untuk lahiran normal. ini rekomendasinya B lo… artinya rekomendasinya kuat banget.
  5. lalu bayi saya yang baru lahir akan diapakan supaya resiko tertular hepatitis B lebih rendah kemungkinannya ? setiap bayi baru lahir dari ibu dengan HBsAg (+) akan diberikan imunoglobulin B (HBiG 100 IU)… harganya sekitar Rp 4.000.000,- saja… lalu diberikan juga vaksinasi hepatitis B. Dari kombinasi di atas maka tingkat penularan turun menjadi 0.08% tetapi bayi tetap akan diikuti dan dipantau oleh dokter anak (tentu saja kalo ibunya bayi mau aktif dan sedikit rewel ke dokter anaknya). Semua tergantung ibunya dan ayahnya, kalo aktif maka pertolongan dokter akan efektif, kalo malas ya resiko tanggung sendiri.
  6. bolehkah ibu nifas hepatitis B menyusui bayinya ? boleh… asalkan bayinya sudah diberikan HBiG dalam 24 jam setelah lahir. apalagi kalo dilanjutkan dengan pemberian vaksinasi hepatitis B dalam 7 hari setelah lahir. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap bayi lahir dari ibu hamil dengan hepatitis B dan bayi tersebut telah diberikan HBiG maka resiko penularan melalui kegiatan menyusui ASI tidak meningkat. sebaiknya ibu nifas hepatitis B diberikan antivirus hepatitis B selama masa menyusui bayinya sesuai dengan anjuran yang diberikan oleh dokter penyakit dalam yang mengobatinya. Dalam ASI ibu akan terdeteksi adanya virus hepatitis tetapi dari hasil penelitian didapatkan bahwa pada bayi yang mendapatkan HBiG saat lahir dan bayi itu menyusui pada ibunya maka tidak terdapat peningkatan resiko penularan dari ibu ke bayi dari aktivitas menyusui tersebut. Dalam bahasa aslinya sebagai berikut: Is there a difference in rates of HBV infections between breast-fed infants and formula-fed infants? While HBV has been detected in the breastmilk of HBsAg-positive women, a recent meta-analysis of 32 studies has reported no differences in rates of HBV infections in breast-fed infants, when compared to formula-fed infants, provided appropriate immunoprophylaxis has been given at birth (Zheng Y, Lu Y, Ye Q, Xia Y, Zhou Y, QingqingYao, et al. Should chronic hepatitis B mothers breastfeed? a meta analysis. BMC Public Health. 2011;11:502).

udah deh… capek nih…

Dr. Cucuk Santoso, SpOG

dokter spesialis kandungan

group facebook:

  1. IBU HAMIL KIUTTT HELLO KITTY
  2. PASIEN DOKTER CUCUK

TULISAN 128. MANFAAT VAKSINASI TDap SELAMA KEHAMILAN (bagian 1)

Batuk rejan/ pertusis adalah penyakit yang sangat menular. Walopun vaksinasi TDap untuk mencegaj penyakit tetanus dan batuk rejan merupakan vaksin yang sangat efektif dan aman pada kehamilan tetapi daya perlindungannya tidak lama sehingga itulah yang menjadi alas an kenapa penyakit batuk rejan masih tetap menjadi hantu pada kehidupan bayi dalam 1 tahun pertama kehidupannya. Namun demikian, ibu hamil yang memperoleh vaksinasi TDap selama kehamilan masih merupakan cara terbaik untuk mencegah batuk rejan dan komplikasinya.

Ingat ya… Hanya Anda yang bisa memberi bayi Anda perlindungan terhadap batuk rejan sebelum bayi Anda lahir. konsultasikan dengan dokter kandungan tentang vaksinasi yang melindungi buah hati anda dari serangan penyakit batuk rejan (pertussis) selama trimester ketiga Anda (perlindungan yang diberikan sejak sebelum bayi anda lahir). Nama vaksin tersebut adalah TDap.

Batuk rejan adalah penyakit serius yang bisa mematikan bagi bayi. Sayangnya, bagi bayi tidak mendapatkan vaksinasi sejak dalam kandungan dan ketika bayi itu lahir maka system pertahanan tubuhnya memulai membangun perlindungan terhadap batuk rejan dalam 2 bulan pertama kelahirannya. Artinya bayi itu usaha sendiri. Berarti ada gap 2 bulan dimana apabila bayi gagal membangun system pertahanan tubuh untuk mencegah terkena penyakit batuk rejan maka tentunya akan sangat berbahaya bagi kehidupan (pernafasan bayi). Nah… hindari celah/ gap system perlindungan ini dengan mendapatkan vaksin batuk rejan selama trimester ketiga kehamilan Anda yaitu ibu hamil sebaiknya melakukan vaksinasi TDap. Kalo di Amerika Serikat vaksinasi ini dimulai pada trimester 3 kehamilan yaitu pada umur 28 minggu ke atas. Dengan melakukan vaksinasi TDap, maka Anda memberikan antibody/ kekebalan kepada bayi Anda sebelum lahir. Antibodi ini membantu melindungi bayi Anda dalam beberapa bulan pertama kehidupan dimana system pertahanannya mulai membangun kekuatan untuk mencegah tertular penyakit berbahaya.

Setiap wanita akan membutuhkan Vaksin Batuk Rejan (vaksin TDap) pada setiap kehamilannya. Bahkan pusat research, pengobatan, dan pengendalian penyakit Amerika Serikat atau yang dikenal dengan sebutan CDC merekomendasikan wanita hamil mendapatkan vaksin batuk rejan (vaksin TDap)  antara 27 dan 36 minggu setiap kehamilan, lebih baik vaksnin itu diberikan pada awal periode waktu tersebut. American College of Obstetricians dan Icon Gynaecologists external dan American College of Nurse-Midwivesexternal icon mendukung rekomendasi ini. Rekomendasi dari CDC ini didukung oleh persatuan dokter spesialis kandungan Amerika Serikat (ACOG).

Mendapatkan vaksin batuk rejan (vaksin TDap) saat Anda hamil sangat aman untuk Anda dan bayi Anda. Efek samping yang paling umum antara lain:

  1. Nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan diberikan.
  2. Sakit kepala.
  3. Pegal-pegal.
  4. Merasa lelah.

Efek samping yang parah sangat jarang. Vaksin batuk rejan tidak menyebabkan penyakit batuk rejan. Mendapatkan vaksin TDap selama kehamilan adalah cara terbaik untuk membantu melindungi bayi Anda dari batuk rejan di awal kehidupannya. Kok bisa ? Ketika bayi — bahkan bayi yang sehat sekalipun — bila terserang batuk rejan, maka ini bisa sangat serius dampaknya karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Bayi tersebut bisa terkena pneumonia (infeksi paru-paru berat yang mengancam nyawa), dan banyak bayi-bayi yang mengalami kesulitan bernapas bila terkena batuk rejan/ pertusis. Angka kematian akibat batuk rejan atau pertussis sangat tinggi yaitu mencapai 50% kasus.

Hmm… kalo di Indonesia rasanya hanya Rumah Sakit tertentu yang menyediakan vaksin TDap. Program pemerintah hanya memberikan suntikan TT pada ibu hamil dan pada bayi baru lahir diberikan vaksinasi DPT. Sebaiknya ibu hamil dapat mengkonsultasikan ke dokter spesialis anak untuk masalah pencegahan penyakit batuk rejan dan tetanus pada bayi.

Bagi ibu hamil dapat follow saya di group facebook:

  1. ibu hamil umum: IBU HAMIL KIUTTT HELLO KITTY
  2. pasien saya pribadi: PASIEN DOKTER CUCUK

setiap pertanyaan di group facebook harus dijawab supaya anda bisa diterima masuk group facebook tersebut.

 

TULISAN 126. DIARE KETIKA HAMIL

Diare selama kehamilan adalah salah satu ketidaknyamanan perut yang dialami oleh beberapa wanita hamil yang lumayan sering terjadi. Diare didefinisikan sebagai buang air besar cair lebih dari 3x dalam periode 24 jam. Nah pada wanita hamil yang diare mesti mendapatkan perhatian khusus yaitu dapat menimbulkan komplikasi dehidrasi akibat kekurangan cairan dan elektrolit. Dehidrasi bisa berakibat serius pada kehamilan, bahkan dapat mematikan. Wanita hamil perlu banyak minum bila mengalami diare, tentunya mengkonsumsi minuman atau makanan berair yang mengandung elektrolit lebih diutamakan. Ingat ya… walopun diare jarang mengancam jiwa bila ditangani dengan baik, tetapi tidak boleh dianggap remeh, terutama saat hamil.

Apa sih yang dapat menyebabkan diare pada wanita hamil ?

  1. Perubahan system hormonal selama hamil.
  2. Perubahan kerja system pencernaan makanan saat kehamilan. Gerakan usus dan lambung akan melambat sehingga kadang-kadang pada sebagian wanita hamil dapat menimbulkan BAB lembek atau bahkan diare.
  3. Saat hamil mengalami perubahan pola makanan yang dimakan sehari-hari daripada makanan biasanya (sebelum hamil). Misalnya selama hamil senang makan golok, ya udah deh akibatnya terjadi diare kecuali wanita hamil tersebut seorang pendekar debus.
  4. Wanita hamil sensitive atau alergi terhadap makanan tertentu.
  5. Penyakit akibat virus.
  6. Penyakit akibat bakteri.

Diare pada trimester ketiga kehamilan merupakan hal yang tidak biasa dan harus lebih mendapatkan perhatian khusus karena terdapat beberapa kemungkinan yaitu:

  1. Lebih mungkin terjadi ketika wanita hamil mendekati tanggal HPL (hari perkiraan lahir). Diare ini bisa menjadi tanda bahwa persalinan sudah dekat, dan itu bisa terjadi tepat sebelum persalinan atau beberapa minggu sebelum persalinan. Yang sangat tidak diharapkan adalah jika terjadi diare jauh beberapa minggu sebelum tanggal HPL yaitu masih pada periode kelahiran prematur sehingga dokter biasanya akan melakukan penanganan segera dan mengevaluasi penyebab diare tersebut sebagai ikhtiar untuk mencegah kontraksi dini sehingga diharapkan tidak berujung pada persalinan premature.
  2. Dapat juga disebabkan oleh kuman bakteri/ virus sehingga perlu segera berobat ke dokter kandungan.

Bagaimana cara mengatasi diare saat hamil ?

  1. Banyak minum.
  2. Rajin makan buah berair.
  3. Makan tambah rajin.
  4. Segera berobat ke dokter kandungan/ dokter penyakit dalam.

Bagaimana cara mencegah terjadinya diare ? sebetulnya tidak semua diare bisa dicegah, tetapi terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh wanita hamil untuk mencegah timbulnya diare akibat penyakit yaitu:

  1. Makan makanan matang.
  2. Minum air yang telah dimasak mendidih. Jangan diminum saat mendidih ya… itu mah sundel bolong yang minum air panas…
  3. Kurangi jajan diluar, lebih baik masak sendiri.
  4. Bagi yang suka buah, jangan makan buah yang tak dikupas sendiri. Cuci buah sebelum mengupas. Hindari buah-buahan yang terkontaminasi tanah misalnya salak, nanas, manga jatuh, dll.
  5. Hindari bepergian jauh ke luar kota terutama ke daerah yang kurang baik sanitasi lingkungannya.
  6. Selalu cuci tangan sebelum makan minum.
  7. Jangan suka memegang atau menyentuh benda-benda di mall seperti karet tangga berjalan, pegangan pagar pembatas lantai mall, sering salaman sama orang lain, dll. Intinya jagalah tangan anda sehingga TAK BERKUMAN.

TULISAN 125. PENYAKIT SYPHILLIS DALAM KEHAMILAN

Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset Treponema pallidum sub-spesies pallidum. Rute utama penularannya melalui kontak seksual; infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital. Penyakit lain yang diderita manusia yang disebabkan oleh Treponema pallidum termasuk frambusia atau patek (subspesies pertenue), pinta (sub-spesies carateum), dan bejel (sub-spesies endemicum).

Ingat… ! Sifilis adalah infeksi yang terutama ditularkan secara seksual. Infeksi sifilis yang tidak diobati pada wanita hamil dapat ditularkan ke janin (sifilis kongenital) setiap saat selama kehamilan atau saat kelahiran. Sifilis kongenital dikaitkan dengan lahir mati, kematian neonatal, dan morbiditas yang signifikan pada bayi. Semua wanita hamil sebaiknya dianjurkan untuk menjalani skrining secara serologis untuk mendeteksi penyakit sifilis sejak awal kehamilan.

Penampilan awal sifilis sulit didiagnosisis secara klinis. Penegakkan diagnosisnya melalui tes darah atau pemeriksaan visual secara langsung menggunakan mikroskop. Pemeriksaan darah adalah cara yang umum digunakan, karena lebih mudah dilakukan. Di Amerika Serikat, sebagian besar negara bagian di sana bahkan mewajibkan skrining sifilis pada saat kunjungan antenatal pertama kali… jadi begitu test hamil positif dan pasien melakukan kontrol ke dokter kandungan, maka secara otomatis pasien hamil harus mau untuk menjalani deteksi dini sifilis dalam kehamilan.

Untuk komunitas dan populasi masyarakat di suatu negara bagian Amerika Serikat yang memiliki prevalensi sifilis tinggi dan untuk wanita berisiko tinggi untuk terjangkit infeksi sifilis maka dianjurkan untuk menjalani tes serologis sifilis dua kali selama trimester ketiga yaitu pada umur kehamilan 28-32 minggu dan diulangi pada saat mendekati persalinan. Sebaiknya wanita yang memiliki kematian janin dalam rahim setelah usia kehamilan 20 minggu dites untuk sifilis.

Skrining untuk infeksi sifilis pada kehamilan terdiri dari dua langkah yaitu:

  1. tes pertama adalah tes antibodi “nontreponemal” – VENEREAL DISEASE RESEARCH LABORATORY (VDRL) atau tes RAPID PALSMA REAGIN (RPR)
  2. tes pendeteksian antibodi “treponemal” – TREPONEMAL PALLIDUM PARTICLE AGGLUTINATION TEST (TPPA/ TPHA).

Wanita hamil dengan hasil seropositif harus dianggap terinfeksi sifilis kecuali terdapat riwayat pengobatan yang adequat dan didokumentasikan dengan jelas dalam catatan medis dan dari hasil pemriksaan ulangan untuk titer antibodi sifilis secara serologis telah menurun secara signifikan. Secara umum, risiko untuk infeksi janin antepartum (dalam rahim) atau sifilis kongenital saat persalinan terkait dengan level/ stadium penyakit  sifilis selama kehamilan, dengan risiko tertinggi terjadi pada stadium primer dan sekunder. Titer serologis nontreponemal wanita hamil secara kuantitatif, terutama jika kadarnya > 1:8, maka mungkin sedang terjadi infeksi sifilis baru dan sedang dalam fase bakteriemia (kuman berjalan dalam darah). Namun demikian, tetap saja risiko infeksi janin masih signifikan pada wanita hamil dengan sifilis stadium laten lanjut walopun titer serologisnya  rendah, dalam hal ini bila wanita hamil belum memperoleh pengobatan yang adequat.

Bila wanita hamil telah diobati secara adequat dan dari hasil follow up titer serologis sifilis stabil dan rendah maka hal demikian tak perlu diberikan pengobatan sifilis lagi. Tetapi bila kadar titer serologisnya meningkat kembali atau setelah pengobatan yang adequat didapatkan kadar titer serologis sifilis tetap tinggi maka menandakan:

  1. infeksi berulang
  2. pengobatan gagal

pengobatan sifilis merupakan pengobatan yang lumayan ada resiko karena kuman sifilis itu kalo dibunuh pakai antibiotika maka kuman yang mati itu menimbulkan racun sehingga dapat menyebabkan reaksi JARISH HERXHEIMER dimana pada wanita hamil lumayan bikin cemas karena dapat menyebabkan kontraksi prematur, lahir prematur, gawat janin dan yang sangat jarang adalah janin game over dalam rahim. Tapi kalo gak diobatin maka janin dan ibunya akan menderita penyakit infeksi sifilis.

Reaksi Jarisch- Herxheimer seringkali dimulai setelah satu jam pengobatan dan bertahan selama 24 jam, dengan gejala demam, nyeri otot, sakit kepala, dan takikardia. Takikardia disebabkan oleh sitokin yang dikeluarkan oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap lipoprotein yang dikeluarkan dari bakteri sifilis yang pecah.

Salah satu pencegahan infeksi sifilis adalah pola kehidupan sex yang sehat dan halal. Suami harus waspada terhadap PELAKOR, isteri juga waspada terhadap PEBINOR.

Apa sih bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyakit sifilis terhadap janin dalam rahim yang dikenal dengan sebutan kongenital syphillis ?

  1. hidrocephalus (kepala besar dan berisi air yang banyak).
  2. Liver janin membesar.
  3. Perut janin membesar dan berisi air.
  4. Kulit bayi terisi air yang dikenal dengan istilah hydrops.
  5. Janin mengalami anemia dalam rahim.

Kalo janin sudah mengalami hal diatas maka tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan selama dalam rahim. Pengobatan tertentu bisa dilakukan setelah bayi lahir misalnya hidrocephalus yang tentu saja mungkin hasilnya tetap tak bisa seperti yang diharapkan.

Wanita hamil yang diketahui menderita syphillis maka disarankan untuk melakukan test HIV. Sifilis terutama ditularkan melalui kontak seksual atau selama kehamilan dari ibu ke janinnya; spiroseta mampu menembus membran mokusa utuh atau ganguan kulit. Oleh karena itu dapat ditularkan melalui mencium area di dekat lesi, serta seks oral, vagina, dan anal. Sekitar 30 sampai 60% dari mereka yang terkena sifilis primer atau sekunder akan terkena penyakit tersebut. Sebagian besar (60%) dari kasus baru di United States of America (USA) terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Penyakit tersebut dapat ditularkan lewat produk darah. Namun, produk darah telah diuji di banyak negara dan risiko penularan tersebut menjadi rendah. Risiko dari penularan karena berbagi jarum suntik tidaklah banyak. Sifilis tidak dapat ditularkan melalui dudukan toilet, aktivitas sehari-hari, bak panas, atau berbagi alat makan serta pakaian.

Bagaimana cara mencegah tertular syphillis ?

  1. Cara yang paling pasti untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual.
  2. Pencegahan yang 100% efektif adalah menikah dengan perawan yang sehat. Jika belum dapat, lampiaskan birahi dengan melakukan masturbasi.
  3. Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan penyakit.
  4. Pastikan toilet yang digunakan higienis, hindari penggunaan toilet duduk di tempat umum.
  5. Segera obati bila ada keluhan seperti di atas.

SUMBER:

  1. Eccleston, K (March 2008). “Primary syphilis”. International journal of STD & AIDS. 19 (3): 145–51. doi:10.1258/ijsa.2007.007258. PMID 18397550
  2. Kent ME, Romanelli F (2008). “Reexamining syphilis: an update on epidemiology, clinical manifestations, and management”. Ann Pharmacother. 42 (2): 226–36. doi:10.1345/aph.1K086. PMID 18212261
  3. “Syphilis – CDC Fact Sheet”. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 16 September 2010.
  4. https://www.cdc.gov/std/tg2015/syphilis-pregnancy.htm
  5. https://en.wikipedia.org/wiki/Jarisch%E2%80%93Herxheimer_reaction
  6. https://id.wikipedia.org/wiki/Sifilis
  7. S. Preventive Services Task, Force (May 2009 19). “Screening for syphilis infection in pregnancy: U.S. Preventive Services Task Force reaffirmation recommendation statement”. Annals of internal medicine. 150 (10): 705–9. PMID 19451577

 

TULISAN 19. PENYAKIT ASTHMA KAMBUH SAAT HAMIL

Penyakit asma selama kehamilan adalah kondisi gangguan pernafasan paling umum yang dapat mempengaruhi fungsi paru-paru selama masa kehamilan. Dari hasil studi epidemiologi penyakit telah diketahui bahwa sebanyak 8 persen wanita hamil di seluruh dunia menderita asma. Banyak wanita hamil yang khawatir tentang apakah kehamilan akan memperparah penyakit asma mereka dan apakah penyakit asma dapat membahayakan janin dalam kandungan. Dengan terapi asma yang tepat dan teratur, kebanyakan wanita hamil dapat bernapas dengan mudah, menjalani kehamilan yang normal, dan melahirkan bayi yang sehat. Secara keseluruhan, resiko penyakit asma yang tidak terkontrol jauh lebih besar daripada resiko mengonsumsi obat-obatan untuk mengendalikan penyakit asma dalam kehamilan.

 

Terapi asma selama kehamilan yang paling memberikan hasil terbaik adalah ketika seorang wanita hamil menerima perawatan medis rutin untuk mengobati asmanya di dokter penyakit dalam dan kontrol kehamilan secara teratur ke dokter kandungan. Ada baiknya sebelum hamil, wanita yang menderita asma mendiskusikan kondisi penyakit asma mereka pada dokter penyakit dalam/ dokter kandungan. Perlu diingat bahwa semua wanita hamil harus melanjutkan pengobatan penyakit asma mereka. Penghentian obat asma pada wanita yang sering kambuh asmanya maka dapat menimbulkan bahaya bagi wanita hamil dan janin dalam kandungannya.

 

Tingkat keparahan asma selama kehamilan bervariasi dari satu wanita ke wanita lain. Selama kehamilan, penyakit asma dapat memburuk/ memberat pada 30% wanita hamil, membaik pada 30% wanita hamil, dan tetap stabil alias sama saja pada 30% wanita hamil. Bahasa gampangnya ya belum jelas apakah asma dapat makin parah atau makin sembuh saat wanita sedang hamil. Terdapat beberapa kondisi yang terjadi pada wanita hamil dengan asthma yaitu:

  1. Di antara wanita yang penyakit asmanya memburuk/ memberat selama kehamilan, ternyata terdapat perbaikan gejala asma antara minggu ke-29 dan ke-36 kehamilan.
  2. Asma umumnya membaik pada bulan terakhir kehamilan, jadi semakin dekat melahirkan maka asmanya biasanya makin jarang kambuh.
  3. Proses persalinan pada wanita hamil yang telah kontrol penyakit asma secara teratur ke dokter penyakit dalam maka penyakit asmanya jarang kambuh selama proses bersalin dan mengejan.
  4. Tingkat keparahan gejala asma selama kehamilan akan terjadi berulang pada kehamilan berikutnya. Artinya bila saat hamil yang sekarang penyakit asmanya sering kambuh maka pada kehamilan berikutnya dapat serupa dengan keparahan pada kehamilan yang sekarang.

 

Faktor-faktor yang meningkatkan atau mengurangi risiko serangan asma selama kehamilan tidak sepenuhnya jelas. Kemungkinan serangan ini tidak konstan/ tidak terjadi terus menerus sepanjang kehamilan; serangan asma tampaknya paling sering antara minggu 17 hingga 24 kehamilan. Penyebab untuk pola ini tidak diketahui, diduga karena beberapa wanita hamil berhenti menggunakan obat pengontrol asma disebabkan oleh rasa takut mereka menggunakan obat-obatan selama hamil. Padahal penghentian obat asma pada wanita yang sering kambuh asmanya dapat menimbulkan bahaya bagi wanita hamil dan janin dalam kandungannya.

 

Wanita yang menderita asma memiliki sedikit peningkatan resiko untuk terjadinya komplikasi kehamilan meskipun sebab-sebabnya belum  diketahui sampai saat ini. Wanita hamil dengan penyakit asma sedikit lebih mungkin untuk memiliki satu atau lebih komplikasi kehamilan sebagai berikut:

  1. Darah tinggi pada kehamilan/ pre-eclampsia.
  2. Kelahiran prematur/ kurang bulan.
  3. Lebih sering terpaksa dilakukan operasi sesar untuk menyelamatkan ibu/ janin dalam kandungannya.
  4. Berat badan bayi yang baru lahir lebih kecil daripada bayi wanita yang tidak asma.

 

Namun, sebagian besar wanita dengan asma dan bayi mereka TIDAK memiliki komplikasi selama kehamilan. Kontrol teratur untuk pengobatan penyakit asma yang baik selama kehamilan dapat mengurangi risiko untuk terjadinya komplikasi selama kehamilan dan persalinan.

 

Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengendalikan faktor lingkungan yang dapat memperburuk penyakit asma dan memicu serangan asma, antara lain:

  1. Hindari paparan alergen tertentu yang diketahui menyebabkan gejala asma wanita hamil, terutama bulu hewan peliharaan (seperti bulu atau bulu), debu rumah, dan iritasi nonspesifik, seperti asap rokok, parfum yang wanginya kuat bingits, dan berbagai zat polutan.
  2. Tutup kasur dan bantal dengan penutup plastik atau pakai seprei anti tungau untuk mengurangi paparan tungau dan debu.
  3. Wanita hamil tidak boleh merokok dan jangan mengizinkan siapapun termasuk suami untuk merokok di lingkungan sekitar rumah. Suami kalo mau merokok maka perginya ke terminal atau lapangan bola saja.
  4. Wanita yang akan hamil selama musim hujan/ musim pancaroba sebaiknya mendapatkan suntikan flu di dokter penyakit dalam; vaksinasi flu tidak berbahaya bagi kehamilan. Vaksinasi flu diberikan 1 tahun sekali.

TULISAN 31. LUKA OPERASIKU BASAH

Mungkin kita pernah mengalami peristiwa infeksi pada bekas luka operasi. Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna yaitu adanya kulit manusia. Kulit ini berfungsi sebagai pelindung bagi tubuh untuk mencegah terjadinya infeksi. Tetapi apakah yang terjadi bila kulit kita terluka ? baik karena irisan pisau saat operasi, terjatuh dari sepeda, lecet akibat sepatu, dan lain-lain… semua hal tersebut dimana kondisi kulit sudah berubah dari aslinya maka sangat beresiko untuk menimbulkan infeksi karena berarti benteng pertahanan tubuh sudah koyak atau sudah terbuka.

Saat ini kebetulan saya memperoleh ide untuk membahas infeksi pada luka bekas operasi. Makanya ayo gabung di grup ibu hamil kiuttt hello kitty supaya memperoleh pengetahuan di seputar kehamilan, persalinan (operasi sesar ataupun lahiran normal) dan masa-masa nifas serta menyusui. Prinsip operasi adalah melakukan upaya pertolongan terhadap pasien. Persiapan operasi adalah berusaha untuk meminimalkan resiko terhadap pasien dengan kondisi seoptimal mungkin. Kamar operasi adalah tempat yang paling bersih dan paling steril di dalam wilayah rumah sakit.

Setiap petugas rumah sakit akan melakukan berbagai upaya sangat ketat untuk mencegah timbulnya infeksi pada pasien yang dioperasi. Tidak semua orang boleh masuk kamar operasi. Harus menggunakan pakaian khusus dan alas kaki khusus kamar operasi. Tapi… tetap saja resiko infeksi selalu mengincar pasien. Kok bisa ? ya. Karena kulitnya sudah tidak utuh lagi alias bekas diiris pisau operasi sehingga sangat mungkin untuk dimasuki oleh kuman kapan saja dan dimana saja.

Infeksi pada bekas operasi dikenal dengan sebutan SURGICAL SITE INFECTIONS atau dalam bahasa sunda disebut dengan INFEKSI LUKA OPERASI. Memangnya berapa persen sih kemungkinan untuk terjadinya infeksi pada bekas operasi ? 1-3% pasien yang dilakukan operasi akan mengalami infeksi karena tidak mungkin manusia bisa 100% mencegah kuman untuk masuk ke dalam tubuh. Artinya bila ada 100 orang yang menjalani operasi maka akan terdapat 1-3 orang yang mengalami infeksi. Itu hasil penelitian di luar negeri (Amerika Serikat) dimana beda alam beda cuaca dengan Indonesia. Kalo di negara tropis (2 musim ) seperti di indonesia maka angkanya mesti lebih tinggi karena kumannya akan lebih banyak sebab kelembaban udaranya juga tinggi.

Infeksi pada luka operasi biasanya terjadi dalam 30 hari pertama pasca operasi. Semakin lama maka kemungkinan infeksi akan makin kecil. Center for Desease Control di Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap infeksi luka operasi dan menemukan bahwa terdapat 3 jenis infeksi luka operasi yaitu antara lain:

  1. Superficial incisional SSI (infeksi pada bagian kulit s/d lemak saja).
  2. Deep incisional SSI (infeksi pada bagian otot dan jaringan tubuh sekitar otot).
  3. Organ/ space SSI (infeksi yang mengenai jaringan selain kulit, lemak, otot, dan jaringan sekitar otot). Pada infeksi jenis ini dapat mengenai jaringan berada jauh dibawah otot bahkan termasuk jaringan disekitar organ tempat operasi. Misalnya operasi sesar yang dioperasi adalah rahim tapi mungkin saja ususnya ikutan infeksi, atau lemak perut dalam ikutan infeksi, dan lain-lain.

Apa saja sih gejala dan tanda kemungkinan terjadinya infeksi pada luka operasi ? Infeksi luka operasi apapun dapat menyebabkan gejala dan tanda yang mungkin sama yaitu merah pada bekas lukanya, sembuhnya lama, demam tinggi, nyeri banget pada bekas luka operasi, kalo disentuh terasa panas/ hangat pada tempat operasinya, terasa lembek/ becek, bengkak, dan ditemukan adanya nanah.

Apa sih penyebab luka bisa infeksi setelah operasi ? Lalu faktor resiko apa saja yang memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi pada luka bekas operasi ?

Infeksi pada luka operasi disebabkan oleh kuman. Kuman yang paling sering menimbulkan infeksi pada luka operasi adalah bakteri stafilokokus, bakteri streptokokus, dan bakteri pseudomonas. Darimana asal datangnya kuman tersebut ? sebagian besar kuman (90%) berasal dari kulit tubuh pasien, dapat pula kuman yang terbang di udara, dan bisa juga walopun sangat sangat jarang berasal dari peralatan yang digunakan untuk menolong pasien. Dulu kasus infeksi sangat banyak karena pasien banyak berobat di luar rumah sakit, padahal tingkat sterilitas peralatan di rumah sakit sangat tinggi.

Kuman itu sifatnya seperti manusia, suka berjalan-jalan dan berusaha untuk meraih kenikmatan. Nah… bau amis dari darah bekas operasi, bau amis dari cairan lemak tubuh, dan lain-lain itu sangat digemari oleh kuman sehingga kuman berusaha untuk masuk ke dalam tempat dimana kulitnya sudah tidak utuh (bekas irisan saat operasi). Ukuran kuman sangat kecil dan tidak bisa dilihat oleh mata sehingga serapat-rapatnya bekas irisan itu dijahit maka kuman tetap bisa masuk. Sehingga upaya dari pihak dokter dan pasien adalah hanya untuk meminimalkan terjadinya infeksi, tetapi perlu diingat bahwa upaya tersebut tidak bisa mencegah 100%.

Faktor resiko untuk terjadinya infeksi sebetulnya juga tergantung dari jenis operasinya, walopun tidak 100% selalu demikian. Ada beberapa jenis/ golongan operasi di dalam dunia kedokteran, antara lain:

  1. Operasi bersih (clean surgery). Operasi ini dilakukan dengan tidak melibatkan organ dalam tubuh manusia, tidak melibatkan saluran nafas, tidak melibatkan usus, tidak melibatkan lambung, tidak melibatkan rahim, tidak melibatkan kandung kencing, hmmm… pokoknya tidak ada organ dalam tubuh manusia yang terlibat, murni hanya di kulit saja. Tempat operasinya tidak mengalami infeksi, tidak ada infeksi didekat luka operasi, dan pasien sedang tidak mengalami sakit infeksi apapun. Pada saat operasi tidak menyebabkan daerah yang sudah steril rawan terkontaminasi kuman. Operasinya tidak emergensi. Semua operasi bersih pasti dilakukan secara terjadwal (tidak emergensi), tetapi tidak semua operasi elektif (terjadwal) adalah operasi bersih.
  2. Operasi bersih terkontaminasi (clean contaminated surgery). Pada saat dilakukan operasi, daerah operasi bukan merupakan daerah yang terinfeksi tetapi operasinya melibatkan organ jaringan tubuh bagian dalam, operasi melibatkan bagian saluran nafas, operasi melibatkan bagian rahim, melibatkan usus, melibatkan lambung, melibatkan saluran kencing, dan lain-lain. Pada operasi jenis ini, daerah operasi sangat mungkin terkontaminasi oleh kuman karena sangat berdekatan atau berhubungan dengan daerah yang tidak dioperasi tetapi memiliki banyak kuman disana. Contohnya operasi menjahit kandung kencing. Pada kandung kencing terdapat kuman. Nah begitu kandung kencing di iris oleh dokter maka kuman tersebut bergembira ria karena kuman memiliki celah walopun sebesar ujung jarum untuk masuk ke dalam rongga perut. Bila kumannya agresif bin korak bin preman maka kuman tersebut langsung nembus maksa masuk ke dalam rongga perut dan menimbulkan infeksi. Contoh lagi misalnya operasi sesar. Begitu rahim diiris maka kuman-kuman yang ada di dalam vagina akan jingkrak-jingkrak kegirangan karena dapat celah untuk masuk ke dalam rahim dan ke dalam rongga perut sehingga dapat menimbulkan infeksi. Apalagi lagi tempat operasi akan terkontaminasi oleh cairan ketuban bayi sehingga resiko untuk infeksi akan makin tinggi. Contoh lagi pada ibu hamil yang melahirkan normal. Begitu vagina luarnya di gunting untuk memudahkan bayi untuk lahir maka kuman-kuman vampir yang ada di vagina mencium bau darah segarrrrdan berbondong-bondong menyerbu daerah tersebut. Contoh lagi pada saat operasi usus buntu. Begitu usus buntu dipotong maka kuman-kuman dalam usus langsung lari pontang panting menuju tempat yang dipotong tersebut karena dapat kesempatan untuk nembus ke dalam perut. Ini baru kuman yang dekat daerah operasi, belum lagi kuman yang ada di kulit manusia. Walopun sudah mandi 100x tetap saja tidak bisa steril 100%. Alat operasi yang diseteril dengan tekanan uap api super tinggi dan dibakar saja yang bisa 100%, tapi masak tubuh manusia mau dibakar ? ntar bisa-bisa tumornya kembali ke alam baka, orang yang punya tumor ikutan balik ke alam baka nemenin tumornya.
  3. Operasi terkontaminasi (contaminated surgery). Operasi ini dilakukan pada organ tubuh bagian dalam yang sedang mengalam infeksi, pada kulit yang infeksi, pada usus yang infeksi, pada saluran nafas yang infeksi, pada ginjal yang infeksi, pada rahim yang infeksi, dan lain lain.
  4. Operasi kotor (dirty surgery). Operasi ini dilakukan pada daerah yang sungguh-sungguh tercemar kuman. Misalnya operasi patah tulang dengan tulang diluar, operasi kecelakaaan ditubruk pesawat terbang, dan lain-lain.

Walopun penggolongan jenis operasi juga termasuk dalam faktor resiko terjadinya infeksi tetapi tetap saja sangat sulit untuk menentukan apa sih kira-kira yang menjadi sebab infeksi pada suatu operasi. Kondisi yang ditemukan pada saat operasi dapat merubah golongan operasi dari golongan operasi bersih menjadi golongan operasi bersih terkontaminasi dan seterusnya. Yang pasti adalah adanya luka sehingga ada celah bagi kuman untuk masuk ke dalam tubuh kita. Dan kuman sangat senang untuk tumbuh dalam darah, cairan lemak, cairan tubuh lainnya, dan berlanjut untuk tumbuh berkembang biak di daerah tersebut.

Faktor resiko lain yang juga memungkinkan untuk terjadinya infeksi antara lain:

  1. Operasinya sulit dan lama, biasanya lebih dari 2 jam.
  2. Punya penyakit pada saat operasi. Misalnya sedang flu, sedang sakit saluran kencing, sedang sakit paru-paru, sakit kanker, dan lain-lain.
  3. Usianya sudah diatas 35 tahun.
  4. Gemuk/ obesitas. Kalo lemaknya tebal maka produksi cairan lemaknya mesti banyak sehingga lukanya basah terus.
  5. Merokok/ lingkungannya banyak asap rokok
  6. Sistem pertahanan tubuh yang menurun, bisa diakibatkan oleh kelelahan, kurang tidur, stress, pikiran, dan lain-lain.
  7. Punya kencing manis (diabetes mellitus)
  8. Operasi darurat
  9. Semua operasi pada daerah perut dan atau dada.

Bahan-bahan yang dipakai untuk operasi juga bisa menimbulkan reaksi berlebihan oleh tubuh. Misalnya benang operasi. Benang operasi itu dibuat dari protein hewan yang diberikan bahan kimia lalu diproses di pabrik sehingga mejadi benang. Nah berarti benang adalah benda asing dalam tubuh kita. Bila tubuh kita menolak benang tersebut maka akan terjadi reaksi oleh tubuh, bisa keluar cairan, bisa lukanya terbuka, bisa alergi, dan lain-lain.

Bagaimana cara mengurangi resiko infeksi pada tempat operasi ketika kita sedang di rumah ? prinsipnya adalah cuci tangan sesering mungkin. Pada saat membersihkan luka operasi maka suami mesti cuci tangan sebelum merawat luka dan setelah merawat luka. Luka operasi jangan dipegang tanpa kassa steril atau sarung tangan steril. Lebih baik lagi jangan dipegang-pegang kecuali oleh bidan atau dokter. Bila punya kencing manis maka kadar gula darahnya harus normal. Bila gemuk maka harus lebih aktif membersihkan.

Jangan cemas, jangan kuatir, dan jangan panik karena tidak semua infeksi luka operasi harus dijahit ulang walopun lukanya terbuka ataupun bolong. Pakaian kita harus benar-benar bersih dan rajin ganti softex dan atau ganti pakaian dalam. Baju diganti 2x/ sehari. Kalo ada rasa nyeri atau demam atau keluar nanah atau keluar cairan kuning atau keluar darah maka segera kontrol ke dokter.

Sebagian besar luka infeksi pada bekas operasi dapat diobati menggunakan antibiotika. Kadang-kadang dibutuhkan operasi ulang untuk merawat luka yang terinfeksi misalnya untuk mengalirkan nanah, untuk mengangkat bagian tubuh yang infeksi, untuk mengikat pembuluh darah yang bandel (kadang-kadang pembuluh darah itu diikat dikiri, terus pindah cari jalan ke kanan. Hal ini karena pembuluh darah itu saling bercabang/ terhubung), bahkan kadang-kadang pula luka operasi memang harus dibiarkan terbuka supaya lebih mudah untuk membasmi kuman dan supaya tidak menimbulkan penumpukan kuman.