TULISAN 132. BAHAYA RUMPUT FATIMAH PADA KEHAMILAN

Kali ini Dokter Cucuk Kiuttt Hello Kitty akan menceritakan dampak yang dapat ditimbulkan akibat mengkonsumsi rumput fatimah saat sedang hamil. Untuk diketahui bahwa tulisan ini saya ambil dari seorang sahabat saya yaitu dr. Syaifudin Zuhri, SpOG. Selamat membaca… dan pesan saya… JIKA ANDA SEDANG HAMIL MAKA JANGAN COBA-COBA NGERJAKAN INI DI RUMAH KECUALI JIKA ANDA SUDAH KANGEN KETEMUAN DENGAN MALAIKAT IZROIL… ha ha ha

Seorang ibu dirujuk ke #RSUD oleh bidan dengan ketuban pecah dini, ketuban telah merembes sejak sehari sebelumnya namun tidak didapatkan kontraksi sama sekali. Di RSUD kami tata laksana sesuai dengan prosedur yang berlaku dengan pemberian antibiotik dan pemeriksaan awal untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Enam jam pertama kemajuan pembukaan dari buka 1 cm menjadi 2 cm. Pada 45 menit kemudian kami “terkejut” karena ibu tampak kesakitan dan dari evaluasi kami dapatkan pembukaan lengkap serta kami temukan gelas dengan #akar#rumput #fatimah di samping ibu tersebut. Bagi keluarga mungkin dengan pembukaan yang cepat merupakan kabar gembira, namun bagi kami itu merupakan tanda bahaya.

#Persalinan yang cepat atau yang kami sebut #partus #precipitatusmerupakan persalinan yang berlangsung kurang dari 3 jam antara awitan persalinan (buka 1 s/d 3 cm) sampai buka lengkap yang pada persalinan normal paling tidak membutuhkan waktu 6 jam.

#Bahaya persalinan cepat adalah akibat kontraksi Rahim yang terus menerus. Aliran darah dari ibu ke janin terhambat oleh kontraksi otot rahim yang terus menerus mengakibatkan bayi dalam kandungan dapat mengalami #hipoksia / kekurangkan oksigen bahkan dapat meninggal dalam rahim. Kontraksi terus menerus menyebabkan regangan berlebihan dari otot rahim. Bila regangan melebihi elastisitas/ kelenturan maka otot tersebut robek, robeklah rahim dan nyawa ibu tersebut menjadi teruhan selanjutnya.

Sudah lama, sebagian masyarakat kita mempunyai pemahaman untuk melancarkan persalinan dengan mengkonsumsi rumput fatimah. Rumput fatimah bagi orang Indonesia biasanya merupakan oleh oleh dari keluarga dari tanah suci. Sebagai dokter kandungan, beberapa kali kami dapatkan pasien diberi rendaman atau ramuan dari rumput fatimah oleh keluarganya. Umumnya mereka berharap pemberian tersebut dapat memperlancar persalinan tanpa mengetahui ada bahaya bila ramuan tersebut dikonsumsi oleh orang yang hamil dan sedang bersalin.

Ramuan / rendaman rumput fatimah dapat merangsang kontraksi rahim . Bahaya dari penggunaan rumput fatimah karena kita tidak dapat menakar jumlah zat aktif yang terkandung di dalamnya. Bila jumlah zat aktif terkonsumsi berlebihan maka yang terjadi adalah partus precipitatus, persalinan yang terlalu cepat, menyebabkan gawat janin, menyebabkan rahim robek dan dapat berakhir dengan kematian janin dan ibunya.

Pada kasus terakhir kami lakukan operasi sesar, saat kami buka ternyata rahim telah robek dan untungnya Kami dapat menyelamatkan Ibu dan anaknya dan masih bisa mempertahankan rahimnya. Kami konfirmasi ke keluarga, keluarga hanya bilang “maafkan kami Pak Dok … kami memang tidak mengetahui bahaya akibat menggunakan ramuan rumput fatimah, terima kasih telah menyelamatkan ibu dan anaknya.”

TULISAN 131. KUCING, KEHAMILAN, DAN TOXOPLASMA

Infeksi toxoplasma merupakan salah satu jenis infeksi yang berbahaya bagi kehamilan. Toxoplasmosis atau infeksi toxopalsma dapat menyebabkan gangguan otak dan mata pada janin bahkan kadang-kadang menimbulkan gangguan pada jantung dan sistem syaraf pusat di kepala janin. Walopun demikian, sampai saat ini belum ada rekomendasi untuk pemeriksaan rutin terhadap infeksi toxo pada kehamilan kecuali atas permintaan pasien atau pada pasien-pasien yang memang nyata banget kehidupan kesehariannya rentan terkontaminasi penyakit toxoplasmosis. Di negara semodern Kanada sekalipun pemeriksaan TORCH secara rutin pada tiap kehamilan untuk mengetahui apakah ibu hamil menderita toxoplasmosis tidak dianjurkan karena alasan sebagai berikut:

  1. pemeriksaan TORCH biayanya sangat mahal
  2. prevalensi terjadinya infeksi toxoplasma rendah
  3. sensitivitas pemeriksaan lab yang rendah
  4. adanya kemungkinan false positif dalam hasil pemeriksaan lab toxo
  5. efektivitas terapi yang terbatas
  6. hanya dilakukan di daerah yang prevalensi infeksi toxoplasmanya tinggi seperti di Quebec (salah satu propinsi/ kota di Kanada)

Kagak percaya ? nih baca sendiri di Can Fam Physician. 2014 Apr; 60(4): 334-336.

Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasite dari protozoa toxoplasma gondii yang menginfeksi sel-sel jaringan. Sebagian besar individu yang daya tahan tubuhnya baik kemudian tertular parasit tidak akan mengalami gejala, atau mungkin mengalami gejala seperti flu yang tidak spesifik seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan limfadenopati. Sepertiga populasi penduduk dunia (2 milyard manusia) telah terinfeksi parasit toxoplasma, tetapi gejalanya sering tidak diketahui. Hal ini disebabkan karena sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala. Ketika infeksi T gondii didapatkan pada saat kehamilan maka parasit dapat ditransmisikan melintasi plasenta keudian masuk ke tubuh janin, dan kelak akan menyebabkan timbulnya congenital toxoplasmosis, yang dapat memiliki dampak cukup serius pada janin.

Toxoplasma gondii memiliki 2 siklus hidup:

  1. siklus seksual yang terjadi secara eksklusif di usus kecil kucing.
  2. siklus aseksual terjadi pada hewan dan manusia yang terinfeksi.

Pada manusia, infeksi biasanya diperoleh melalui:

  1. konsumsi dan pengolahan daging mentah atau kurang matang.
  2. makan sayuran dan buah yang tidak dicuci.
  3. air minum yang terkontaminasi dengan kotoran kucing.
  4. kontak dengan kotoran (tai) kucing.
  5. kontak dengan tanah bekas kotoran kucing.

Pada wanita, infeksi toxoplasma sebelum hamil hampir tidak menimbulkan masalah ketika wanita tersebut pada akhirnya hamil. Tetapi infeksi toxoplasma yang terjadi sekitar 3 bulan sebelum wanita tersebut hamil dapat bikin pucing pala barbie karena kemungkinan bakalan bikin masalah pada wanita hamil tersebut.

Apa sih manifestasi atau dampak yang dapat dilihat yang disebabkan oleh infeksi toxoplasma pada kehamilan terutama efek ke janinnya ?

  1. hidrocephalus (kepala janin membesar)
  2. mikrocephali (kepala janin kecil daripada ukuran normalnya)
  3. ada pengapuran di otak janin
  4. kelainan mata berupa retino-choroiditis. Udah gak usah tanya ini kelainan bagaimana karena saya bukan dokter mata. Kalo kepo ya kontrol saja ke dokter mata Dr. Ayu Ratnawati, SpM di RS Bayukarta Karawang. Dokter ayu tersebut adalah sayanknya saya tuh… he he he
  5. strabismus sejak lahir (juling bawaan)
  6. katarak sejak lahir
  7. lahir buta
  8. epilepsi sejak lahir
  9. keterbelakangan mental dan kecerdasan
  10. gangguan kulit
  11. anemia dan trombositopenia

kok banyak banget ? udahhh… gak usah kuatir… siapin celengan 1 buah di rumah saat hamil kemudian tiap hari diisi pake duit Rp 5000,-/ hari dan dipasang niat bahwa tiap hari ngisi ke celengan tersebut adalah bertujuan mohon pertolongan Allah SWT supaya kehamilannya sehat, lancar, dan selamat baik bagi ibu hamilnya maupun janin dalam kandungannya. Jangan ditambahin ngatur-ngatur Allah yaaaa… misalnya saya pengen lahiran normal… sudahhh… serahkan saja yang terbaik pada keputusan Allah SWT. Ntar placenta previa pengen lahiran normal akhirnya diturutin jadi perdarahan hebat, akhirnya game over kemudian suami kawin lagi… mau…??? gak mau kannn…

Infeksi toxoplasma pada awal kehamilan memiliki tingkat resiko terinfeksi sangat rendah yaitu sekitar 6% saja sedangkan pada trimester 3 bila wanita hamil terinfeksi maka resiko terjadinya penularan ke janin sekitar 60-81%. Walopun resiko tertular infeksi toxoplasma sangat kecil kemungkinannya pada janin bila usia kehamilan masih trimester 1, tetapi bila sampai tertular dampaknya sangat dahsyat yaitu keguguran atau lethal. Sedangkan infeksi toxoplasma ke janin dalam kandungan pada saat kehamilan ibunya menginjak trimester 3 seringkali tidak menimbulkan gejala apapun walopun mungkin janinnya sudah mengalami infeksi toxoplasma. Namun bila tidak diobati sejak dalam kandungan maka kelak bayi baru lahir yang terinfeksi toxoplasma dapat menderita kelainan pada mata atau kelainan sistem syaraf pusat.

Boleh gak ibu nifas menyusui bayinya bila sang ibu terindikasi menderita infeksi toxoplasma ? sampai saat ini belum pernah terdeteksi adanya infeksi toxoplasma dalam ASI ibu sehingga menyusui pun aman bagi bayinya. Dan ini adalah kabar baik yang ditunggu-tunggu para suami bahwa buat suami pun payudara isterinya masih aman karena tidak ada infeksi di lokasi favorite para suami tersebut he he he. Hubungan sex pun tidak menyebabkan suami/ isteri saling menularkan infeksi toxoplasma.

Bagaimana cara mendiagnosis penyakit infeksi toxoplasma ?

  1. test serologis seperti TORCH
  2. USG bila janin ada kelainan
  3. amniocentesis yaitu proses pengambilan sampel air ketuban yang dilakukan untuk prenatal testing.

Tulisan yang ini gak usah dibaca karena mesti gak ngerti sehingga saya tulis dalam bahasa aslinya:

The greatest challenge in diagnosing toxoplasmosis is to establish the acute (primary) infection and distinguish it from past (chronic) infection. Toxoplasma gondii infection can be diagnosed using serologic tests, ultrasound scans, and amniocentesis. Results of serologic tests measuring immunoglobulin (Ig) M and IgG are often difficult to interpret when differentiating between acute and chronic infections. Following acute infection, IgM antibody titres rise starting on day 5 and reach the maximum level at 1 to 2 months. At this point, IgM antibodies decline more rapidly than IgG antibodies. However, in many cases the IgM antibodies persist for years following acute infection. In contrast, IgG antibodies are usually detectable within 1 to 2 weeks after acute infection, peak within 12 weeks to 6 months, and usually remain detectable throughout life.

The absence of IgG and IgM antibodies before or early in pregnancy indicates no previous infection and identifies women at risk of acquiring the infection during pregnancy. The detection of IgG antibodies and absence of IgM antibodies indicates an old infection. However, if test results are positive for both IgG and IgM, interpretation is difficult, as the positive results might be owing to either a recent infection or low levels of IgM antibodies from a previous infection. If acute infection is suspected, repeat testing is recommended within 2 to 3 weeks. A 4-fold rise in IgG antibody titre between tests indicates a recent infection. 

Confirming primary infection is of utmost importance in evaluating the risk of fetal transmission, initiating antibiotics, and providing appropriate counseling. To more accurately determine the likelihood of a recently acquired infection, more specific tests, such as IgG antibody avidity testing, are helpful. The IgG avidity assay measures the strength of IgG binding to T gondii. In most cases IgG avidity shifts from a low to a high index about 5 months after the infection. Thus, patients with acute infection exhibit a low avidity index, suggesting that infection occurred within 5 months of testing, whereas those with previous infection have a high IgG avidity index.

Karena infeksi toxoplasma pada  ibu hamil tidak selalu mengakibatkan infeksi toxoplasma pada janin, tetap saja masih sangat penting untuk menentukan apakah infeksi toxoplasma pada janin telah terjadi atau tidak. Diagnosis toksoplasmosis kongenital pada janin saat ini dilakukan dengan analisis PCR cairan ketuban. Pengambilan sampel cairan ketuban (Amniosentesis) ditawarkan hanya jika:

  1. infeksi primer ibu penyakit toxoplasma telah dikonfirmasi secara laboratorium
  2. hasil tes serologis TORCH  ibu hamil tidak jelas apakah ini suatu infeksi akut toxoplasma atau infekeksi kronis toxoplasma
  3. fitur ultrasonografi konsisten dengan toksoplasmosis bawaan misalnya hidrocephalus, mikrocephali, dll.

Amniocentesis akan ditawarkan setelah usia kehamilan 18 minggu dan setidaknya 4 minggu setelah infeksi toxoplasma akut pada ibu hamil dengan tujuan untuk mengurangi risiko hasil negatif palsu. Negatif palsu itu maksudnya adalah hasil labnya negatif tetapi aslinya positif terinfeksi toxoplasma. Kok bisa gitu ? yaelahhh… ya jelas bisa donk… namanya juga alat lab buatan manusia yang sumbernya dosa dan khilaf, kalo mau sempurna ya buatan Tuhan donkkk…

Bila ibu hamil terkena infeksi toxoplasma  maka apakah bisa diobati ? insya Allah bisa. Tujuan pengobatan terhadap ibu hamil yang terinfeksi toxoplasma adalah:

  1. mencegah berlanjutnya infeksi vertikal dari ibu ke janin dalam kandungannya.
  2. mencegah dampak yang sudah terjadi menjadi makin rusak. Maksudnya adalah bila janin sudah kena dampak infeksinya maka pengobatan memberikan harapan supaya efeknya gak parah-parah amat gitu looohh.

Pengobatan terhadap infeksi toxoplasma pada janin dilakukan sejak dalam kandungan s/d bayi lahir karena sudah terbukti bahwa pengobatan tersebut dapat mencegah timbulnya efek lanjutan dikemudian hari. Tetapi perlu diingat bahwa bayi yang sudah lahir itu pun walopun sudah diobati sejak masoh dalam kandungan, tetap harus difollow up ke dokter anak dan dokter mata untuk mengetahui secara dini efek lanjutan infeksi toxoplasmanya. Hal ini disebabkan oleh karena dampak dari infeksi toxoplasma congenital dapat terjadi setelah beberapa tahun kemudian walopun tidak ada gejala apapun selama kehamilan ataupun saat melahirkan, bahkan hasil lab normal dan USG pun normal. sehingga memang hal inilah yang menjadi kesulitan para ahli untuk mengetahui ada tidaknya infeksi toxoplasma pada janin (toxoplasma congenital). Beberapa negara maju pun tidak merekomendasikan pemeriksaan  laboratorium TORCH sebagai bagian penge-check-an lab rutin selama kehamilan antara lain Inggris, USA, Kanada, dan Uni Eropa. Tapi kalo pasien meminta check lab TORCH maka dokter kandungan pun akan dengan senang hati untuk membuatkan rekomendasi pemeriksaan TORCH tersebut.

Bagian yang bawah ini juga gak perlu dibaca karena saya tulis dalam bahasa aslinya:

While there is insufficient evidence to prove that treating mothers with seroconversion during pregnancy prevents fetal infection, treatment might reduce the severity of congenital toxoplasmosis. If primary T gondii infection is confirmed during pregnancy, treatment is used for fetal prophylaxis or to decrease the disease severity. In case of maternal infection without fetal infection, spiramycin is the drug of choice to prevent vertical transmission.28 Spiramycin is a macrolide antibiotic that cannot cross the placenta but remains concentrated in it. According to the Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada guidelines, it is prescribed at a dosage of 1 g orally every 8 hours for the duration of pregnancy if amniotic fluid polymerase chain reaction analysis results are negative for T gondii.

Pyrimethamine and sulfadiazine are administered in cases of confirmed fetal infection, but not in cases of suspected infection, especially in the first trimester, owing to potential teratogenicity and bone marrow toxicity to both mother and fetus. Both prenatal and postnatal treatment have shown evidence of reducing the risk and severity of long-term symptoms. However, even after treatment has been discontinued, clinical and ophthalmologic examinations should be performed regularly for several years to screen for any sequelae that might arise.

Pencegahan toksoplasmosis kongenital selama hamil tergantung pada penghindaran infeksi yang efektif selama kehamilan. Caranya adalah:

  1. hindaran kontak dengan kotak pasir kotoran kucing
  2. jangan suka main tanah terutama kemungkinan tanah tersebut telah terkontaminasi dengan kuman toxoplasma gondii yang berasal dari kotoran beol kucing.
  3. kucing peliharaan tidak boleh dibiarkan main diluar rumah karena kucing peliharaan kecil kemungkinannya menjadi sumber infeksi toxoplasma jika kucing itu dipelihara di dalam ruangan (tidak dibiarkan main di luar rumah) dan hanya diberi makanan yang dimasak, diawetkan, atau kering yang kemasannya banyak dijual di PET SHOP. Jadi jangan kuatir bagi ibu hamil yang punya binatang peliharaan seperti kucing, anjing ataupun burung.
  4. makan daging yang dimasak dengan baik.
  5. sayuran lalapan sebaiknya dicuci bersih terlebih dahulu, hindari beli sayuran lalapan dari luar rumah, lebih aman diolah sendiri di rumah karena dijamin kebersihannya.
  6. makan buah harus dicuci dulu kulitnya yang bersih pake sabun buah dan sayur.
  7. rajin cuci tangan tiap kali selesai pegang hewan peliharaan. Memang susah banget menghindari pegang hewan peliharaan karena mesti mereka itu manja dan lengket pada tuannya sehingga sebaiknya rajin-rajin saja merawat dan bawa ke dokter hewan serta jangan malas cuci tangan. Sahabat nabi bernama Abu Hurairoh terkenal dengan julukan Bapaknya Kucing saja aman-aman saja punya kucing puluhan, jadi semoga para ibu-ibu yang memelihara makhluk Allah yang lucu tersebut juga memperoleh rahmat sebagaimana Abu Hurairoh dan semoga menjadi peringan bahkan pembebas dari siksa neraka akibat banyaknya dosa kita.

sumber bacaan:

  1. Stray-Pedersen B. Toxoplasmosis in pregnancy. Baillieres Clin Obstet Gynaecol. 1993;7(1):107–37. [PubMed] [Google Scholar]
  2. Liesenfeld O, Press C, Montoya JG, Gill R, Isaac-Renton JL, Hedman K, et al. False-positive results in immunoglobulin M (IgM) toxoplasma antibody tests and importance of confirmatory testing: the Platelia Toxo IgM test. J Clin Microbiol. 1997;35(1):174–8. [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
  3. Hedman K, Lappalainen M, Seppäiä I, Mäkelä O. Recent primary toxoplasma infection indicated by a low avidity of specific IgG. J Infect Dis. 1989;159(4):736–40. [PubMed] [Google Scholar]
  4. Iqbal J, Khalid N. Detection of acute Toxoplasma gondii infection in early pregnancy by IgG avidity and PCR analysis. J Med Microbiol. 2007;56(Pt 11):1495–9. doi: 10.1099/jmm.0.47260-0. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]
  5. Montoya JG. Laboratory diagnosis of Toxoplasma gondii infection and toxoplasmosis. J Infect Dis. 2002;185(Suppl 1):S73–82. doi: 10.1086/338827. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]
  6. Petersen E, Borobio MV, Guy E, Liesenfeld O, Meroni V, Naessens A, et al. European multicenter study of the LIAISON automated diagnostic system for determination of Toxoplasma gondii-specific immunoglobulin G (IgG) and IgM and the IgG avidity index. J Clin Microbiol. 2005;43(4):1570–4. doi: 10.1128/JCM.43.4.1570-1574.2005. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]
  7. Pour Abolghasem S, Bonyadi MR, Babaloo Z, Porhasan A, Nagili B, Gardashkhani OA, et al. IgG avidity test for the diagnosis of acute Toxoplasma gondii infection in early pregnancy. Iran J Immunol. 2011;8(4):251–5.IJIv8i4A8 [PubMed] [Google Scholar]
  8. Merz E. Ultrasound in obstetrics and gynecology. Vol. 1: obstetrics. 2nd ed. New York, NY: Thieme; 2004. [Google Scholar]
  9. Paquet C, Yudin MH. Toxoplasmosis in pregnancy: prevention, screening, and treatment. J Obstet Gynaecol Can. 2013;35(1):78–9. [PubMed] [Google Scholar]
  10. Wallon M, Liou C, Garner P, Peyron F. Congenital toxoplasmosis: systematic review of evidence of efficacy of treatment in pregnancy. BMJ. 1999;318(7197):1511–4. [PMC free article] [PubMed] [Google Scholar]
  11. Peyron F, Wallon M, Liou C, Garner P. Treatments for toxoplasmosis in pregnancy. Cochrane Database Syst Rev. 2000;(2):CD001684. doi: 10.1002/14651858. CD001684. [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]
  12. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4046541/

oke deh… udah cape nih…

 

Dr. Cucuk Santoso, SpOG

dokter spesialis kandungan

group facebook:

  1. untuk umum: IBU HAMIL KIUTTT HELLO KITTY
  2. untuk pasien pribadi saya: PASIEN DOKTER CUCUK
  3. untuk bidan: BIDAN KIUTTT HELLO KITTY

fanpage: dr. cucuk santoso, spog

alamat praktek:

apotek kimia farma green village

perumnas teluk jambe – karawang barat

PAGI:

senin rabu  jam 08.00-10.00

selasa kamis sabtu jam 10.00-12.00

SORE/ MALAM

senin rabu jumat jam 16.00-20.00

selasa kamis jam 18.00-21.00

sabtu jam 16.00-17.00

 

 

TULISAN 130. WANITA HAMIL DENGAN HEPATITIS B (HBsAg positif)

Dokter kandungan pada setiap kesempatan akan menawarkan pada wanita hamil untuk melakukan pemeriksaan laboratorium dalam hal ini pemeriksaan lab hepatitis B yang bertujuan u ntuk mendeteksi adanya kondisi yang sangat menular akibat penyakit hepatitis B sehingga akan mengurangi risiko penularan virus hepatitis B dari ibu ke bayi. Wanita ditemukan mengidap hepatitis B selama kehamilan akan ditangani oleh tim dokter antara lain dokter penyakit dalam dan dokter kandungan. Bila dari hasil laboratorium didapatkan tingkat virus yang tinggi maka bila pasien mampu dan bila dicover oleh asuransi BPJS atau asuransi swasta atau perusahaan maka dokter akan memberikan obat antivirus untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya penularan dari ibu hamil ke janin dalam kandungan. Tidak hanya itu, bayi yang baru lahir dari wanita yang menderita hepatitis B juga akan diberikan imunisasi aktif segera setelah lahir dalam 24 jam pertama. Saat ini alhamdulillah program pemerintah sudah memandatkan bahwa setiap bayi lahir akan diberikan imunisasi aktif (vaksinasi hepatitis B).

Di Australia, diperkirakan prevalensi infeksi hepatitis B kronis adalah 0,97 persen dengan kurang lebih 209.000 orang yang hidup dengan infeksi hepatitis B pada tahun 2011. Mayoritas penderita hepatitis B kronis tersebut berasal dari wilayah Asia-Pasifik, Mediterania, Eropa Timur, Afrika dan Amerika Latin. Angka kesakitan yang tinggi tersebut juga merupakan sumbangan dari orang-orang beresiko tinggi yaitu penganut sex bebas dan pengguna obat-obatan terlarang seperti narkotika dan morfin. Data ini diperoleh dari European Association for the Study of the Liver. EASL Clinical Practice Guidelines: Management of chronic hepatitis B virus infection. Journal of Hepatology. 2012;57:167-85. Untuk data penduduk Indonesia saya masih belum nemu tuh… gak tau mau cari dimana.

Infeksi hepatitis B kronis didefinisikan sebagai deteksi adanya antigen permukaan Hepatitis B (HBsAg) yang persisten untuk lebih dari 6 bulan setelah paparan awal virus. Risiko infeksi kronis lebih tinggi pada mereka yang terkena infeksi hepatitis B sejak usia muda. kira-kira 90% bayi yang terinfeksi hepatitis B akan mengalami infeksi hepatitis B kronis atau seumur hidup, dibandingkan dengan mereka yang terkena infeksi hepatitis B pada usia dewasa yaitu hanya sekitar 5% saja yang berkembang menjadi hepatitis B kronis.
Penularan perinatal (penularan dari ibu hamil ke janin dalam kandungan) ditengarai sebagai penyebab utama penularan hepatitis B di negara endemis hepatitis B. 40% penderita infeksi hepatitis B kronis dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang parah akibat dari perkembangan penyakit tersebut menjadi sirosis hati (hati mengkerut alias hati mengecil alias hati remuk) yang selanjutnya karsinoma hepatoseluler (kanker hati).

Model penularan penyakit hepatitis B sebagai berikut:

  1. dari ibu hamil ke janin dalam kandungannya.
  2. hubungan sex terutama sex bebas.
  3. pemakaian obat terlarang terutama jenis suntikan.
  4. transfusi darah atau cairan kimia lainnya. Saat ini pihak PMI (palag merah Indonesia) sudah memberlakukan proses skrinning yang superketat terhadap produk darah donor dengan melakukan pemantauan super ketat untuk penyakit virus dalam darah donor misalnya hepatitis B, hepatitis C, syphillis, malaria, HIV, dll. Itulah sebabnya kenapa kok kalo ada pasien yang butuh darah mesti bayar ke PMI, bukan bayar darahnya (karena darah itu gratis) tetapi bayar alat dan bahan untuk mendeteksi itu semua. Istilah dalam medis disebut dengan crossmatching darah. Dalam kondisi super emergensi kadang-kadang dokter tidak dapat meminta kesiapan darah crossmatching karena dihadapkan pada situasi dimana butuh darah super cepat akibat kondisi pasien perdarahan hebat dan gak mungkin menunggu 2 jam untuk proses crossmatching. Tertular penyakit masih lama matinya, tapi kalo kehabisan darah maka matinya saat itu juga. Pasien mau pilih mana ? Sulit ya menjadi dokter karena dokter bedah dan dokter kandungan seringkali tak punya waktu untuk berpikir bila dihadapkan pada situasi perdarahan hebat dan tak terkendali. Hal ini diperbolehkan dengan alasan keselamatan pasien adalah nomor 1 dan tak mungkin menunggu darah lebih lama lagi misalnya suasana perang atau situasi perdarahan yang sulit dikendalikan. Tidak semua dokter bisa menjadi dokter kandungan, tidak semua dokter bisa menjadi dokter bedah.

Nah karena saya seorang dokter kandungan maka sekarang saya bahas yang kaitannya dengan kehamilan saja. Ada beberapa pertanyaan yang muncul diantaranya:

  1. bolehkah wanita hamil dengan HBsAg (+) menjalani prosedur invasive untuk deteksi kelainan kromosom pada janin (deteksi down syndrome) ? Pada wanita hamil yang membutuhkan prosedur diagnostik invasive seperti halnya amniocentesis (melobangi perut ibu hamil dengan jarum tembus ke rahim s/d ketuban untuk mengambil cairan ketuban) atau CVS (chorionic villus sampling) maka bila ternyata ibu hamil tersebut menderita hepatitis B atau HBsAg (+) maka sebaiknya dicarikan model diagnostik lain seperti NIPT (non invasive prenatal testing). Seekedar informasi bahwa NIPT ini harganya supermahal yaitu sekitar 9-15 juta dan berguna untuk deteksi kelainan kromosom pada janin misalnya deteksi janin IQ rendah atau tidak, deteksi cacat otak janin, dll. Bila kadar virus/ viral load hepatitis sangat tinggi maka ada resiko terjadinya penularan ke janin saat melakukan prosedur amniocentesis atau CVS.
  2. bagaimana dokter kandungan/ dokter penyakit dalam bisa tahu bahwa ada kemungkinan terjadinya penularan dari ibu hamil ke janin dalam kandungan ? Hmm karena para dokter tersebut sudah mempelajari ilmu debus sebelumnya ha ha ha… ya gak lah… para dokter tersebut tahu setelah melakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan. Perlu disadari oleh semua wanita hamil yang menderita HBsAg (+) bahwa resiko penularan tertinggi pada janin adalah saat lahir normal (tertular dari cairan vagina ibu) dan saat sesar (dari darah ibu). Nahhh bingung toooo… mau lahir normal atau operasi sesar nih ??? pada wanita hamil dengan HBsAg (+) maka dokter akan menganjurkan (bila pasien mampu secara ekonomi) untuk melanjutkan pemeriksaan HBeAg. Bila HBeAg (+) maka 70-90% janin mesti akan tertular infeksi hepatitis B dari ibunya. Bila HBeAg (-) maka insya Allah resiko penularannya lebih kecil yaitu hanya sekitar 10-40% saja. Setelah HBeAg (+) maka dokter akan meminta untuk periksa lab lanjutan… lagi-lagi hanya bila kondisi ekonomi pasien gak morat-marit ya… sebab mehong bingitsss booookkk… yaitu periksa HBV Viral Load dimana bila hasilnya > 108 IU/ml maka kemungkinan besar janin sudah tertular oleh ibunya, dan pada kondisi ini biasanya pemberian imunisasi profilaksis sepertinya 10% akan mengalami kegagalan. Pemeriksaan panel hepatitis B yang lengkap di atas bertujuan untuk memberikan kesempatan wanita hamil memperoleh terapi antivirus bila dibutuhkan sebelum melahirkan sehingga dapat menurunkan kadar viral load sehingga diharapkan angka kegagalan imunisasi profilaksis pasca melahirkan dapat lebih ditekan lagi. Tak hanya itu, dokter juga akan periksa kadar enzym liver wanita hamil untuk melihat tingkat keparahan kerusakan liver akibat penyakit hepatitis B.
  3. memangnya boleh ya ibu hamil dengan hepatitis B diberikan obat antivirus ? dari hasil penelitian didapatkan bahwa ibu hamil yang memperoleh antivirus selama hamil ternyata dapat menekan akan penularan ke janin s/d 5%. Tentu saja gak bisa 100% tak terkena infeksi hepatitis B tetapi dari hasil studi pre-protocol yang dilakukan terdapat kelompok ibu hamil yang kasus penularannya 0% setelah diberikan obat antivirus tenovovir. Penelitian ini dilakukan oleh  Calvin Q. Pan MD, Zhongping Duan, M.D., Erhei Dai, M.D., Shuqin Zhang, M.D., Guorong Han, M.D., Yuming Wang, M.D., Huaihong Zhang, M.D., Huaibin Zou, M.D., Baoshen Zhu, M.D.,Wenjing Zhao, M.D., and Hongxiu Jiang, M.D., for the China Study Group for the Mother-to-Child Transmission of Hepatitis B. Tenofovir to Prevent Hepatitis B Transmission in Mothers with High Viral Load. The New England journal of medicine. 2016(374):2324-34. Orang luar negeri itu memang hebat karena mereka niat banget untuk menyehatkan warga negaranya, bandingkan dengan kita… asuransi BPJS saja paket murah minta selamet, paket murah tapi kualitas rendah… pengen Indonesia seperti luar negeri ? mimpiiii… 1000 tahun lagi belum tentu bisa… dah keburu kiamat. kalo BBPJS rugi maka dokter langsung dituduh fraud, rumah sakit dituduh fraud… padahal yang bobrok itu BPJS, masyarakat yang dirugikan… minta rujukan saja… sulitnya ampun-ampun.
  4. apakah saya boleh lahiran normal ataukah saya harus operasi sesar ? dari hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa apapun model persalinannya tidak mencegah atau menurunkan tingkat penularan dari ibu hamil ke janinnya. Oleh sebab itu maka cara melahirkan janinnya mengikuti indikasi obstetric misalnya kalo macet ya sesar, kalo sungsang ya sesar, kalo kepala dibawah maka boleh dicoba untuk lahiran normal. ini rekomendasinya B lo… artinya rekomendasinya kuat banget.
  5. lalu bayi saya yang baru lahir akan diapakan supaya resiko tertular hepatitis B lebih rendah kemungkinannya ? setiap bayi baru lahir dari ibu dengan HBsAg (+) akan diberikan imunoglobulin B (HBiG 100 IU)… harganya sekitar Rp 4.000.000,- saja… lalu diberikan juga vaksinasi hepatitis B. Dari kombinasi di atas maka tingkat penularan turun menjadi 0.08% tetapi bayi tetap akan diikuti dan dipantau oleh dokter anak (tentu saja kalo ibunya bayi mau aktif dan sedikit rewel ke dokter anaknya). Semua tergantung ibunya dan ayahnya, kalo aktif maka pertolongan dokter akan efektif, kalo malas ya resiko tanggung sendiri.
  6. bolehkah ibu nifas hepatitis B menyusui bayinya ? boleh… asalkan bayinya sudah diberikan HBiG dalam 24 jam setelah lahir. apalagi kalo dilanjutkan dengan pemberian vaksinasi hepatitis B dalam 7 hari setelah lahir. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap bayi lahir dari ibu hamil dengan hepatitis B dan bayi tersebut telah diberikan HBiG maka resiko penularan melalui kegiatan menyusui ASI tidak meningkat. sebaiknya ibu nifas hepatitis B diberikan antivirus hepatitis B selama masa menyusui bayinya sesuai dengan anjuran yang diberikan oleh dokter penyakit dalam yang mengobatinya. Dalam ASI ibu akan terdeteksi adanya virus hepatitis tetapi dari hasil penelitian didapatkan bahwa pada bayi yang mendapatkan HBiG saat lahir dan bayi itu menyusui pada ibunya maka tidak terdapat peningkatan resiko penularan dari ibu ke bayi dari aktivitas menyusui tersebut. Dalam bahasa aslinya sebagai berikut: Is there a difference in rates of HBV infections between breast-fed infants and formula-fed infants? While HBV has been detected in the breastmilk of HBsAg-positive women, a recent meta-analysis of 32 studies has reported no differences in rates of HBV infections in breast-fed infants, when compared to formula-fed infants, provided appropriate immunoprophylaxis has been given at birth (Zheng Y, Lu Y, Ye Q, Xia Y, Zhou Y, QingqingYao, et al. Should chronic hepatitis B mothers breastfeed? a meta analysis. BMC Public Health. 2011;11:502).

udah deh… capek nih…

Dr. Cucuk Santoso, SpOG

dokter spesialis kandungan

group facebook:

  1. IBU HAMIL KIUTTT HELLO KITTY
  2. PASIEN DOKTER CUCUK

TULISAN 127. PEMBULUH DARAH TALI PUSAT JANIN

Saya beberapa kali mendapatkan pasien ibu hamil dengan kondisi dimana pembuluh darah tali pusat cuman ada 2 yaitu 1 vena dan 1 arteri. Normalnya pembuluh darah tali pusat itu ada 3 yaitu 1 vena dan 2 arteri. Istilah kelainan pada kehamilan ini dikenal dengan sebutan single umbilical artery.

Tentunya hal ini hanya bisa diketahui dengan melakukan pengamatan USG dokter spesialis kandungan dan dokter kandungan akan memberikan informasi yang ibu hamil butuhkan. Kalo ibu hamil pernah dan rajin baca formulir hasil pemeriksaan USG yang saya berikan maka disitu akan tampak tulisan JUMLAH ARTERI UMBILICALIS DAN JUMLAH VENA UMBILICALIS.

Pemeriksaan jumlah pembuluh darah tali pusat ini merupakan bagian pemeriksaan rutin kehamilan di dokter kandungan. Itulah sebabnya setiap wanita hamil wajib control kehamilan ke dokter spesialis kandungan paling sedikit 4x selama hamil, syukur-syukur bila bisa lebih dari itu alias rutin sehingga dapat dilakukan pengamatan secara berkesinambungan sebab keakuratan pemeriksaan USG oleh dokter spesialis kandungan itu rata-rata keseluruhan mencapai sekitar 40% dan ini membutuhkan pemeriksaan berulang-ulang untuk memperoleh hasil yang optimal.

Kenapa kok dokter kandungan seringkali memeriksa tali pusat janin dalam Rahim ? karena kelainan tali pusat seringkali berkaitan dengan ketidaknormalan kondisi janin dalam Rahim. Pembuluh darah arteri tali pusat akan mengelilingi pembuluh darah vena tali pusat lalu setelah mencapai placenta akan memisahkan diri. Kok bisa ya tali pusat dengan 1 arteri saja ? ya bisa saja… namanya juga kuasa Tuhan. Secara ilmiah diduga penyebabnya adalah pertumbuhan salah satu arteri yang tadinya tumbuh normal lalu dalam perkembangan kehamilan ternyata arteri tersebut tidak mencapai sempurna alias atrofi atau atresia. Bisa juga bila dari awal sudah tak tumbuh sama sekali yang dikenal dengan sebutan agenesis artery. Secara USG jumlah pembuluh darah tali pusat ini lebih mudah dilihat pada kehamilan 20 minggu atau lebih, bila kelihatan dengan USG. Kalo USG jadul (alias 2D) ya mungkin masih bisa walopun dokter kandungannya matanya mesti berair karena perih ketika melihat gambarnya.

Apa sih fungsi pembuluh darah tali pusat bagi janin ? pembuluh darah vena berfungsi mengangkut darah yang mengandung oksigen dari ibu hamil ke dalam janin, sedangkan pembuluh darah arteri fungsinya untuk mengangkut darah yang miskin oksigen dari janin menuju ibunya.  75% ibu hamil yang menderita single umbilical artery janinnya akan normal-normal saja. Nah sisanya 25% janinnya menderita kelainan yang sifatnya biasa-biasa saja (ringan/ tak mengancam nyawa) atau sifatnya bisa bikin mati janin dalam kandungan. Dari hasil penelitian para ahli, bila ternyata yang tidak ada itu pembuluh darah artery sebelah kiri maka kemungkinan besar janinnya akan mengalami gangguan atau kelainan.

Pada janin-janin yang terdeteksi bahwa tali pusatnya cuman ada 2 pembuluh darah  maka terdapat resiko-resiko kelainan sebagai berikut:

  1. Abnormalitas jantung (gangguan fungsi jantung atau gangguan fisik jantung).
  2. Gangguan system gerak janin misalnya bentuk tulang atau panjang tulang tak normal.
  3. Gangguan usus.
  4. Gangguan ginjal.
  5. Edwards syndrome (trisomy 18) yaitu terjadi pen-triple-an kromosom nomor 18 sehingga bayi lahir dengan berat badan kecil sejak dalam kandungan dan seringkali akan memiliki gangguan jantung.
  6. Kematian janin, bisa mendadak dalam Rahim bisa juga tidak.
  7. Janin baik-baik saja (75% kasus ini janinnya tak apa-apa).

Lalu apakah yang mesti dilakukan bila janin memiliki kelainan tali pusat seperti ini ? dokter kandungan akan merujuk ibu hamil ke RS Pendidikan dimana ibu hamil akan dilakukan pemeriksaan secara team dokter kandungan dengan menggunakan USG super canggih untuk mendeteksi adanya kemungkinan kelainan bawaan pada janin yang timbul bersamaan dgn kelainan tali pusat tersebut. Janin akan dilakukan pemeriksaan echocardiogram dimana jantung janin akan diperiksa secara mendetil oleh dokter kandungan yang mendalami ilmu USG perjantungan janin dalam Rahim. Nahhh… terbukti ilmu itu sangat luas sehingga gak mungkin manusia sepintar dokter kandungan sekalipun bisa menguasainya semua. kesimpulannya: dokter kandungan itu bodoh dan Hanya ALLAH SWT YANG MAHA PINTAR DAN MAHA BERKEHENDAK atas segala sesuatu di bumi dan di langit. Kadang-kadang aka nada pemeriksaan lanjutan bila dibutuhkan seperti mengambil contoh placenta janin (chorionic villus sampling) atau mengambil contoh cairan ketuban janin (amniocentesis).

Zaman dulu bahkan sampai hari ini sangat jarang deteksi tali pusat dilakukan karena mengingat sangat sulitnya melihat pembuluh darah tali pusat terutama bila janin masih sangat kecil atau teknologi USG sudah jadul. Kebanyakan diketahui setelah janin lahir. Seringkali kelainan tali pusat diketahui dari hasil deteksi pada janin-janin yang mengalami gangguan pertumbuhan dalam Rahim atau sering juga bila dokter kandungan hobbynya “oprek-oprek” Rahim dan janin saat USG. Ngerti oprek-oprek gak ? oprek-oprek itu tindakan dokter kandungan yang selalu berusaha melakukan pengamatan rutin akan hal tersebut selama proses USG kehamilan.

Oke deh… itu saja… saya cape banget nih… mau bobo-bob syantikkk duyuuu…

TULISAN 126. DIARE KETIKA HAMIL

Diare selama kehamilan adalah salah satu ketidaknyamanan perut yang dialami oleh beberapa wanita hamil yang lumayan sering terjadi. Diare didefinisikan sebagai buang air besar cair lebih dari 3x dalam periode 24 jam. Nah pada wanita hamil yang diare mesti mendapatkan perhatian khusus yaitu dapat menimbulkan komplikasi dehidrasi akibat kekurangan cairan dan elektrolit. Dehidrasi bisa berakibat serius pada kehamilan, bahkan dapat mematikan. Wanita hamil perlu banyak minum bila mengalami diare, tentunya mengkonsumsi minuman atau makanan berair yang mengandung elektrolit lebih diutamakan. Ingat ya… walopun diare jarang mengancam jiwa bila ditangani dengan baik, tetapi tidak boleh dianggap remeh, terutama saat hamil.

Apa sih yang dapat menyebabkan diare pada wanita hamil ?

  1. Perubahan system hormonal selama hamil.
  2. Perubahan kerja system pencernaan makanan saat kehamilan. Gerakan usus dan lambung akan melambat sehingga kadang-kadang pada sebagian wanita hamil dapat menimbulkan BAB lembek atau bahkan diare.
  3. Saat hamil mengalami perubahan pola makanan yang dimakan sehari-hari daripada makanan biasanya (sebelum hamil). Misalnya selama hamil senang makan golok, ya udah deh akibatnya terjadi diare kecuali wanita hamil tersebut seorang pendekar debus.
  4. Wanita hamil sensitive atau alergi terhadap makanan tertentu.
  5. Penyakit akibat virus.
  6. Penyakit akibat bakteri.

Diare pada trimester ketiga kehamilan merupakan hal yang tidak biasa dan harus lebih mendapatkan perhatian khusus karena terdapat beberapa kemungkinan yaitu:

  1. Lebih mungkin terjadi ketika wanita hamil mendekati tanggal HPL (hari perkiraan lahir). Diare ini bisa menjadi tanda bahwa persalinan sudah dekat, dan itu bisa terjadi tepat sebelum persalinan atau beberapa minggu sebelum persalinan. Yang sangat tidak diharapkan adalah jika terjadi diare jauh beberapa minggu sebelum tanggal HPL yaitu masih pada periode kelahiran prematur sehingga dokter biasanya akan melakukan penanganan segera dan mengevaluasi penyebab diare tersebut sebagai ikhtiar untuk mencegah kontraksi dini sehingga diharapkan tidak berujung pada persalinan premature.
  2. Dapat juga disebabkan oleh kuman bakteri/ virus sehingga perlu segera berobat ke dokter kandungan.

Bagaimana cara mengatasi diare saat hamil ?

  1. Banyak minum.
  2. Rajin makan buah berair.
  3. Makan tambah rajin.
  4. Segera berobat ke dokter kandungan/ dokter penyakit dalam.

Bagaimana cara mencegah terjadinya diare ? sebetulnya tidak semua diare bisa dicegah, tetapi terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh wanita hamil untuk mencegah timbulnya diare akibat penyakit yaitu:

  1. Makan makanan matang.
  2. Minum air yang telah dimasak mendidih. Jangan diminum saat mendidih ya… itu mah sundel bolong yang minum air panas…
  3. Kurangi jajan diluar, lebih baik masak sendiri.
  4. Bagi yang suka buah, jangan makan buah yang tak dikupas sendiri. Cuci buah sebelum mengupas. Hindari buah-buahan yang terkontaminasi tanah misalnya salak, nanas, manga jatuh, dll.
  5. Hindari bepergian jauh ke luar kota terutama ke daerah yang kurang baik sanitasi lingkungannya.
  6. Selalu cuci tangan sebelum makan minum.
  7. Jangan suka memegang atau menyentuh benda-benda di mall seperti karet tangga berjalan, pegangan pagar pembatas lantai mall, sering salaman sama orang lain, dll. Intinya jagalah tangan anda sehingga TAK BERKUMAN.

TULISAN 124. NGE-VAPE, MEROKOK, DAN KEHAMILAN

Merokok/ asap rokok dalam kehamilan tentu saja telah diketahui berdampak sangat berbahaya dalam kehamilan. Meskipun demikian, banyak wanita atau suaminya yang  terus saja merokok walopun dirinya/ isterinya sedang dalam kondisi hamil… istilahnya cuek beibeh. Baru-baru ini ada model baru dalam hal merokok yaitu dikenal dengan istilah populer nge-vape. Vape atau vaping adalah rokok elektronik dimana pabrik yang mengedarkannya memberikan jaminan bahwa nge-vape itu aman bagi kehamilan. Akibatnya di amerika serikat makin banyak wanita/ suaminya yang tadinya sudah berhenti merokok, lalu dapat mainan baru yaitu e-cigs atau rokok elektronik atau vaping. Hal ini menarik perhatian serius para dokter-dokter kandungan amerika serikat yang tergabung dalam organisasi ACOG. Sebuah penelitian yang dipaparkan pada Konferensi Kongres Obstetri dan Ginekolog Amerika (ACOG) di Maryland pada tahun 2015 menunjukkan bahwa akibat omongan pabrik vape menyebabkan sekitar 40 persen wanita hamil percaya bahwa rokok elektronik lebih aman daripada rokok biasa.

Benarkah demikian ?

E-cigs atau vape masih merupakan sistem pengiriman nikotin yang prinsip kerjanya berbeda dari sistem pengiriman nikotin pada rokok biasa. Jadi vape itu mengandung nikotin dan zat nikotin ini dapat menyebabkan adiksi atau ketagihan. Karena vape atau rokok elektrik ini masih mengandung nikotin, maka bahaya bagi kehamilan dan bayi masih mungkin terjadi, bahkan melebihi kecanduan. Konsekuensinya terhadap kehamilan akibat vape antara lain:

  1. kelahiran prematur.
  2. berat badan bayi lahir rendah.
  3. kematian bayi.

Pihak FDA amerika serikat bahkan tidak mengatur tentang boleh tidaknya menghisap vape bagi wanita hamil. Vaping, penghirupan gas dari rokok elektronik ini, tidak ada dalam daftar obat/ zat yang disetujui oleh pihak FDA. Seperti halnya rokok tradisional, semakin cepat Anda berhenti, semakin baik bagi bayi Anda dalam hal risiko yang terkait dengan merokok dalam kehamilan.

Terdapat penelitian yang sangat terkenal mengenai dampak vape bagi kehamilan, yang berjudul The Use of Electronic Cigarettes in Pregnancy: A Review of the Literature yang dimuat dalam jurnal kedokteran Obstet Gynecol Surv. 2018 Sep;73(9):544-549. Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa:

  1. nikotin pda vape memiliki kadar yang sama dengan nikotin yang dihasilkan oleh rokok tradisional/ rokok biasa.
  2. Penelitian ini dilakukan pada hewan (karena tidak boleh diteliti pada manusia hamil sebab sangat berbahaya). dan ternyata memiliki efek samping yang luar biasa pada kehamilan yaitu sebagian besar studi model hewan menunjukkan potensi bahaya bagi janin yang sedang berkembang terutama karena konsumsi nikotin dan bahwa konsumsi nikotin memiliki banyak efek pada sistem kekebalan tubuh, perkembangan saraf, fungsi paru-paru, dan fungsi jantung.
  3. Ada persepsi ngawur yang telah terlanjur berkembang luas dikalangan wanita hamil dan suaminya bahwa e-rokok atau vape atau rokok elektronik aman digunakan selama kehamilan.

Nahhh… hidup itu pilihan… egoisme pribadi juga pilihan… ini hidup anda… anda yang menjalani resikonya… bukan dokter kandungan… keputusan ada ditangan anda.

TULISAN 125. PENYAKIT SYPHILLIS DALAM KEHAMILAN

Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset Treponema pallidum sub-spesies pallidum. Rute utama penularannya melalui kontak seksual; infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital. Penyakit lain yang diderita manusia yang disebabkan oleh Treponema pallidum termasuk frambusia atau patek (subspesies pertenue), pinta (sub-spesies carateum), dan bejel (sub-spesies endemicum).

Ingat… ! Sifilis adalah infeksi yang terutama ditularkan secara seksual. Infeksi sifilis yang tidak diobati pada wanita hamil dapat ditularkan ke janin (sifilis kongenital) setiap saat selama kehamilan atau saat kelahiran. Sifilis kongenital dikaitkan dengan lahir mati, kematian neonatal, dan morbiditas yang signifikan pada bayi. Semua wanita hamil sebaiknya dianjurkan untuk menjalani skrining secara serologis untuk mendeteksi penyakit sifilis sejak awal kehamilan.

Penampilan awal sifilis sulit didiagnosisis secara klinis. Penegakkan diagnosisnya melalui tes darah atau pemeriksaan visual secara langsung menggunakan mikroskop. Pemeriksaan darah adalah cara yang umum digunakan, karena lebih mudah dilakukan. Di Amerika Serikat, sebagian besar negara bagian di sana bahkan mewajibkan skrining sifilis pada saat kunjungan antenatal pertama kali… jadi begitu test hamil positif dan pasien melakukan kontrol ke dokter kandungan, maka secara otomatis pasien hamil harus mau untuk menjalani deteksi dini sifilis dalam kehamilan.

Untuk komunitas dan populasi masyarakat di suatu negara bagian Amerika Serikat yang memiliki prevalensi sifilis tinggi dan untuk wanita berisiko tinggi untuk terjangkit infeksi sifilis maka dianjurkan untuk menjalani tes serologis sifilis dua kali selama trimester ketiga yaitu pada umur kehamilan 28-32 minggu dan diulangi pada saat mendekati persalinan. Sebaiknya wanita yang memiliki kematian janin dalam rahim setelah usia kehamilan 20 minggu dites untuk sifilis.

Skrining untuk infeksi sifilis pada kehamilan terdiri dari dua langkah yaitu:

  1. tes pertama adalah tes antibodi “nontreponemal” – VENEREAL DISEASE RESEARCH LABORATORY (VDRL) atau tes RAPID PALSMA REAGIN (RPR)
  2. tes pendeteksian antibodi “treponemal” – TREPONEMAL PALLIDUM PARTICLE AGGLUTINATION TEST (TPPA/ TPHA).

Wanita hamil dengan hasil seropositif harus dianggap terinfeksi sifilis kecuali terdapat riwayat pengobatan yang adequat dan didokumentasikan dengan jelas dalam catatan medis dan dari hasil pemriksaan ulangan untuk titer antibodi sifilis secara serologis telah menurun secara signifikan. Secara umum, risiko untuk infeksi janin antepartum (dalam rahim) atau sifilis kongenital saat persalinan terkait dengan level/ stadium penyakit  sifilis selama kehamilan, dengan risiko tertinggi terjadi pada stadium primer dan sekunder. Titer serologis nontreponemal wanita hamil secara kuantitatif, terutama jika kadarnya > 1:8, maka mungkin sedang terjadi infeksi sifilis baru dan sedang dalam fase bakteriemia (kuman berjalan dalam darah). Namun demikian, tetap saja risiko infeksi janin masih signifikan pada wanita hamil dengan sifilis stadium laten lanjut walopun titer serologisnya  rendah, dalam hal ini bila wanita hamil belum memperoleh pengobatan yang adequat.

Bila wanita hamil telah diobati secara adequat dan dari hasil follow up titer serologis sifilis stabil dan rendah maka hal demikian tak perlu diberikan pengobatan sifilis lagi. Tetapi bila kadar titer serologisnya meningkat kembali atau setelah pengobatan yang adequat didapatkan kadar titer serologis sifilis tetap tinggi maka menandakan:

  1. infeksi berulang
  2. pengobatan gagal

pengobatan sifilis merupakan pengobatan yang lumayan ada resiko karena kuman sifilis itu kalo dibunuh pakai antibiotika maka kuman yang mati itu menimbulkan racun sehingga dapat menyebabkan reaksi JARISH HERXHEIMER dimana pada wanita hamil lumayan bikin cemas karena dapat menyebabkan kontraksi prematur, lahir prematur, gawat janin dan yang sangat jarang adalah janin game over dalam rahim. Tapi kalo gak diobatin maka janin dan ibunya akan menderita penyakit infeksi sifilis.

Reaksi Jarisch- Herxheimer seringkali dimulai setelah satu jam pengobatan dan bertahan selama 24 jam, dengan gejala demam, nyeri otot, sakit kepala, dan takikardia. Takikardia disebabkan oleh sitokin yang dikeluarkan oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap lipoprotein yang dikeluarkan dari bakteri sifilis yang pecah.

Salah satu pencegahan infeksi sifilis adalah pola kehidupan sex yang sehat dan halal. Suami harus waspada terhadap PELAKOR, isteri juga waspada terhadap PEBINOR.

Apa sih bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyakit sifilis terhadap janin dalam rahim yang dikenal dengan sebutan kongenital syphillis ?

  1. hidrocephalus (kepala besar dan berisi air yang banyak).
  2. Liver janin membesar.
  3. Perut janin membesar dan berisi air.
  4. Kulit bayi terisi air yang dikenal dengan istilah hydrops.
  5. Janin mengalami anemia dalam rahim.

Kalo janin sudah mengalami hal diatas maka tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan selama dalam rahim. Pengobatan tertentu bisa dilakukan setelah bayi lahir misalnya hidrocephalus yang tentu saja mungkin hasilnya tetap tak bisa seperti yang diharapkan.

Wanita hamil yang diketahui menderita syphillis maka disarankan untuk melakukan test HIV. Sifilis terutama ditularkan melalui kontak seksual atau selama kehamilan dari ibu ke janinnya; spiroseta mampu menembus membran mokusa utuh atau ganguan kulit. Oleh karena itu dapat ditularkan melalui mencium area di dekat lesi, serta seks oral, vagina, dan anal. Sekitar 30 sampai 60% dari mereka yang terkena sifilis primer atau sekunder akan terkena penyakit tersebut. Sebagian besar (60%) dari kasus baru di United States of America (USA) terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Penyakit tersebut dapat ditularkan lewat produk darah. Namun, produk darah telah diuji di banyak negara dan risiko penularan tersebut menjadi rendah. Risiko dari penularan karena berbagi jarum suntik tidaklah banyak. Sifilis tidak dapat ditularkan melalui dudukan toilet, aktivitas sehari-hari, bak panas, atau berbagi alat makan serta pakaian.

Bagaimana cara mencegah tertular syphillis ?

  1. Cara yang paling pasti untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual.
  2. Pencegahan yang 100% efektif adalah menikah dengan perawan yang sehat. Jika belum dapat, lampiaskan birahi dengan melakukan masturbasi.
  3. Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan penyakit.
  4. Pastikan toilet yang digunakan higienis, hindari penggunaan toilet duduk di tempat umum.
  5. Segera obati bila ada keluhan seperti di atas.

SUMBER:

  1. Eccleston, K (March 2008). “Primary syphilis”. International journal of STD & AIDS. 19 (3): 145–51. doi:10.1258/ijsa.2007.007258. PMID 18397550
  2. Kent ME, Romanelli F (2008). “Reexamining syphilis: an update on epidemiology, clinical manifestations, and management”. Ann Pharmacother. 42 (2): 226–36. doi:10.1345/aph.1K086. PMID 18212261
  3. “Syphilis – CDC Fact Sheet”. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 16 September 2010.
  4. https://www.cdc.gov/std/tg2015/syphilis-pregnancy.htm
  5. https://en.wikipedia.org/wiki/Jarisch%E2%80%93Herxheimer_reaction
  6. https://id.wikipedia.org/wiki/Sifilis
  7. S. Preventive Services Task, Force (May 2009 19). “Screening for syphilis infection in pregnancy: U.S. Preventive Services Task Force reaffirmation recommendation statement”. Annals of internal medicine. 150 (10): 705–9. PMID 19451577

 

TULISAN 108. KEGUGURAN AKIBAT DARAH SAYA KENTAL… keguguran seri ke 1

KEGUGURAN SERI 1

Kegagalan kehamilan (keguguran) adalah kejadian yang membuat para ibu hamil bagaikan mendengar petir di siang bolong dan kejadian ini terjadi sangat umum dikalangan ibu hamil. Sekitar 15% dari semua kehamilan dapat mengalami kegagalan kehamilan (keguguran). Kegagalan kehamilan berulang (RPL/ keguguran berulang) didefinisikan secara tidak konsisten sebagai 2-3 keguguran berturut-turut sebelum 20 minggu yang dihitung dari periode menstruasi terakhir (HPHT). Keguguran berulang terjadi pada sekitar 1-2% wanita hamil di seluruh dunia. Tempo hari saya pernah berjanji untuk membahas tentang penyakit kekentalan darah yang bikin wanita keguguran maka kali ini penyebab keguguran berulang akan saya batasi pada penyakit kekentalan darah dulu. Ini cerita bersambung ya… jadi ikuti terus postingan dokter cucuk kiuttt hello kitty yang demikian menggemaskan dunia per-facebook-an… sandiaga uno aja lewat…

Sebetulnya apa saja sih penyebab keguguran itu ? kepo nih… okelah akan saya sebutkan beberapa diantaranya:

  1. Faktor genetik
  2. Faktor anatomi
  3. Faktor endokrin (sistem hormon)
  4. Faktor infeksi
  5. Faktor immunologi… nah untuk yang kekentalan darah masuk dalam faktor imunologi dikenal dengan penyakit antiphospholipid syndrome.
  6. Faktor kekentalan darah yang bukan termasuk dalam antiphospholipid syndrome. Bahasa kerennya adalah non-APS thrombophilia.

Janin itu tidak identik dengan ibunya secara genetik karena janin itu dibentuk oleh ayah dan ibu yang secara genetik pasti berbeda (orang lain menikah dengan orang lain). Sehingga sangat masuk akal bila terdapat proses imunologis yang menyebabkan janin dapat diterima oleh sistem imunologi ibunya artinya janin bisa dikandung oleh ibunya, tidak ditolak oleh badan ibu. Oleh sebab itu para ahli meyakini bahwa pada ibu hamil yang mengalami keguguran sangat mungkin terdapat gangguan dalam sistem imunologi ibu dan janin. Nah penyakit anti-phospolipid syndrome ini termasuk dalam kategori gangguan sistem imun yang dapat menyebabkan keguguran berulang kali. Kapan para dokter kandungan mencurigai wanita menderita penyakit APS ? terdapat minimal 1 kriteria klinik dan 1 kriteria laboratorium untuk menunjukkan bahwa wanita menderita APS. Yaitu antara lain:

  1. Kriteria klinis
  2. Bila wanita tersebut mengalami keguguran berulang kali, biasanya lebih dari 3x dan kejadiannya pada umur kehamilan < 10 minggu.
  3. Bila wanita hamil pernah mengalami kejadian janin mati pada umur kehamilan > 10 minggu.
  4. Atau bila wanita hamil itu pernah mengalami penyakit pre-eclampsia berat yang menyebabkan kelahiran premature pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu. Termasuk juga pada wanita hamil yang sering mengalami gangguan aliran darah placenta (placental insuffisiency).
  5. Pernah mengalami penyakit vascular thrombosis, ini biasanya ditandai dengan nyeri yang hebat pada tungkai atau pada bagian tubuh lainnya dan sudah dibuktikan oleh dokter bedah vascular atau dokter penyakit dalam bahwa ini merupakan penyakit akibat sumbatan pembuluh darah (thrombosis).
  6. Kriteria laboratorium
  7. Pada pemeriksaan lab ternyata kadar hormon ACA (Ig G dan Ig M anti cardiolipin antibody) meningkat.
  8. Terdapat pula peningkatan kadar hormon LAC (Ig G dan IgM Lupus anticoagulant)

Sebetulnya bagaimana mekanisme penyakit APS ini dapat menyebabkan keguguran masih belum dapat dimengerti sepenuhnya oleh para dokter kandungan sedunia. Begitu wanita yang sering mengalami keguguran dinyatakan menderita APS maka pengobatan dimulai sejak sebelum hamil. Ada juga obat-obatan yang dimulai sejak awal hamil. Kalo obat-obatan yang dimulai sebelum hamil yaitu aspirin. Sedangkan obat-obatan yang dimulai saat hamil disebut heparin molekul rendah. Ada yang perlu diketahui oleh para wanita muslim yaitu obat-obatan heparin yang diberikan berupa suntikan dalam prosesnya bersentuhan dengan bahan babi. Saat ini sudah ada obat yang sejenis yang tidak berbahan babi tetapi sangat mungkin efek atau manfaat yang dihasilkan berbeda dari obat aslinya (yang bersentuhan dengan bahan babi) karena bahan dasar obatnya berbeda jenisnya walopun tujuannya mirip. Obat-obatan tersebut di atas dinyatakan aman bagi ibu hamil dan janin dalam kandungan.

Oke deh cukup sekian… terima kasih… kamsiah.

TULISAN 110. AKU KEPUTIHAN, PENGARUH GAK KE JANINKU ?

KEPUTIHAN DALAM KEHAMILAN

Memasuki tahun baru 2019 ini juga tahun-tahun sebelumnya dan sebelumnya dan sebelumnya lagi dan sebelumnya sebelumnya lagi… ????? Saya seringkali mendapatkan keluhan dari ibu-ibu hamil yang mengalami keputihan. Ada yang mengeluhkan netes-netes, seperti air, pekat, bau amis, dan lain-lain. Kata suami kok jadi becek….

Halo… halo… halo… om telolet om… dokter cucuk yang katanya kiutttss hello kitty…. apa yang harus saya lakukan ?

Sebetulnya keputihan pada wanita hamil itu seringkali terjadi dan hampir semua wanita hamil mengalami keputihan saat hamil. Hal tersebut normal bila keputihannya TIDAK BERBAU, berwarna PUTIH semu-semu kekuningan, biasanya diketahui ada nempel di celana dalam ibu hamil.

Keputihan pada wanita hamil disebabkan oleh tingginya kadar hormon estrogen pada wanita hamil dan juga disebabkan oleh peningkatan aliran darah ke daerah vagina selama kehamilan. Hal ini akan menyebabkan vagina dan mulut rahim memproduksi cairan lendir lebih banyak saat hamil, bahkan bakteri baik hati dalam vagina juga ikutan memproduksi cairan lendir.

Semua bertujuan untuk melindungi kehamilan dari proses infeksi yang datangnya dari luar. Sering juga lo ibu hamil baru mengalami keputihan menjelang persalinan (memasuki hamil tua), tapi biasanya jumlahnya agak lebih banyak daripada saat hamil muda.

Pada awal-awal kehamilan, produksi lendir oleh sel-sel mulut rahim akan menutup/ menyumbat pintu leher rahim yang dikenal dengan istilah MUCOUS PLUG (SUMBATAN LEHER RAHIM = SLR). Ini tujuannya untuk melindungi kehamilan dari infeksi kuman-kuman jahat yang ada di kemaluan ibu hamil.

Saat kehamilan memasuki hamil tua apalagi saat menjelang persalinan, leher rahim sedikit demi sedikit akan memendek dan menipis serta membuka… nahhhh ini akan menyebabkan SLR lepas dan akibatnya timbulah keputihan yang warnanya sepertinya putih telur atau lendir bening. Kadang-kadang menjelang masa-masa persalinan keputihan itu menjadi lengket seperti getah dan disertai dengan sedikit semu-semu darah.

HAL-HAL APA SAJA YANG HARUS DIWASPADAI BILA KEPUTIHAN SAAT HAMIL ?

Kalo ibu-ibu hamil mengalami keputihan yang banyak, walopun jernih, maka ibu hamil harus sesegera mungkin ke dokter kandungan terdekat untuk diperiksa apakah itu keputihan normal ataukah ketuban pecah.

1. Bila umur kehamilan ibu hamil belum mencapai 36-37 minggu dan ibu hamil mengalami keputihan yang berbeda daripada biasanya seperti jumlahnya banyak, lebih encer daripada biasanya, disertai dengan lendir darah, bergetah kental, kecoklatan, maka itu tanda akan melahirkan. Dan ingat itu belum masuk hamil tua, sehingga ibu hamil harus segera ke dokter kandungan supaya diperiksa apakah tanda-tanda itu masuk kategori sedang dalam proses terancam lahir premature atau tidak.

2. Bila ibu hamil mengalami keputihan yang bikin ibu/ suami risih saat berhubungan, seperti nyeri saat hubungan, nyeri saat pipis, gatal, rasa seperti terbakar, baunya betul-betul beda daripada biasanya, vagina ibu tampak agak bengkak kemerahan seperti meradang, maka segera ke dokter kandungan terdekat karena mungkin saja disitu ada infeksi bakteri jahat atau jamur jahat. Bisa juga setelah berhubungan suami-isteri lelehan sperma suami yang keluar dari vagina itu menimbulkan bau yang sangat tidak enak berbeda daripada biasanya, sangat mungkin itu akibat infeksi vagina.

3. Awas-awas kalo keputihan ibu hamil berwarna kehijauan, kuning, abu-abu… bukan warna balonku ada 5 looo yaaaa…. biasanya juga berbau menyengat, maka ibu hamil harus segera ke dokter kandungan terdekat untuk diperiksa karena sangat mungkin itu infeksi bakteri jahat yang sudah terkenal kejahatannya dikalangan para bakteri dengan julukan bakteri trikomonas, seringkali ini dapat ditularkan secara hubungan sex. Mulut rahim/ vagina/ dinding vagina bisa berwarna kemerahan, iritasi, gatal, dan sangat tidak nyaman/ nyeri saat ibu hamil pipis atau hubungan sex dengan suami.

4. Jangan coba-coba menggunakan obat-obatan sebelum ibu hamil periksa ke dokter kandungan karena antara keputihan normal dan penyakit keputihan saat hamil tidak bisa dibedakan oleh masyarakat awam sehingga dapat merugikan ibu hamil bila menggunakan obat sembarangan. Apa sih kerugiannya ? terbunuhnya bakteri baik hati dalam vagina yang berfungsi untuk melindungi kehamilan dari kuman-kuman jahat yang lain. Jangan percaya dibohongi pake iklan obat… macem-macem itu… jadi jangan malas untuk segera berobat ke dokter kandungan terdekat.

BAGAIMANA CARA UNTUK MENGHENTIKAN KEPUTIHAN SAAT HAMIL ?

Tidak ada cara yang bisa menghentikan keputihan normal dalam kehamilan. Ingat ya… keputihan normal… karena itu bawaan kehamilan. Yang bisa ibu-ibu hamil lakukan adalah memakai panty liner non perfumed (tidak boleh wangi) untuk menyerap cairan keputihan tersebut sehingga tidak risih dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Jangan memasukkan bahan apapun kedalam vagina.

Ibu-ibu hamil sebaiknya makin meningkatkan minum jus buah dan susu. makan sup-sup daging/ sup-sup ayam dan sayuran. Hal ini berguna untuk menjaga kesehatan dan mencegah infeksi pada kehamilan. Celana dalam harus kering, ganti panty liner sesering mungkin, jangan biarkan becek/ lembab.

Untuk menjaga kesehatan organ kewanitaan selama hamil maka ibu hamil sebaiknya memakai celana dalam berbahan katun yang lembut. Hindari bahan sintetis dan hindari yang berwarna gelap. Bila pipis lakukan cebok dari arah depan menuju ke arah belakang, dari arah vagina menuju ke arah lubang dubur sehingga vagina tidak bisa terinfeksi oleh kuman-kuman jahat yang suka ngumpul rundingan disekitar dubur untuk melakukan MAKAR pada bakteri baik hati dalam vagina. Kuman-kuman jahat tersebut suka sekali mengganggu/ melakukan MAKAR pada kehamilan.

Jangan berendam di dalam air sabun, nahhh… ibu-ibu hamil yang dirumahnya ada bathtub tidak boleh berendam ya karena dapat membunuh bakteri baik hati. Jangan juga pake berbagai macam cairan pembersih vagina. Jangan mau dibohongi pake iklan cairan pewangi/ pelindung/ perapat vagina… macem-macem itu… jadi jangan sungkan untuk berkata TIDAK pada iklan.

Kalo ke mall, saat selesai pipis, jangan pake tissue toilet, banyak kuman disitu, pake saja aqua kecil untuk cebok. Jangan pake vaginal douching selama hamil, bisa bikin bakteri baik hati kelenger dan beberapa dokter kandungan melarang tiupan udara dari alat douching tersebut karena dipercaya dapat menyebabkan terbukanya hubungan antara dunia luar dan tubuh ibu hamil bagian dalam dan dikuatirkan menimbulkan masalah yang serius bagi kesehatan ibu hamil.

Jangan sering makan makanan berminyak, berkolesterol tinggi, minuman bersoda, kurangi makanan merangsang seperti pedas, asam, kecut, kurangi minum teh, kurangi kopi, dan jangan minum alkohol/ merokok baik aktif maupun pasif.

TULISAN 103. TEST LABORATORIUM UNTUK DETEKSI INFEKSI SELAMA KEHAMILAN

Selama hamil, Anda harus ditest laboratorium untuk hepatitis B, sifilis, streptokokus grup B, Chlamydia trachomatis, gonore dan human immunodeficiency virus (HIV). Semua infeksi ini dapat membahayakan janin dalam kandungan jika sampai tertular infeksi yang berasal dari ibu hamil. Jika ibu hamil ditest laboratorium dan ternyata menderita salah satu dari infeksi ini, pengobatan biasanya dapat mencegah penularan terhadap janin dalam kandungan sehingga diharapkan janin dalam kandungan tidak sampai menderita sakit akibat infeksi tersebut.

Anda juga harus ditest laboratorium untuk penyakit rubella (campak Jerman) jika Anda tidak tahu apakah Anda kebal terhadap penyakit rubella. Bila ternyata dari hasil lab diketahui bahwa ibu hamil tidak kebal terhadap penyakit rubella maka ibu hamil wajib menghindari semua orang yang diduga menderita rubella. Jika Anda tidak kebal, maka Anda bisa mendapatkan vaksin rubella setelah bayi Anda lahir (tidak boleh suntik vaksin rubella saat sedang hamil) sehingga Anda tidak akan mendapatkan rubella di masa yang akan datang. Di beberapa negara, ibu hamil juga ditest untuk mengetahui kekebalannya terhadap penyakit cacar. Dan bila diketahui ternyata ibu hamil tersebut tak kebal terhadap penyakit cacar maka tidak boleh dekat-dekat dengan orang siapapun yang menderita cacar, walopun suami sendiri sekalipun. Tergantung pada riwayat kesehatan Anda, tes juga dapat dilakukan untuk infeksi lain seperti cytomegalovirus (CMV) atau parvovirus.

Apakah ibu hamil harus mengikuti tes-test laboratorium ini selama kehamilan ?

Anda bisa saja mendapatkan infeksi-infeksi ini bertahun-tahun yang lalu dan anda tidak tahu kalau terkena infeksi tersebut. Kebanyakan orang yang mengalami infeksi ini tidak tahu bahwa mereka memilikinya karena seringkali penyakit-penyakit diatas tidak memiliki gejala. Tes-tes ini ditawarkan kepada ibu hamil untuk kesehatan ibu hamil sendiri dan kesehatan janin dalam kandungan. Ibu hamil dapat memilih untuk tidak melakukan tes-tes laboratorium untuk infeksi tersebut, namun keputusan ini bisa merugikan janin dalam kandungan.