KB


Mari kita tingkatkan kesadaran akan perencanaan keluarga, kesehatan reproduksi dan seksual serta ikut serta aktif dalam berkontrasepsi.

Saat ini gaung keluarga berencana sudah tidak sekencang masa orde baru. Ledakan penduduk yang menggerogoti hasil pembangunan semakin mengancam. Sudah tidak susah lagi menemui keluarga dengan jumlah anak lebih dari 3.

Dewasa ini banyak metode KB yang ditawarkan. Mulai dari hormonal, mekanik maupun teknik. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.

Fakta bahwa 9% dari pasangan usia subur di Indonesia tidak ber-kontrasepsi, sehingga dapat menimbulkan kehamilan yang tidak diharapkan.

Usia ideal untuk mempunyai anak adalah 20-35 tahun. Artinya … jangan hamil dulu untuk wanita kurang dari 20 tahun, dan juga stop hamil lagi untuk wanita di atas 35 tahun.

Untuk yang berusia ideal 20-35 th, punya anak 2 saja dan atur jarak kelahirannya.

Kontrasepsi berasal dari kata kontra = tidak, konsepsi = pembuahan. Jadi kontrasepsi artinya mencegah terjadinya pembuahan / kehamilan baik sementara maupun permanen.

Tujuan dari kontrasepsi adalah mencegah jangan sampai hamil. Untuk itu di bawah ini disajikan tabel efektifitas relatif beberapa metoda KB dengan skala penilaian Pearl Index.

Yang dimaksud dengan Pearl Index adalah jumlah dari total 100 peserta KB yang gagal dengan memakai 1 metoda kontrasespi dalam kurun waktu 1 tahun.

Pearl Index ini sangat relatif, diantaranya dipengaruhi oleh kondisi akseptor KB maupun “kebenaran” cara pakai alat KB-nya itu sendiri.

 

Pearl Index KB Hormonal

 

KB PI
Pil Kombinasi 0,1
Pil Progesteron 2
Suntik 1 bulan 1
Suntik 3 bulan 1,1
Susuk 1

 

Pearl Index KB Mekanik

 

KB PI
Spiral 1-5
Kondom 10
Spermatisida 20

 

Pearl Index KB Teknik

 

KB PI
Senggama Terputus 17
KB Kalender 23

 

Pearl Index tanpa Kontrasepsi: 80

KETUBAN KURANG / OLIGOHIDRAMNION

Oligohidramnios atau disebut juga oligohidramnion adalah salah satu masalah kehamilan yang ditandai dengan jumlah cairan ketuban yang terlalu sedikit. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan kehamilan, misalnya persalinan prematur.

Cairan ketuban adalah cairan yang terdapat di dalam rahim selama kehamilan berlangsung. Cairan ini berwarna bening kekuningan dan tidak berbau, serta terdiri atas beragam nutrisi, hormon, dan sel yang berfungsi untuk mendukung perkembangan janin.

Selain berperan penting dalam tumbuh kembang janin, cairan ketuban juga memiliki banyak fungsi lain, di antaranya:

  • Melindungi janin dari guncangan atau cedera fisik dan infeksi
  • Menjaga suhu di dalam rahim tetap hangat
  • Mencegah tekanan pada tali pusat yang mengganggu pasokan oksigen pada bayi
  • Membantu pembentukan dan pematangan organ tubuh janin
  • Memberi ruang bagi janin untuk bergerak guna mendukung perkembangan tulang dan ototnya.

Akan tetapi, fungsi tersebut dapat diperoleh jika jumlah cairan ketuban di dalam rahim ibu hamil tidak terlalu banyak atau sedikit. Apabila volume cairan ketuban kurang dari jumlah normal, ibu hamil dapat dikatakan menderita oligohidramnios. Kondisi ini berisiko menimbulkan berbagai masalah bagi kesehatan janin.

Proses Terbentuknya Kantung dan Cairan Ketuban

Kantung ketuban terbentuk 12 hari setelah terjadi pembuahan, yang disertai cairan ketuban di dalamnya. Pada trimester kedua kehamilan, bayi mulai dapat bernapas, menelan cairan ketuban, dan mengeluarkannya sebagai urine. Hal ini bertujuan agar jumlah cairan ketuban tetap terjaga dan stabil.

Ketersediaan cairan ketuban dalam kadar normal, penting untuk menjaga kondisi janin tetap sehat serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.

Di usia kehamilan 34–36 minggu, seorang ibu hamil rata-rata akan memiliki sekitar 1 liter cairan ketuban di dalam kandungannya. Setelah itu, cairan ini perlahan akan berkurang seiring waktu persalinan yang semakin dekat.

Untuk memantau jumlah cairan ketuban dan kondisi janin, ibu hamil bisa melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin ke dokter.

Seputar Oligohidramnios dan Penyebabnya

Oligohidramnios adalah kondisi saat volume atau kadar air ketuban terlalu sedkit. Kondisi ini sering kali tidak bergejala, sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa USG oleh dokter untuk mengetahui kadar cairan ketuban.

Saat menjalani pemeriksaan, ibu hamil dapat dikatakan menderita oligohidramnios bila memiliki kondisi sebagai berikut:

  • Indeks cairan ketuban menunjukkan kadar cairan kurang dari 5 cm pada akhir trimester kedua.
  • Jumlah cairan ketuban kurang dari 500 ml ketika usia kehamilan sudah mencapai 32–36 minggu.

Sebaliknya, jika cairan ketuban di dalam tubuh ibu hamil jumlahnya berlebihan, kondisi ini disebut polihidramnion. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko komplikasi pada kehamilan.

Oligohidramnios dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

  • Gangguan plasenta
  • Kelainan pada janin, misalnya kelainan genetik dan IUGR
  • Kebocoran kantung ketuban, misalnya karena ketuban pecah dini
  • Persalinan yang lewat dari tanggal perkiraan
  • Penyakit tertentu, seperti diabetes dan hipertensi
  • Dehidrasi

Oligohidramnios dapat terjadi kapan saja, tetapi kondisi ini lebih sering terjadi di trimester ketiga kehamilan. Selain itu, ibu hamil yang mengandung bayi kembar juga lebih berisiko mengalami oligohidramnios.

Ibu hamil yang mengalami oligohidramnios berisiko tinggi mengalami keguguran akibat cacat bawaan pada janin. Namun, jika kondisi ini terdiagnosis menjelang trimester akhir kehamilan, risiko yang lebih umum terjadi adalah kelahiran prematur.

Terkadang, dokter akan merekomendasikan ibu hamil yang mengalami oligohidramnios untuk melahirkan dengan operasi caesar.

Beberapa Langkah Penanganan Oligohidramnios Yang Dapat Dilakukan Oleh Ibu Hamil

Penanganan oligohidramnios tergantung pada kondisi bayi, usia kehamilan, dan ada atau tidaknya komplikasi selama kehamilan. Untuk menangani oligohidramnios, dokter dapat melakukan beberapa penanganan berikut ini:

1. Pemantauan berkala

Agar dapat terpantau lebih ketat, dokter biasanya akan menyarankan ibu hamil yang menderita oligohidramnios untuk menjalani pemeriksaan kandungan dan USG lebih sering dari jadwal pada umumnya. Nah itula pentingnya pemeriksaan USG, jadi jangan takut untuk periksa USG ke dokter kandungan secara rutin karena alat USG tidak berbahaya bagi janin karena alat USG tak mengeluarkan radiasi.

2. Minum lebih banyak air putih

Ibu hamil dengan oligohidramnios biasanya akan dianjurkan untuk minum air putih lebih banyak agar jumlah cairan ketuban bisa bertambah. Jika ibu hamil sulit makan dan minum atau berisiko mengalami dehidrasi, dokter mungkin akan memberikan terapi cairan melalui infus.

MUAL MUNTAH HEBAT DALAM KEHAMILAN

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang muncul secara berlebihan selama hamil. Mual dan muntah (morning sickness) pada kehamilan trimester awal sebenarnya normal. Namun pada hiperemesis gravidarum, mual dan muntah dapat terjadi sepanjang hari dan berisiko menimbulkan dehidrasi.

Tidak hanya dehidrasi, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan ibu hamil mengalami gangguan elektrolit dan berat badan turun. Hiperemesis gravidarum perlu segera ditangani untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

Penyebab Hiperemesis Gravidarum

Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, namun kondisi ini sering kali dikaitkan dengan tingginya kadar hormon human chorionic gonadotropin (HCG) dalam darah. Hormon ini dihasilkan oleh ari-ari (plasenta) sejak trimester pertama kehamilan dan kadarnya terus meningkat sepanjang masa kehamilan.

Ada beberapa kondisi yang membuat ibu hamil lebih berisiko mengalami hiperemesis gravidarum, yaitu:

  • Baru pertama kali mengandung
  • Mengandung anak kembar
  • Memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami hiperemesis gravidarum
  • Mengalami hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya
  • Mengalami obesitas
  • Mengalami hamil anggur

Gejala Hiperemesis Gravidarum

Gejala utama hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah saat hamil, yang bisa terjadi hingga lebih dari 3-4 kali sehari. Kondisi ini bisa sampai mengakibatkan hilangnya nafsu makan dan penurunan berat badan. Muntah yang berlebihan juga dapat menyebabkan ibu hamil merasa pusing, lemas, dan mengalami dehidrasi.

Selain mual dan muntah secara berlebihan, penderita hiperemesis gravidarum juga dapat mengalami gejala tambahan berupa:

Gejala hiperemesis gravidarum biasanya muncul di usia kehamilan 4-6 minggu dan mulai mereda pada usia kehamilan 14-20 minggu.

Kapan harus ke dokter

Ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin ke dokter kandungan, sejak awal kehamilan. Tindakan ini dilakukan untuk memantau kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Jadwal pemeriksaan kehamilan yang dianjurkan adalah:

  • Usia kehamilan 4-28 minggu: 1 kali tiap 1 bulan (kontrol tiap 1 bulan)
  • Usia kehamilan 28-36 minggu: 1 kali tiap 2 minggu (kontrol tiap 2 minggu)
  • Usia kehamilan 36-40 minggu: 1 kali tiap 1 minggu (kontrol tiap 1 minggu)

Di samping melakukan pemeriksaan rutin, ibu hamil perlu segera memeriksakan diri ke dokter jika mual dan muntah bertambah parah atau disertai dengan:

  • Pusing.
  • Tidak mau makan atau minum selama 12 jam.
  • Sakit perut.
  • Timbul gejala dehidrasi, seperti lemas, jarang buang air kecil, kulit kering, dan jantung berdebar.
  • Muntah darah.
  • Berat badan turun drastis.

Diagnosis Hiperemesis Gravidarum

Dalam mendiagnosis hiperemesis gravidarum, dokter akan menanyakan gejala dan memeriksa riwayat kesehatan ibu hamil dan keluarga. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk melihat dampak dari hiperemesis gravidarum, seperti tekanan darah rendah dan denyut jantung cepat.

Dari pemeriksaan fisik tersebut, dokter dapat menentukan apakah muntah yang dialami ibu hamil masih normal atau sudah berlebihan (hiperemesis gravidarum). Untuk melihat lebih detail akibat dari hiperemesis gravidarum, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan.

Pemeriksaan lanjutan tersebut dapat dilakukan dengan tes darah dan urine. Tes ini dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda dehidrasi dan gangguan elektrolit yang dapat muncul akibat terjadi hiperemesis gravidarum. USG kehamilan juga dilakukan untuk memantau kondisi janin dan mendeteksi kelainan dalam kandungan.

Selain itu, untuk memastikan gejala mual dan muntah yang dialami ibu hamil bukan disebabkan oleh suatu penyakit, misalnya penyakit liver, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, misalnya uji fungsi hati.

Pengobatan Hiperemesis Gravidarum

Berbeda dengan morning sickness yang penanganannya dapat dilakukan di rumah, penderita hiperemesis gravidarum perlu menjalani perawatan di rumah sakit. Pengobatan yang diberikan ditentukan berdasarkan tingkat keparahan gejala dan kondisi kesehatan ibu hamil secara keseluruhan.

Pengobatan dilakukan dengan tujuan untuk menghentikan mual dan muntah, mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat muntah berlebihan, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta mengembalikan nafsu makan.

Beberapa obat yang dapat dokter diberikan kepada ibu hamil dengan mual muntah adalah:

  • Obat antimual, seperti promethazine, ondancentron, dll
  • Vitamin B1 atau tiamin.
  • Pyridoxine atau vitamin B6.
  • Suplemen vitamin dan nutrisi.

Jika hiperemesis gravidarum menyebabkan ibu hamil tidak mampu menelan cairan atau makanan sama sekali, obat dan nutrisi akan diberikan melalui infus. Selain melalui infus, ibu hamil juga dapat menerima asupan makanan melalui selang makan.

Komplikasi Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum dapat membahayakan kondisi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Mual dan muntah yang berlebihan akan menyebabkan ibu hamil kehilangan banyak cairan, sehingga berisiko mengalami dehidrasi dan gangguan elektrolit.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, kedua kondisi ini dapat menimbulkan deep vein thrombosis (trombosis vena dalam) pada ibu hamil. Beberapa komplikasi lain yang dapat terjadi adalah:

Jika penanganan tidak segera dilakukan, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan organ-organ tubuh ibu hamil gagal berfungsi dan bayi terlahir prematur.

Pencegahan Hiperemesis Gravidarum

Langkah pencegahan hiperemesis gravidarum belum diketahui. Meski begitu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meredakan morning sickness sehingga tidak berkembang menjadi hiperemesis gravidarum, yaitu:

  • Memperbanyak istirahat untuk meredakan stres dan menghilangkan rasa lelah.
  • Mengonsumsi makanan tinggi protein, rendah lemak, dan bertekstur halus agar mudah ditelan dan dicerna.
  • Mengonsumsi makanan dalam porsi kecil, namun sering. Hindari makanan berminyak, pedas, atau berbau tajam yang dapat memicu rasa mual.
  • Memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi, dan mengonsumsi minuman yang mengandung jahe untuk meredakan mual dan menghangatkan tubuh.
  • Mengonsumsi suplemen kehamilan untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan zat besi selama hamil.
  • Menggunakan aromaterapi untuk mengurangi mual di pagi hari.

Menjaga kesehatan kehamilan selama trimester pertama juga penting dilakukan untuk mencegah hiperemesis gravidarum. Salah satunya adalah dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.

Pemeriksaan kehamilan umumnya dilakukan sejak usia kehamilan 4 minggu, untuk memantau perkembangan janin dan mendeteksi secara dini kelainan yang mungkin dialami oleh janin.

Kehamilan Etopik, Kehamilan Molar, dan Kehamilan Kosong (Brighted Ovum)

Kehamilan ektopik terjadi jika hasil pembuahan tidak tertempel di tempat yang semestinya (rahim). Sembilan puluh persen kehamilan ini menyebabkan embrio menempel pada tuba, selain itu embrio juga bisa menempel pada ovarium atau serviks.

Kehamilan ini bisa terjadi akibat adanya infeksi punggung, kerusakan tuba falopi, operasi perut, atau penggunaan kontrasepsi IUD (Intra Uterine Device/spiral) bagi ibu. Berhubung embrio tumbuh di tempat yang tidak semestinya, maka kemungkinan terjadi perobekan perut yang berakibat pada pendarahan hebat jika kehamilan membesar sangat mungkin terjadi.

Untuk menangani kehamilan etopik, dokter akan melakukan salah satu dari cara berikut ini, yaitu dengan melakukan pembedahan. Dokter akan memutus tuba falopi sehingga akan memengaruhi kesuburan ibu. Kemungkinan lain, dokter akan memberikan pengobatan dengan memberikan obat sejenis obat kanker yang bekerja mematikan sel yang tumbuh sehingga kehamilan dapat berakhir. Kedua car ini akan dilakukan Ketika kehamilan belum membesar.

Lalu, apa pula yang disebut dengan kehamilan molar? Kehamilan molar juga disebut Gestational Trophoblastic Neoplasia (GTN). Kehamilan ini terjadi karena adanya pertumbuhan yang abnormal dari bagian trophoblast placenta. Oleh karena bentuknya mirip dengan buah anggur, maka sering disebut dengan kehamilan anggur.

Kehamilan ini ditandai dengan pendarahan di awal kehamilan, ukuran yang terlalu besar dari usianya, adanya kista, dan hiperemesis. Tidak ada cara lain yang akan ditempuh dokter selain dengan pembersihan rahim (kuret), disertai dengan pengobatan antikanker tertentu. Ibu harus memantau dan melakukan pengendalian, sehingga bisa me mastikan kehamilan molar benar-benar hilang, dan kondisi ibu siap menyambut kehamilan yang semestinya.

Jenis kehamilan yang bisa menjadikan seorang ibu merasa takut adalah jenis kehamilan kosong (blighted ovum). Blighted ovum adalah suatu kehamilan tanpa dijumpai adanya pertumbuhan embrio. Saat dilakukan tes kehamilan, calon ibu dinyatakan positif hamil dan mereka juga merasakan gejala gejala wanita hamil seperti umumnya. Seperti mual, pusing, cepat lelah, dan payudara yang mengeras.

Pada kehamilan kosong, plasenta dan kantung kehamilan tetap berkembang secara normal, yang menjadi masalah hanyalah perkembangan janinnya. Kehamilan kosong terjadi karena sel telur yang dibuahi tidak berhasil berkembang secara sempurna. Meski kantung kehamilan terus membesar, namun perkembangan janinnya sama sekali tidak terjadi. Saat kehamilan berusia kurang lebih satu setengah bulan, saat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG), hanya akan terlihat kantung kehamilan saja tanpa ada gambar janinnya.

Sekitar 60% blighted ovum disebabkan kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel telur dan sperma. Infeksi TORCH, rubella, dan streptokokus, penyakit kencing manis (diabetes mellitus) yang tidak terkontrol, rendahnya kadar beta HCG serta faktor imunologis seperti adanya antibodi terha- dap janin juga dapat menyebabkan blighted ovum. Risiko juga meningkat bila usia suami atau istri semakin tua karena kualitas sperma atau ovum menjadi turun.

Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil kuretase akan dianalisis untuk memastikan apa penyebab blighted ovum lalu mengatasi penyebabnya. Jika karena infeksi maka dapat diobati sehingga kejadian ini tidak berulang.

Jika penyebabnya antibody maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak dapat hamil sungguhan.

Tips Berpuasa Saat Hamil

Tubuh bumil perlu energi selama puasa, begitu juga bayi dalam kandungan. Ini alasannya puasa saat hamil perlu didukung berat badan dan gaya hidup sehat, bahkan sejak sebelum hamil. Agar bumil dapat berpuasa dengan nyaman dan aman, ada panduan yang dapat diikuti, yaitu :

1. Penuhi Kebutuhan Cairan Tubuh

Dilansir dari laman Unair, ibu hamil juga bisa mengalami risiko dehidrasi saat puasa. Normalnya dalam satu hari manusia membutuhkan asupan cairan sebanyak 2 liter. Bila dikonversi dalam takaran gelas menjadi delapan gelas. Pertanda dehidrasi yang harus diwaspadai oleh ibu hamil adalah rasa haus yang berlebihan dan urine yang berwarna pekat serta produksinya berkurang. Bila sudah demikian puasa tidak boleh dipaksakan. 

2. Kurangi Tempo Olahraga 

Ibu hamil disarankan untuk mengurangi tempo olahraga. Namun tidak dilarang untuk melakukan aktivitas fisik seperti senam hamil, yoga, maupun berjalan santai asalkan semua terawasi dokster kandungan maupun pelatih yang tersertifikasi. 

3. Tidak Berbuka dengan Karbo Berlebihan 

Karbo berlebihan saat berbuka tidak disarankan untuk ibu hamil. Cukup berbuka dengan kurma atau jajanan tradisional. Setelah itu melaksanakan salat Maghrib dan barulah makan malam dengan porsi secukupnya. 

4. Istirahat yang Cukup 

Dilansir dari laman Siloam Hospitals, ibu hamil biasanya akan cepat merasa lelah sebab terjadi perubahan kondisi fisik tubuh. Untuk mengatasi lelah selama bulan puasa, ibu hamil perlu istirahat dengan cukup dan tidak melakukan aktivitas berlebihan. 

Puasa menjadi kewajiban umat Islam dan wajib dilakukan pada bulan Ramadhan. Semua umat Islam ingin melakukan kewajiban puasa, termasuk ibu hamil. Namun untuk ibu hamil maka banyak yang menjadi lebih waspada. Terutama karena ibu hamil memiliki janin di dalam rahim yang harus mendapatkan nutrisi penuh. Sementara puasa berarti menahan makan dan minum dari mulai sebelum Subuh hingga Magrib.

NASIHAT BAGI IBU HAMIL BAG II

SEBAIKNYA IBU TAHU

Ibu hamil yang mudah mengalami stress banyak berasal dari orang :

  • Tidak stabil emosinya
  • Memiliki rasa percaya diri yang rendah
  • Pengalaman pengasuhan dari orang tua yang kurang menyenangkan
  • Hubungan dengan suami yang kurang harmonis dan kurang komunikasi
  • Kurang mendapat dukungan sosial atas kehamilannya

Cara menghindari stress selama kehamilan

  • Mengubah pusat perhatian dengan memikirkan sisi baik dari segala permasalahan
  • Menghayati pentingnya kehadiran bayi
  • Menjalin hubungan dan komunikasi yang hangat dengan orang terdekat (suami dan keluarga)

Selama proses kehamilan, 9 bulan 10 hari, Serta 24 jam, janin selalu menjaga perasaan, pikiran, sikap serta perbuatan. Hal ini karena selama itu pula ibu merupakan SENTRAL PENDIDIKAN bagi janin dalam kandungan. Bila ibu menjaga kebaikan dalam perasaan, pikiran, sikap maupun perbuatan, maka kebaikan ini akan tersalurkan dan dicontoh oleh janin.

Janin membutuhkan gizi yang seimbang untuk tumbuh dan berkembang. Terkadang untuk kebutuhannya tersebut, jika asupan dari ibu kurang memadai, maka janin akan mengambil pasokan dari tubuh sang ibu. Misalnya janin masih membutuhkan kalsium yang banyak untuk menopang pertumbuhan tulangnya. Jika ibu kurang memberikan zat yang dibutuhkan, maka janin akan mengambil pasokan ibunya sehingga sang ibu rentan terhadap penyakit pengeroposan tulang. Oleh sebab itu, ibu perlu mengetahui kebutuhan asupan untuk diri dan janin yang dikandungnya.

Ketika menjalani masa kehamilan, usahakan ibu mengatur segala aktivitas dengan mempertimbangkan waktu istirahat yang sesuai dengan kebutuhan. Kehamilan bisa mengakibatkan ibu sering mengalami keletihan, sehingga kasus janin gugur yang disebabkan oleh beban kerja yang berlebihan dapat dicegah.

Pada dasarnya ibu hamil tetap bisa menjalankan aktivitas, namun harus diperhatikan sisi Kesehatan dan keselamatan diri dan janin yang dikandungnya.

Jika ibu hamil sulit tidur, berikut tips tidur dengan nyaman :

  • Hentikan olah tubuh 4 jam sebelum tidur
  • Melakukan rutinitas santai sebelum tidur (membaca, mendengarkan music)
  • Jangan memaksakan diri untuk tidur apa apa lagi tidak dalam keadaan mengantuk
  • Setelah berbaring 20-30 menit dan tidak dapat tidur, bangkitlah untuk melakukan sesuatu yang santai
  • Jangan minum terlalu banyak yang mengakibatkan (lebih sering) terdorong untuk BAK
  • Membiasakan diri untuk tidur menyamping

HAL YANG MEMBAHAYAKAN KEHAMILAN

  1. PEMAKAIAN KOSMETIK SECARA BEBAS

Banyak ahli kandungan yakin bahwa bayi yang menderita alergi, kanker kulit, autism, dan cerebral palsy ( radang otak) antara lain disebabkan paparan zat zat kimia. Salah satu sumber zat kimia pemapar itu berasal dari kosmetik, seperti timah hitam, alumunium, metilmerkuri, dan alcohol. Memang, hal tersebut masih berdasarkan dugaan para ahli. Meskipun demikian, setidaknya ibu hamil perlu waspada. Sebab, mungkin saja kosmetik yang dipakainya membahayakan sang janin bila dipakai.

Proses gangguan dari kosmetika diawali saat zat kimia tersebut dipakai di kulit ibu. Bahan tersebut kemudian terserap ke dalam kulit melalui pori-pori hingga mencapai aliran darah. Darah ibu yang sudah tercemar itu pada akhirnya sampai ke janin sebab darah itulah yang menyuplai oksigen dan sari-sari makanan ke janin.

  1. MENGERTITING RAMBUT

Penggunaan cairan obat-obatan berbahan kimia tertentu dikhawatirkan meresap melalui kulit kepala masuk ke aliran darah, lalu terbawa ke janin.

Cat rambut menandung Ter (belangkin) dan zat kimia keras lainnya. Ibu beresiko untuk mengalami keguguran jika terpapar zat yang membahayakan janin, terutama di trimester pertama.

  1. SAUNA

Meskipun dengan sauna tubuh bisa rileks, mandi uap tidak diperbolehkan untuk ibu hamil. Pengeluaran cairan tubuh yang terlalu banyak saat sauna bisa membuat tubuh dan janin kekurangan cairan.

  1. MINUM OBAT SEMBARANGAN

Empat penyebab kenapa bayi lahir dengan cacat bawwan, yakin kelainan genetic, infeksi sewaktu hamil, ibu hamil kekurangan gizi, dan akibat pengaruh obat yang diminum semasa hamil.

  • Obat peluruh kencing (gol thiazide)
  • Obat TBC
  • Obat penenang
  • Antibiotik
  • Obat obat peluntur
  • Obat penghalus kulit
  • Jamu jamuan

Minum obat yang aman

Jika ibu sakit yang tidak tertahankan, ibu bisa meminum obat dengan:

  • Pilihlah obat dengan komposisi 1 macam saja, misalnya paracetamol saja tanpa imbuhan bahan lainnya (obat flu yang terdiri atas berbagai zat umumnya dilarang dikonsumsi inu hamil)
  • Pilihlah obat yang aman bagi Wanita hamil. Hal ini biasanya tercantum dalam etiket kemasan obat
  • Konsultasikan ke tenaga medis/apoteker sebelum meminumnya.
  • DIGIGIT BINATANG

Ketika ibu hamil mendapatkan gigitan dari hewan liar atau piaraan, seperti anjing, kucing, monyet, atau bahkan tikus, usahakan sesegera mungkin berkonsultasi ke dokter. Binatang binatang itu membawa bibit penyakit (rabies) yang bisa mengganggu tumbuh kembang janin. Biasanya pihak medis akan membersihkan luka tersebut, memberikan suntikan antitetanus, seta memberikan obat antibiotic yang aman bagi ibu hamil.

  • STRESS

Stress atau perasaan tertekan akan dapat berakibat buruk pada janin dalam kandungan. Stress dapat memengaruhi janin dengan cara melalui perubahan fisik yang terjadi Ketika ibu mengalami stress, seperti peningkatan detak jantung dan peningkatan hormon stress.

PENYEBAB KEGUGURAN PADA SAAT HAMIL

Keguguran adalah berhentinya kehamilan secara spontan saat usia kehamilan belum mencapai 20 minggu. Sebagian besar kasus keguguran terjadi pada awal kehamilan, terkadang bahkan sebelum wanita mengetahui bila dirinya hamil. Perlu diketahui bahwa perdarahan ringan atau keluarnya bercak darah dari vagina saat hamil muda bukan selalu pertanda keguguran. Hal ini umum terjadi dalam waktu 6–12 hari setelah pembuahan, yaitu saat janin menempel di dinding rahim dan terjadi maksimal selama 3 hari. Perdarahan ini dinamakan pendarahan implantasi.

Penyebab Keguguran

Penyebab keguguran yang paling umum adalah kelainan kromosom yang membuat bayi tidak berkembang secara normal, atau bahkan terjadi kehamilan kosong (blighted ovum). Kelainan kromoson tersebut bisa terjadi tanpa diduga, atau karena kelainan genetik yang diturunkan dari orang tua. Masalah pada plasenta juga bisa menyebabkan keguguran.

Selain itu, ada faktor faktor yang dapat mempengaruhi , antara lain:

  • Penyakit infeksi, seperti toxoplasmosis, rubella, sifilis, malaria, HIV, gonore, atau sepsis
  • Penyakit autoimun, seperti lupus dan sindrom antifosfolipid
  • Penyakit kronis, seperti diabetes atau penyakit ginjal
  • Gangguan hormon, seperti penyakit tiroid atau PCOS
  • Kelainan pada bentuk rahim atau leher rahim
  • Penggunaan obat-obatan, seperti obat antiinflamasi nonsteroid, methotrexate, dan retinoid
  • Hamil di usia lebih dari 35 tahun
  • Riwayat keguguran lebih dari 2 kali
  • Pola hidup tidak sehat, seperti kecanduan alkohol, merokok, atau penyalahgunaan NAPZA
  • Kekurangan berat badan atau kelebihan berat badan (obesitas)
  • Paparan zat beracun dan radiasi tingkat tinggi

Kondisi yang tidak menyebabkan keguguran

Perlu diketahui bahwa masih banyak orang yang meyakini beberapa kondisi di bawah ini dapat menyebabkan keguguran, padahal sebenarnya tidak. Kondisi tersebut antara lain:

  • Olahraga ringan
  • Berhubungan intim
  • Konsumsi makanan pedas
  • Naik pesawat terbang
  • Bekerja, kecuali pekerjaan yang berisiko terpapar zat kimia atau radiasi

Kapan harus ke dokter

Seperti telah disebutkan sebelumnya, ibu hamil bisa mengalami perdarahan implantasi. Namun, ibu hamil perlu waspada bila terjadi perdarahan dari vagina selama trimester pertama, yang dicurigai sebagai ancaman keguguran (abortus imminens).

Abortus iminens dapat berupa flek kecoklatan yang disertai gumpalan darah serta nyeri di perut bagian bawah, tetapi belum terjadi pembukaan jalan lahir. Jika hal ini terjadi, ibu hamil dianjurkan untuk segera ke IGD rumah sakit atau layanan medis terdekat, agar dokter dapat melakukan tindakan pencegahan.

Ibu hamil juga perlu segera ke dokter bila mengalami keluhan berikut pada trimester pertama kehamilan, terutama bila ada riwayat keguguran sebelumnya:

  • Demam
  • Muntah-muntah sampai tidak bisa makan dan minum
  • keputihan
  • Nyeri saat buang air kecil

APA PERBEDAN PENYAKIT HIV DAN AIDS DAN BAGAIMANA CARA MENANGANINYA

Pengertian HIV dan AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang dapat melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. 

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi di mana HIV sudah pada tahap infeksi akhir. Ketika seseorang sudah mengalami AIDS, tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan.

Dengan menjalani pengobatan tertentu, pengidap HIV bisa memperlambat perkembangan penyakit ini, sehingga pengidap HIV bisa menjalani hidup dengan normal. 

Penyebab HIV dan AIDS

Di negara Indonesia, penyebaran dan penularan HIV paling banyak disebabkan melalui hubungan intim yang tidak aman dan bergantian menggunakan jarum suntik yang tidak steril saat memakai narkoba. 

Seseorang yang terinfeksi HIV dapat menularkannya kepada orang lain, bahkan sejak beberapa minggu sejak tertular. Semua orang berisiko terinfeksi HIV.

Faktor Risiko HIV dan AIDS

Kelompok orang yang lebih berisiko terinfeksi, antara lain:

  • Orang yang melakukan hubungan intim tanpa kondom, baik hubungan sesama jenis maupun heteroseksual.
  • Orang yang sering membuat tato atau melakukan tindik.
  • Orang yang terkena infeksi penyakit seksual lain.
  • Pengguna narkotika suntik.
  • Orang yang berhubungan intim dengan pengguna narkotika suntik. 

Gejala HIV dan AIDS

Gejala HIV dan AIDS tergantung pada tahap mana orang tersebut terinfeksi.

Tahap Pertama:

  • Tidak menimbulkan gejala apapun selama beberapa tahun.
  • Pengidap akan mengalami nyeri mirip, seperti flu, beberapa minggu setelah terinfeksi, selama satu hingga dua bulan.
  • Timbul demam, nyeri tenggorokan, ruam, pembengkakan kelenjar getah bening nyeri otot, dan sendi.

Tahap Kedua:

  • Umumnya, tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun.
  • Virus terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh.
  • Penularan infeksi sudah bisa dilakukan pengidap kepada orang lain.
  • Berlangsung hingga 10 tahun atau lebih.

Tahap Ketiga:

  • Daya tahan pengidap rentan, sehingga mudah sakit, dan akan berlanjut menjadi AIDS.
  • Demam terus menurus lebih dari 10 hari
  • Merasa lelah setiap saat.
  • Sulit bernapas.
  • Diare yang berat dan dalam jangka waktu yang lama.
  • Terjadi infeksi jamur pada tenggorokan, mulut, dan vagina.
  • Timbul bintik ungu pada kulit yang tidak akan hilang.
  • Hilang nafsu makan, sehingga berat badan turun drastis.

Diagnosis HIV dan AIDS

Tes HIV harus dilakukan untuk memastikan seseorang mengidap HIV atau tidak. Pemeriksaan yang dilakukan sebagai langkah diagnosis adalah dengan mengambil sampel darah atau urine pengidap untuk diteliti di laboratorium. 

Jenis pemeriksaan untuk mendeteksi HIV, antara lain:

  • Tes antibodi

Tes ini bertujuan mendeteksi antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan infeksi HIV. Meski akurat, perlu waktu 3-12 minggu agar jumlah antibodi dalam tubuh cukup tinggi untuk terdeteksi saat pemeriksaan.

  • Tes antigen

Tes antigen bertujuan mendeteksi protein yang menjadi bagian dari virus HIV, yaitu p24. Tes antigen tersebut dapat dilakukan 2-6 minggu setelah pengidap yang dicurigai terinfeksi HIV.

Jika skrining menunjukkan pengidap terinfeksi HIV (HIV positif), pengidap perlu menjalani tes selanjutnya. Tujuannya untuk memastikan hasil skrining, membantu dokter mengetahui tahap infeksi yang diderita, serta menentukan metode pengobatan yang tepat. 

Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel darah pengidap, untuk selanjutnya diteliti di laboratorium. Tes tersebut, antara lain:

  • Hitung sel CD4 

CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang dihancurkan oleh HIV. Jumlah CD4 normal berada dalam rentang 500–1400 sel per milimeter kubik darah. AIDS terjadi jika hasil hitung sel CD4 di bawah 200 sel per milimeter kubik darah.

  • Pemeriksaan viral load (HIV RNA)

Bertujuan untuk menghitung RNA, bagian dari virus HIV yang berfungsi menggandakan diri. Jumlah RNA yang lebih dari 100.000 kopi per mililiter darah, menandakan infeksi HIV baru saja terjadi atau tidak tertangani. Sedangkan jumlah RNA yang berada di bawah 10.000 kopi per mililiter darah, menunjukan perkembangan virus yang tidak terlalu cepat, tetapi kerusakan pada sistem kekebalan tubuh tetap terjadi.

  • Tes resitensi (kekebalan) 

Dilakukan untuk menentukan obat anti HIV jenis apa yang tepat bagi pengidap. Hal ini dikarenakan beberapa pengidap memiliki resistensi terhadap obat tertentu.

Pengobatan HIV dan AIDS

Meskipun sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, tetapi ada jenis obat yang dapat memperlambat perkembangan virus. Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV). 

ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4. Jenis obat ARV memiliki berbagai varian, antara lain Etravirine, Efavirenz, Lamivudin, Zidovudin, dan juga Nevirapine.

Selama mengonsumsi obat antiretroviral, dokter akan memonitor jumlah virus dan sel CD4 untuk menilai respons pengidap terhadap pengobatan. Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3–6 bulan. Sedangkan pemeriksaan HIV RNA, dilakukan sejak awal pengobatan, lalu dilanjutkan tiap 3–4 bulan selama masa pengobatan.

Agar perkembangan virus dapat dikendalikan, pengidap harus segera mengonsumsi ARV begitu didiagnosis mengidap HIV. Risiko pengidap HIV untuk terserang AIDS akan semakin besar jika pengobatan ditunda, karena virus akan semakin merusak sistem kekebalan tubuh. 

Selain itu, penting bagi pengidap untuk mengonsumsi ARV sesuai petunjuk dokter. Konsumsi obat yang terlewat hanya akan membuat virus HIV berkembang lebih cepat dan memperburuk kondisi pengidap.Segera minum obat jika jadwal konsumsi obat pengidap dan tetap ikuti jadwal berikutnya. Namun jika dosis yang terlewat cukup banyak, segera bicarakan dengan  dokter. Kondisi pengidap juga memengaruhi resep atau dosis yang sesuai. Dokter juga dapat menggantinya sesuai dengan kondisi pengidap. Selain itu, pengidap juga boleh untuk mengonsumsi lebih dari 1 obat ARV dalam sehari.

Komplikasi HIV dan AIDS

Infeksi HIV melemahkan sistem kekebalan membuat orang yang terinfeksi lebih mungkin untuk mengembangkan banyak infeksi dan jenis kanker tertentu. Komplikasi HIV dan AIDS yang bisa terjadi adalah:

  • Pneumocystis Pneumonia (PCP)

Infeksi jamur PCP dapat menyebabkan komplikasi pneumonia parah. 

  • Kandidiasis (sariawan)

Kandidiasis adalah komplikasi dari HIV yang dapat menyebabkan peradangan dan memicu pertumbuhan lapisan putih tebal di mulut, lidah, kerongkongan atau vagina.

  • Tuberkulosis (TB)

TB adalah infeksi oportunistik umum yang terkait dengan HIV. Di seluruh dunia, TB adalah penyebab utama kematian di antara orang-orang dengan AIDS. 

  • Sitomegalovirus

Sistem kekebalan yang sehat dapat menonaktifkan virus, tetapi jika sistem kekebalan melemah, virus bisa muncul kembali dan menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, paru-paru, atau organ lainnya.

  • Meningitis kriptokokus

Meningitis adalah peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Meningitis kriptokokus adalah infeksi sistem saraf pusat umum yang terkait dengan HIV, yang disebabkan oleh jamur yang ditemukan di tanah.

  • Toksoplasmosis

Infeksi yang berpotensi mematikan ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii, parasit yang disebarkan terutama oleh kucing. Kucing yang terinfeksi menyebarkan parasit di tinja mereka, yang dapat menyebar ke hewan lain dan manusia. Toksoplasmosis dapat menyebabkan penyakit jantung, dan kejang terjadi ketika menyebar ke otak.

  • Limfoma

Limfoma adalah komplikasi kanker yang umumnya terjadi sebagai akibat dari HIV/AIDS. Tanda awal paling umum dari kondisi limfoma adalah pembengkakan kelenjar getah bening tanpa rasa sakit di leher, ketiak, atau selangkangan.

  • Sarkoma kaposi

Sarkoma kaposi juga tumor yang kerap muncul sebagai komplikasi dari infeksi HIV/AIDS. Sarkoma kaposi dapat memengaruhi organ dalam, termasuk saluran pencernaan dan paru-paru.

  • Kanker terkait HPV 

Ini adalah kanker yang disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV) dan bisa terjadi pada area anal, mulut, dan serviks.

  • Sindrom wasting 

HIV/AIDS yang tidak diobati dapat menyebabkan penurunan berat badan yang signifikan, sering disertai dengan diare, kelemahan kronis dan demam.

  • Komplikasi neurologis 

HIV/AIDS dapat menyebabkan gejala neurologis seperti kebingungan, pelupa, depresi, kecemasan dan kesulitan berjalan. Gangguan neurokognitif terkait HIV/AIDS berkisar dari gejala ringan perubahan perilaku dan penurunan fungsi mental hingga demensia parah yang menyebabkan kelemahan dan ketidakmampuan untuk berfungsi.

  • Penyakit ginjal

Nefropati terkait HIV adalah peradangan pada filter kecil di ginjal yang menghilangkan kelebihan cairan dan limbah dari darah untuk kemudian diteruskan ke urine. 

PENYEBAB IBU HAMIL SERING BAK (BUANG AIR KECIL)

  • Tertekannya Kantung Kemih

pada masa ini rahim juga mulai membesar dan menekan posisi kandung kemih. Cairan yang tertampung di dalam kandung kemih pun menjadi lebih mudah keluar karena tertekan oleh rahim.

  • Darah di Dalam Tubuh Mengalami Peningkatan

Ketika hamil, darah di dalam tubuh ibu menjadi meningkat. Volume darah yang meningkat itu bisa menyebabkan banyaknya cairan yang ada di ginjal ke ginjal. Cairan ginjal bisa keluar dari tubuh ibu hamil dalam bentuk urin. Akibatnya adalah ibu akan mengalami buang air kecil dalam intensitas yang sering.

  • Ginjal Mengalami Pembesaran

Saat mengalami proses kehamilan, ginjal yang tadinya kecil akan mengalami pembesaran. Hal tersebut memicu peningkatan hormon bernama progesterone di dalam tubuh wanita meningkat. Wanita dengan kondisi hamil akan mengalami pembesaran ginjal ketika bakal janin menempel pertama kali di dinding rahim.

  • Pembesaran Rahim

Rahim pada wanita normal hanya berukuran kecil, namun rahim pada wanita yang sedang hamil akan membesar seiring dengan usia kehamilan. Rahim yang membesar membuat kandung kemih mengalami tekanan sebab letak kandung kemih yang berada di bawah rahim persis.

  • Saluran Kemih Membesar

Jika ginjal mengalami pembesaran, kandung kemih pun akan mengalami pembesaran. Pembesaran itu terjadi saat bakal janin menempel di dinding rahim pertama kali. Pembesaran kandung kemih itu dipicu oleh pembesaran ginjal, sehingga kandung kemih perlu membesar untuk menampung cairan yang berasal dari ginjal yang telah membesar.

  • Diabetes Saat Hamil

Saat ibu sedang hamil, tidak memungkiri adanya kemungkinan untuk terkena penyakit komplikasi kehamilan. Salah satu penyakit gangguan kehamilan itu adalah diabetes. Kebanyakan diabetes yang disebabkan saat hamil adalah saat sebelum hamil ibu tidak mengontrol kadar gula di dalam tubuhnya. Tidak hanya itu saja, sebelum hamil ibu tersebut telah memiliki penyakit diabetes. Sehingga saat hamil, keinginan untuk buang air kecil semakin sering ketika ibu tersebut menderita diabetes.

  • Keinginan Minum Lebih Banyak

Saat hamil pola makan ibu hamil menjadi berubah, ibu hamil juga akan mengalami peningkatan hormon di dalam tubuhnya. Salah satu akibat dari peningkatan hormon tersebut adalah ibu hamil akan merasakan gerah atau panas di seluruh tubuhnya. Hal tersebut membuat keinginan ibu hamil untuk minum dengan jumlah yang banyak semakin sering dilakukan.

  • Hilangnya Selaput Dara

Ada salah satu faktor yang menyebabkan mengapa gadis yang masih perawan cenderung bisa mengatur dirinya agar tidak berkemih dalam waktu tertentu dibandingkan dengan ibu-ibu yang telah menikah/ hamil/ melahirkan. Hal itu dikarenakan faktor selaput dara yang masih ada di organ reproduksi gadis. Selaput dara itu bisa menekan keberadaan urin yang ingin keluar dari kandung kemih. Ibu yang tidak memiliki selaput dara cenderung tidak bisa mengontrol keluarnya air urin dari saluran kemih.

  • Infeksi Saluran Kemih

Yang harus diperhatikan di sini adalah frekuensi buang air kecil yang lebih sering karena infeksi saluran kemih. Tidak jarang ibu hamil yang sedang hamil muda maupun sedang hamil tua mendapatkan infeksi di saluran kemihnya. Tanda ibu hamil yang mengalami infeksi saluran kemih adalah dia akan merasakan sakit dan nyeri yang luar biasa ketika berkemih. Hal itulah yang harus menjadi perhatian ibu sebab ada masalah di saluran kemihnya. Memeriksakan diri ke dokter penting untuk mengatasi masalah tersebut.